Mengapa Baek Ki Tae Bukan Villain Biasa di Made in Korea?

- Baek Ki Tae adalah agen KCIA yang memanfaatkan celah prosedural dan dalih operasi rahasia untuk melakukan kejahatannya.
- Latar belakang kemiskinan, status sebagai zainichi, dan tanggung jawab menghidupi adiknya membentuk mentalitas bertahan hidup yang ekstrem.
- Baek Ki Tae percaya bahwa apa yang ia lakukan perlu, bahkan berguna, membuat kejahatannya terasa sistemik dan sulit dibantah secara moral.
Dalam banyak drama kriminal, villain sering digambarkan sebagai sosok yang jelas jahat, kejam, ambisius, dan berdiri berseberangan secara tegas dengan hukum. Namun, Made in Korea memilih jalur yang lebih gelap dan tidak nyaman lewat karakter Baek Ki Tae (Hyun Bin). Ia bukan penjahat yang datang dari luar sistem, melainkan lahir, tumbuh, dan bergerak di dalamnya.
Baek Ki Tae tidak sekadar melawan hukum, tetapi memanfaatkan hukum sebagai alat. Ia tidak tampil sebagai monster tanpa nurani, melainkan sebagai manusia dengan sejarah luka, ambisi rasional, dan pembenaran moral yang terasa masuk akal. Berikut lima alasan yang membuatnya bukan sekadar villain biasa, melainkan refleksi mengerikan tentang bagaimana kejahatan bisa tumbuh subur di bawah nama negara dalam drakor Made in Korea.
1. Bekerja di dalam sistem, bukan di luar hukum

Berbeda dari kriminal konvensional, Baek Ki Tae adalah agen KCIA, simbol resmi negara dan keamanan nasional. Status ini membuat posisinya unik sekaligus berbahaya. Ia tidak perlu bersembunyi dari hukum karena ia adalah bagian dari sistem yang seharusnya menegakkannya.
Sebagian besar kejahatan Baek Ki Tae dilakukan dengan memanfaatkan celah prosedural dan dalih operasi rahasia. Ia tidak menghancurkan sistem hukum secara frontal, melainkan mengendalikannya dari balik meja. Villain seperti ini sulit dilawan karena ia selalu selangkah lebih dekat dengan pusat kekuasaan.
2. Motifnya berangkat dari trauma, bukan sekadar keserakahan

Baek Ki Tae bukan sosok yang terlahir dari kemewahan dan pilihan mudah. Latar belakang kemiskinan, status sebagai zainichi, serta tanggung jawab menghidupi dua adiknya membentuk mentalitas bertahan hidup yang ekstrem. Dunia baginya sejak awal adalah arena ketidakadilan.
Namun, yang membuatnya berbeda adalah bagaimana trauma itu diolah. Ia tidak berhenti pada keinginan bertahan, tetapi bertransformasi menjadi obsesi menguasai. Kekuasaan baginya bukan kemewahan, melainkan jaminan agar tak pernah diinjak lagi. Di titik inilah, korban berubah menjadi pelaku, tanpa sepenuhnya kehilangan logika.
3. Punya pembenaran moral yang terstruktur

Villain biasa tahu bahwa dirinya jahat. Baek Ki Tae justru percaya bahwa apa yang ia lakukan perlu, bahkan berguna. Produksi narkoba ia bingkai sebagai strategi ekonomi, ekspor ilegal ke Jepang ia anggap kontribusi devisa negara, manipulasi hukum ia sebut sebagai bagian dari stabilitas nasional.
Pembenaran ini membuat kejahatannya terasa sistemik, bukan impulsif. Ia tidak bergerak dengan emosi sesaat, melainkan dengan kalkulasi jangka panjang. Bahayanya terletak pada kemampuannya mengubah kejahatan menjadi “kebijakan tak resmi” yang sulit dibantah secara moral.
4. Tidak bergantung pada kekerasan semata

Baek Ki Tae memang tidak ragu menggunakan kekerasan, penyiksaan, bahkan pembunuhan. Namun, itu bukan senjata utamanya. Senjata terkuatnya adalah manipulasi, narasi, relasi, dan sistem.
Ia memanfaatkan orang-orang di sekitarnya sebagai pion, bawahan, mitra bisnis, bahkan penegak hukum. Ketika satu pihak jatuh, ia selalu punya kambing hitam lain. Villain seperti ini lebih berbahaya karena kerusakan yang ditinggalkan tidak selalu terlihat sebagai tindak kriminal, melainkan sebagai “konsekuensi sistem”.
5. Ia adalah cermin gelap negara, bukan musuh tunggal

Hal yang membuat Baek Ki Tae benar-benar berbeda adalah posisinya sebagai simbol, bukan anomali. Ia bukan satu-satunya yang rusak, melainkan produk dari sistem yang membiarkan ambisi tumbuh tanpa kontrol moral.
Melalui Baek Ki Tae, Made in Korea tidak sekadar menceritakan kisah penjahat, tetapi mengkritik negara yang rela mengorbankan etika demi kemajuan. Ia menjadi cermin gelap bahwa kejahatan paling berbahaya bukanlah yang melawan negara, melainkan yang bekerja atas namanya.
Baek Ki Tae bukan villain biasa karena ia tidak meminta simpati, tetapi memancing pemahaman. Ia tidak memaksa penonton membencinya, melainkan mengajak bertanya, sejauh mana sistem ikut bertanggung jawab atas monster yang diciptakannya sendiri? Made in Korea menjawab pertanyaan itu dengan dingin, bahwa terkadang villain terbesar bukan individu, melainkan struktur yang memilih diam.



















