Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Lagu KPop yang Kritik Objektifikasi Perempuan, Merugikan!

5 Lagu KPop yang Kritik Objektifikasi Perempuan, Merugikan!
BLACKPINK dan i-dle (instagram.com/blackpinkofficial | instagram.com/official_i_dle)

Objektifikasi perempuan adalah saat perempuan diperlakukan dan dipandang sebagai objek, bukan manusia yang mempunyai pikiran, perasaan, dan kemauan sendiri. Situasi merugikan bagi perempuan itu perlu dianggap sebagai isu serius. Terutama, pada Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 8 Maret.

Kritik tentang objektifikasi perempuan sebenarnya telah dibahas dalam deretan lagu KPop berikut ini. Liriknya mengajak para perempuan untuk tidak menggantungkan nilai diri berdasarkan pandangan orang lain yang gemar mengobjektifikasi mereka. Yuk, simak agar kamu lebih aware atas isu ini!

1. "No" - CLC

cuplikan MV "No"
cuplikan MV "No" (youtube.com/1theK (원더케이))

“No” dari CLC menyoroti tuntutan masyarakat terhadap perempuan terkait penampilan fisik mereka. Mereka kerap dianggap tak menarik jika tidak memenuhi gaya feminin seperti yang ditetapkan dalam standar kecantikan. Tak jarang, mereka bahkan menuai kritik jika bergaya sembarangan.

Maka dari itu, “No” mengajak kita sebagai perempuan tetap menjadi diri sendiri. Meskipun banyak orang berekspektasi kita menunjukkan kesan seksi atau menggemaskan, kita tidak wajib memenuhi. Label polos, seksi, dan imut itu juga mengobjektifikasi karena memandang perempuan sebagai citra, bukan individu. Padahal, perempuan perlu dinilai dari karakternya.

2. "Tally" - BLACKPINK

cover lagu "Tally"
cover lagu "Tally" (youtube.com/BLACKPINK)

“Tally” dari BLACKPINK mengungkap tentang perempuan sering dituntut untuk hidup sesuai penilaian atau standar moral dari orang lain. Perempuan yang dinilai terlalu bebas akan langsung mendapat penghakiman dari banyak orang. Padahal, standar moral yang sama tak ditetapkan pada laki-laki.

Lagu ini mengingatkan perempuan bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri. Orang lain tak berhak meminta mereka untuk berubah demi memenuhi standar yang mengikat. Selama mereka tak menyakiti orang lain, maka perempuan bebas menjalani hidup sesuai keinginannya. Selain itu, perempuan tak pantas menerima slut-shaming hanya karena bertingkah bebas seperti laki-laki.

3. "Nxde" - i-dle

cuplikan MV "Nxde"
cuplikan MV "Nxde" (youtube.com/@official_i_dle)

“Nxde” dari i-dle menggunakan referensi dari figur Marilyn Monroe yang dipuja, tapi juga direduksi sebagai simbol seks. Liriknya diawali dengan pernyataan bahwa perempuan sering kali diragukan kepandaiannya dan dianggap bodoh, hanya karena dinilai memiliki daya tarik fisik mengesankan.

Liriknya juga menyindir orang yang hanya tertarik melihat tubuh perempuan dan menganggap mereka sebagai produk untuk dilihat. Bahkan, perempuan yang tampil tanpa busana di film juga hanya dianggap objek yang seksi alih-alih sebagai cara mengekspresikan nilai artistik dalam adegannya.

Lirik lagu ini juga menyoroti masyarakat yang memikirkan hal vulgar hanya karena mendengar kata nude yang berarti telanjang. Padahal, tiap manusia terlahir dalam keadaan tanpa busana secara alami. Lagu ini pun mengajak kita untuk mengubah cara berpikir dengan memandang perempuan sebagai manusia utuh, bukan objek visual.

4. "Tomboy" - i-dle

cuplikan MV "Tomboy"
cuplikan MV "Tomboy" (youtube.com/@official_i_dle)

“Tomboy” dari i-dle menyuarakan perempuan yang dipaksa mengikuti standar feminin bak boneka barbie untuk menyenangkan laki-laki. Seolah-olah, mereka hanya objek, alih-alih manusia utuh. Bahkan, pihak pasangan akan cenderung bersikap sinis saat melihat perempuan tak mengikuti preferensinya.

Oleh karena itu, lagu ini mengajak perempuan untuk bersikap sesuka hati tanpa perlu mengikuti label gender yang membatasi bagaimana perempuan harus bersikap. Mereka bebas menari, bergaul dengan teman, bahkan merokok tanpa mendengarkan penghakiman orang lain. Lalu, perempuan tak harus kehilangan identitas diri demi hal yang disebut cinta.

5. “I ≠ DOLL” - Yunjin LE SSERAFIM

cuplikan MV "I ≠ DOLL"
cuplikan MV "I ≠ DOLL" (youtube.com/LE SSERAFIM)

“I ≠ DOLL” dari Yunjin menyindir publik yang sering kali merasa berhak memperlakukan artis perempuan selayaknya produk visual hanya karena mereka berkarier di industri hiburan. Sebab, berat badan mereka kerap dihakimi. Begitu pula dengan tuduhan bahwa idol hanya mencari uang dari visualnya belaka.

Lagu ini mengingatkan kita, bahwa idol perempuan bukanlah boneka yang keberadaannya hanya untuk dilihat dan dinilai. Mereka juga manusia yang punya suara atau perasaan, bukan hanya objek untuk menyenangkan orang lain. Idol juga bukan konten yang membuat publik merasa berhak untuk mengomentari dan menghakimi mereka.

Sejatinya, perempuan juga memiliki kemampuan, kecerdasan, dan kontribusi di berbagai bidang yang patut untuk diapresiasi. Sayangnya, hal itu sering dianggap kurang penting karena objektifikasi pada perempuan. Hal itulah yang disoroti dalam lagu KPop di atas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us