5 Alasan Kejahatan Baek Ki Tae akan Terungkap di Made in Korea

- Obsesi kekuasaan membuatnya terlalu serakah, mengambil risiko besar dan memperluas bisnis narkoba.
- Terlalu banyak orang yang menyimpan dendam, menciptakan peluang untuk membuka rahasia besar.
- Jaksa Jang Geon Young tidak bisa dibeli atau diintimidasi, konsistensinya akan menemukan celah yang selama ini ditutupi Baek Ki Tae.
Baek Ki Tae (Hyun Bin) bukan kriminal yang ceroboh. Ia bergerak rapi, penuh perhitungan, dan berlindung di balik statusnya sebagai agen KCIA dalam drakor Made in Korea. Selama bertahun-tahun, ia berhasil memanfaatkan sistem hukum, jaringan elite, dan kekacauan politik era 1970-an untuk membangun kerajaan kejahatannya tanpa tersentuh.
Namun, Made in Korea sejak awal memberi sinyal bahwa kejahatan sebesar itu tidak mungkin tersembunyi selamanya. Semakin tinggi Baek Ki Tae membangun kekuasaan, semakin banyak celah yang tak bisa ia kendalikan. Ada faktor-faktor struktural, emosional, dan manusiawi yang perlahan mengarah pada satu kesimpulan, kejahatannya hanya menunggu waktu untuk terbongkar.
Berikut lima alasan kuat mengapa kejahatan Baek Ki Tae pada akhirnya akan terungkap dalam drakor Made in Korea.
1. Obsesi kekuasaan membuatnya terlalu serakah

Di awal, Baek Ki Tae bergerak dengan kehati-hatian ekstrem. Ia memilih target, menyusun alibi, dan memastikan setiap langkah punya lapisan perlindungan. Namun, seiring bertambahnya kekuasaan, ambisinya berubah menjadi obsesi.
Ia tidak lagi puas sekadar aman. Ia ingin dominan, ditakuti, dan diakui. Dalam proses itu, ia mulai mengambil risiko yang lebih besar, memperluas bisnis narkoba, menyingkirkan terlalu banyak orang, dan menciptakan konflik terbuka. Keserakahan inilah yang menjadi awal kehancurannya. Semakin besar jaringan kejahatan, semakin sulit menutup semua jejak.
2. Terlalu banyak orang yang menyimpan dendam

Kejahatan Baek Ki Tae tidak berdiri di ruang hampa. Setiap langkahnya menciptakan korban, bawahan yang dikorbankan, mitra yang dikhianati, dan orang-orang yang dipaksa bungkam. Dendam-dendam kecil ini mungkin tampak tidak berbahaya, tetapi jumlahnya terus menumpuk.
Dalam dunia politik dan kriminal, satu orang yang retak sudah cukup untuk membuka rahasia besar. Semakin banyak orang yang merasa dirugikan, semakin besar peluang seseorang memilih berbicara demi menyelamatkan diri sendiri. Baek Ki Tae bisa mengendalikan sistem, tetapi tidak sepenuhnya bisa mengendalikan hati manusia.
3. Jaksa Jang Geon Young tidak bisa dibeli atau diintimidasi

Salah satu kesalahan terbesar Baek Ki Tae adalah menganggap semua orang bisa dikendalikan dengan kekuasaan atau ancaman. Jang Geon Young (Jung Wo Sung) hadir sebagai anomali dalam dunia yang korup. Ia tidak bergerak dengan kompromi, tidak tertarik pada jabatan, dan tidak takut kehilangan apa pun.
Keuletan Jang Geon Young bukan hanya soal hukum, tetapi soal moral. Ia tidak mencari kemenangan cepat, melainkan kebenaran jangka panjang. Sosok seperti ini adalah mimpi buruk bagi kriminal sistemik. Cepat atau lambat, konsistensinya akan menemukan celah yang selama ini ditutupi Baek Ki Tae.
4. Relasi beracunnya mulai saling menghancurkan

Baek Ki Tae membangun kekuasaannya lewat relasi transaksional, dengan Bae Geum Ji (Cho Yeo Jeong), Cheon Seok Jung (Jung Sung Il), hingga jaringan kriminal Jepang. Masalahnya, relasi yang dibangun atas kepentingan semata tidak pernah stabil.
Ketika satu pihak merasa dirugikan, loyalitas langsung runtuh. Setiap relasi beracun ini menyimpan potensi pengkhianatan. Semakin kompleks jejaringnya, semakin besar kemungkinan konflik internal yang tak bisa dikendalikan. Dalam dunia Baek Ki Tae, tidak ada persahabatan sejati, hanya kepentingan yang menunggu saat untuk berbalik arah.
5. Sistem yang rusak selalu meninggalkan bukti

Meski Baek Ki Tae lihai memanipulasi hukum, sistem yang korup justru cenderung menyimpan terlalu banyak jejak. Dokumen dipalsukan, laporan dimanipulasi, alur dana disamarkan, tetapi tidak pernah benar-benar hilang.
Sejarah menunjukkan bahwa kejahatan terorganisir sering terbongkar bukan karena satu bukti besar, melainkan akumulasi detail kecil yang akhirnya saling terhubung. Made in Korea menggambarkan bagaimana sistem yang ia manfaatkan perlahan berubah menjadi jebakan bagi dirinya sendiri.
Kejahatan Baek Ki Tae akan terungkap bukan karena ia bodoh, tetapi karena ia terlalu yakin bisa mengendalikan segalanya. Made in Korea menegaskan satu hal, bahwa kekuasaan yang dibangun di atas kebohongan tidak pernah benar-benar aman. Cepat atau lambat, sistem yang ia pelintir akan menuntut harga, dan Baek Ki Tae adalah orang pertama yang harus membayarnya.



















