Review Fall 2: Deadpoint, Bikin Tegang tapi Ceritanya Kurang Nendang

- Fall 2: Deadpoint mengikuti Jax dan Luce yang mendaki Gunung Kwan, Thailand, untuk mengenang Shiloh, tetapi longsoran batu menjebak mereka di jalur ekstrem Siku Setan.
- Sekuel ini menghadirkan lokasi dan karakter baru, namun naskah dinilai terburu-buru, motivasi karakter kurang meyakinkan, serta drama duka Jax belum membangun empati kuat.
- Adegan ketinggian menjadi kekuatan utama lewat visual pendakian yang imersif dan menegangkan, meski dialog, cacat logika, serta plot twist yang dipaksakan mengurangi dampak cerita.
Menyusul kesuksesan film pertamanya, Fall 2: Deadpoint (2026) kembali membawa kita ke situasi yang membuat telapak tangan berkeringat. Jika Fall (2022) mengandalkan menara komunikasi sebagai arena survival, sekuelnya memilih lanskap pegunungan Thailand yang lebih ekstrem.
Disutradarai Spierig Bersaudara, dengan naskah dari sutradara pertamanya, Scott Mann, Fall 2 menghadirkan karakter baru yang harus berhadapan dengan ketinggian, rasa takut, sekaligus trauma masa lalu. Hasilnya memang bukan film thriller yang menawarkan kedalaman cerita, tetapi cukup menegangkan dan memacu adrenalin. Berikut ulasan kelebihan dan kekurangannya!
Sinopsis Fall 2: Deadpoint (2026)
Empat tahun setelah kejadian di Fall (2022), Fall 2: Deadpoint kini mengikuti petualangan berbahaya di Gunung Kwan, Thailand. Ceritanya berfokus pada Jax Hunter (Harriet Slater) yang masih berduka setelah kematian saudarinya, Shiloh Hunter (Virginia Gardner). Saat berusaha menjual barang-barang peninggalan Shiloh, Jax bertemu Luce (Arsema Thomas), teman dekat kakaknya.
Luce kemudian mengajak Jax melakukan pendakian sebagai cara untuk mengenang Shiloh sekaligus menghadapi rasa kehilangan mereka. Salah satu tantangan yang ingin mereka taklukkan adalah Siku Setan, jalur ekstrem berupa papan dan pijakan di sisi gunung yang berada di ketinggian ribuan kaki. Namun, perjalanan tersebut berubah menjadi mimpi buruk ketika longsoran batu menghancurkan jalur pendakian mereka. Mampukah Jax dan Luce bertahan hidup sembari mencari jalan keluar di tengah ketinggian?
Fall 2: Deadpoint20263/5Directed by Peter Spierig, Michael SpierigProducer David Haring, James Harris, Mark Lane, Scott Mann
Writer Jonathan Frank, Scott Mann
Age Rating D17
Genre Psychological thriller, survival
Duration 97 Minutes
Release Date 16 September
Theme Survival thriller, high-altitude environments, high anxiety, acrophobia
Production House Lionsgate
Where to Watch Cinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia
Cast Harriet Slater, Arsema Thomas, Tom Brittney, Einar Haraldsson, Jordan Coleman, Juju Journey Brener
Trailer Fall 2: Deadpoint (2026)
Cuplikan film Fall 2: Deadpoint (2026)
1. Premis menarik, tetapi naskahnya kurang menggigit
Salah satu hal menarik dari Fall 2 adalah keputusan untuk tidak copy-paste formula film pertama. Jika sebelumnya penonton melihat dua perempuan terjebak di atas menara, kali ini Spierig Bersaudara membawa cerita ke arena pendakian gunung. Premis tentang seseorang yang mencoba mengatasi proses duka (grieving) melalui aktivitas ekstrem sebenarnya cukup menarik.
Jax kehilangan Shiloh dan masih dihantui rasa bersalah atas kata-kata terakhir yang ia ucapkan kepada saudarinya. Menghadapi ketakutan lewat pendakian seharusnya bisa menjadi perjalanan emosional yang kuat. Sayangnya, film tidak selalu berhasil membuat keputusan Jax terasa masuk akal. Di satu sisi, ia digambarkan sangat rentan. Trauma tersebut bahkan muncul lewat mimpi buruk dan sesak napas. Namun di sisi lain, Jax justru memilih menghadapi tantangan yang secara terang-terangan bisa membunuhnya.
Pacing-nya juga terasa terlalu cepat. Ada sejumlah keputusan karakter yang terasa dibuat agar cerita bisa langsung sampai ke lokasi utama. Akibatnya, perkembangan hubungan Jax dan Luce tak sekuat yang seharusnya. Harriet Slater dan Arsema Thomas sebenarnya mampu membuat kedua karakter ini cukup menarik untuk diikuti. Hanya saja, naskahnya gagal membuat kita bisa sepenuhnya berempati kepada mereka.
2. Adegan-adegan di tempat tinggi kembali jadi senjata utama
Kalau ada satu hal yang membuat Fall 2 tetap layak ditonton, jawabannya adalah adegan-adegan yang memicu akrofobia. Sutradara paham betul bahwa penonton datang untuk merasakan ketegangan ketika dua karakter tersebut berada di tempat yang seharusnya tidak mereka pijak. Salah satu bagian paling efektif adalah ketika Jax dan Luce harus melangkah melalui batang-batang pendakian tanpa papan yang kuat.
Adegan tersebut terasa cukup imersif. Kamera membuat jarak antara karakter dan tanah di bawah mereka terasa mengerikan, sementara setiap langkah menjadi semacam permainan tebak-tebakan. Apakah pijakannya kuat? Apakah mereka akan terpeleset? Apa yang terjadi kalau salah satu dari mereka panik? Ketegangan semacam inilah yang membuat Fall 2 terasa menyenangkan sebagai popcorn movie. Kita tidak harus terlalu memikirkan kompleksitas ceritanya untuk ikut deg-degan melihat karakter berusaha bertahan hidup.
Setelah melewati beberapa adegan ekstrem, film juga belum sepenuhnya membiarkan penonton merasa aman. Ada plot twist yang mencoba mengubah cara kita melihat karakter dan kejadian sebelumnya. Memang, twist tersebut terasa agak dipaksakan, tetapi cukup untuk menjaga film tetap bergerak sampai akhir.
Sayangnya, ketika film mulai mengandalkan melodrama dan dialog, ketegangannya ikut turun. Ada dialog yang terasa membosankan, keputusan karakter yang membingungkan, hingga beberapa cacat logika yang justru membuat kita ingin tertawa kecil.
3. Apakah Fall 2 direkomendasikan untuk ditonton?
Sebelum menonton Fall 2: Deadpoint, coba rendahkan dulu ekspektasimu karena film ini bukanlah thriller psikologis yang kompleks seperti Vertigo (1958). Film ini lebih cocok diposisikan sebagai tontonan survival ringan yang mengandalkan adrenaline rush. Sebagai sekuel, film ini patut diapresiasi karena tidak sekadar menduplikasi film pertamanya.
Premisnya masih memiliki DNA yang sama, tetapi lokasi dan karakter baru memberikan ruang untuk mengeksplorasi jenis ketakutan yang berbeda. Sayangnya, kedalaman emosional yang coba dibangun melalui hubungan Jax dan mendiang Shiloh belum sepenuhnya berhasil. Pergeseran dari thriller survival yang realistis menuju melodrama juga membuat beberapa bagian terasa kurang natural.
Meski begitu, ketika berada di atas gunung, film ini tahu betul apa yang harus dilakukan. Adegan pendakian, ketinggian ekstrem, dan situasi serba salah cukup efektif membuat penonton ikut menahan napas. Jadi, ya, Fall 2: Deadpoint direkomendasikan untuk ditonton, terutama jika kamu mencari film thriller ringan yang bisa memberikan sensasi tegang tanpa perlu terlalu banyak berpikir.
Namun, jangan berharap mendapatkan film dengan cerita yang sangat dalam. Datang saja untuk menikmati perjalanan berbahaya Jax dan Luce di Gunung Kwan, Thailand. Jika sudah nonton, jangan lupa bagikan pendapatmu. Apakah sekuelnya berhasil memberikan ketegangan yang sama seperti film pertama? Tulis di kolom komentar, ya!





















