Setelah menonton sampai habis, kisah yang dihadirkan dalam film ini terbilang cukup haru. Saya harus akui hati terasa tersentuh ketika melihat bagaimana lika-liku perjalanan rumah tangga yang dihadapi Fanny dan Hajime hingga harus menghadapi berbagai ujian berat. Namun, kisah yang disuguhkan dalam film hanya sebatas membuat perasaan tersentuh dan belum mampu mengundang saya benar-benar larut hingga menitikkan air mata.
Selama menonton dari bangku bioskop, hal yang cukup terlihat adalah alur cerita yang terasa melompat-lompat. Sebenarnya, alur semacam ini bukan hal yang aneh di dunia perfilman, apalagi jika kisahnya diangkat secara langsung dari buku maupun kisah nyata. Saya pun bisa mengerti film ini menggunakan alur jumping untuk membuat penonton lebih fokus mengikuti momen-momen penting Fanny dan Hajime. Terlebih lagi, cerita film ini harus merangkum perjalanan rumah tangga mereka selama bertahun-tahun ke dalam durasi hampir dua jam.
Walau demikian, saya merasakan transisi dari satu konflik ke konflik lainnya berlangsung terlalu cepat. Saat mulai memahami satu persoalan yang dihadapi Fanny dan Hajime, film sudah berpindah ke permasalahan berikutnya, seolah-olah keduanya harus menghadapi berbagai masalah secara bertubi-tubi.
Keputusan untuk menyorot banyak momen penting memang membuat perjalanan Fanny dan Hajime terasa lengkap dalam cerita film. Di sisi lain, cara tersebut justru membuat alurnya menjadi kurang mengalir. Pada akhirnya, saya sebatas memahami beratnya perjalanan yang mereka lalui, tetapi tidak selalu mendapatkan kesempatan untuk benar-benar terlarut dalam setiap konflik yang disuguhkan dalam cerita.