5 Teknik Time Chunking untuk Selesaikan Tugas yang Tertunda

Menunda pekerjaan sering kali bukan karena kamu malas, tapi karena tugas terasa terlalu besar dan melelahkan. Kamu membuka laptop dengan niat bekerja, lalu berakhir scroll media sosial tanpa sadar. Semakin ditunda, rasa bersalah justru makin menumpuk dan bikin pikiran penuh. Siklus ini umum terjadi, terutama di hari kerja yang rasanya berat seperti Selasa.
Di sinilah time chunking bisa jadi penyelamat yang realistis, bukan solusi sok produktif. Teknik ini membantu kamu memecah pekerjaan jadi bagian kecil yang lebih masuk akal dikerjakan. Alih-alih menunggu mood datang, kamu diajak mulai dari potongan waktu yang bisa dikendalikan. Yuk simak lima cara time chunking yang bisa kamu pakai untuk menyelesaikan tugas tertunda tanpa drama berlebihan.
1. Pecah tugas besar jadi potongan waktu kecil

Tugas yang tertunda biasanya terasa berat karena terlihat seperti satu gunung besar. Misalnya, kamu harus menyusun laporan, tapi bayangannya langsung satu dokumen utuh. Dengan time chunking, kamu cukup fokus pada satu bagian kecil dalam satu waktu. Mulai saja dari 25 atau 30 menit pertama.
Dalam potongan waktu itu, targetmu bukan selesai, tapi mulai. Kamu bisa menulis kerangka, mengumpulkan data, atau sekadar membuka file dan memberi judul. Cara ini menurunkan tekanan mental yang sering bikin kamu menunda. Perlahan, tugas besar terasa lebih jinak dan bisa dikejar.
2. Tentukan satu fokus untuk satu chunk

Salah satu penyebab tugas gak selesai adalah kebiasaan multitasking. Kamu niat mengerjakan satu hal, tapi malah pindah ke chat, email, atau tab lain. Dalam time chunking, satu potongan waktu hanya untuk satu jenis pekerjaan. Tidak ada lompat-lompat fokus.
Misalnya, satu chunk khusus untuk membalas email, bukan sambil mengedit dokumen. Fokus tunggal bikin otak bekerja lebih tenang dan cepat. Kamu juga jadi lebih sadar dengan progres yang dibuat. Ini membantu manajemen waktu kerja jadi lebih rapi dan terukur.
3. Pasangkan chunk dengan aktivitas sehari-hari

Time chunking akan lebih efektif jika dikaitkan dengan rutinitas harian. Contohnya, kamu bisa mengerjakan satu chunk setelah minum kopi pagi. Atau satu chunk lagi sebelum makan siang, tanpa target muluk. Cara ini bikin kerja terasa lebih natural dalam keseharian.
Kamu tidak perlu menunggu waktu ideal yang sering tidak datang. Dengan mengaitkan chunk pada kebiasaan, kamu lebih mudah memulai. Otak pun terbiasa bekerja dalam pola yang konsisten. Ini salah satu cara time chunking yang terasa manusiawi, bukan memaksa.
4. Gunakan timer sebagai pengingat, bukan tekanan

Banyak orang alergi dengan timer karena terasa seperti dikejar-kejar. Padahal, timer dalam time chunking justru berfungsi sebagai batas aman. Kamu tahu kapan harus mulai dan kapan boleh berhenti. Ini membuat kerja terasa lebih adil untuk diri sendiri.
Pasang timer 20–30 menit, lalu berhenti saat waktunya habis. Tidak peduli tugasnya belum selesai. Dengan begitu, kamu tidak merasa terjebak dalam kerja tanpa ujung. Teknik ini cocok untuk tips produktif Selasa saat energi masih setengah-setengah.
5. Akhiri setiap chunk dengan penutup kecil

Satu kesalahan umum adalah langsung lompat ke tugas lain tanpa menutup pekerjaan sebelumnya. Dalam time chunking, penutup kecil itu penting. Misalnya, menulis catatan singkat tentang apa yang sudah dikerjakan. Atau menandai bagian yang akan dilanjutkan nanti.
Penutup ini membantu otak merasa ada progres nyata. Kamu tidak meninggalkan tugas dalam keadaan menggantung. Saat kembali ke tugas itu, kamu tidak mulai dari nol. Manajemen waktu kerja pun terasa lebih ringan dan terarah.
Menyelesaikan tugas tertunda tidak selalu butuh motivasi besar atau jadwal super ketat. Kadang, yang kamu perlukan hanyalah cara bekerja yang lebih ramah pada kondisi diri sendiri. Time chunking memberi ruang untuk mulai tanpa harus sempurna. Yuk, coba satu chunk kecil hari ini dan rasakan bedanya.


















