Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Jobstreet by SEEK: 81 Persen Pekerja Indonesia Merasa Gaji Sudah Adil

Jobstreet by SEEK: 81 Persen Pekerja Indonesia Merasa Gaji Sudah Adil
ilustrasi bekerja di kantor (pexels.com/fauxels)
Intinya Sih
  • Sebanyak 81 persen pekerja Indonesia menilai gaji mereka sudah adil, meski hanya 66 persen yang benar-benar puas dengan nominalnya menurut laporan Salary Pulse dari Jobstreet by SEEK.
  • Pekerja yang puas dengan gaji cenderung lebih termotivasi dan loyal, sementara ketidakpuasan meningkatkan peluang berpindah kerja hingga dua kali lipat.
  • Laporan juga menunjukkan tren kenaikan gaji moderat dan pentingnya komunikasi transparan perusahaan untuk menjaga kepuasan serta mencegah ekspektasi karyawan yang tidak terpenuhi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Ketika kamu bekerja dan memperoleh gaji sesuai dengan tanggung jawab yang dijalani, tentu kamu akan merasa senang, bukan? Situasi ini menjadi harapan bagi banyak pekerja, mengingat gaji merupakan salah satu alasan utama seseorang memilih untuk bekerja. Berbicara soal gaji, Jobstreet by SEEK baru-baru ini telah merilis laporan eksklusif yang bertajuk “Salary Pulse”.

Laporan tersebut memberikan pandangan luas mengenai sikap dan pengalaman pekerja Indonesia seputar gaji, tingkat kewajaran kompensasi, serta negosiasi bayaran. Disusun berdasarkan survei daring bersama lembaga riset Nature pada Februari 2026 lalu, dengan melibatkan 1.010 responden profesional di pasar kerja Indonesia yang berusia 18 sampai 64 tahun, hasil utama laporan ini menunjukkan bahwa pekerja Indonesia menilai tingkat gaji yang mereka terima paling adil dan layak dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik yang ikut disurvei.

Sebanyak 81 persen pekerja Indonesia menyatakan, bahwa gaji mereka sudah sesuai dengan pekerjaan yang dijalani saat ini. Namun di sisi lain, hanya 66 persen responden yang merasa puas dengan nominal gaji yang diterima. Kondisi ini tentu menandakan bahwa pekerja Indonesia tidak hanya ingin memastikan penghasilan mereka sesuai standar atau tolok ukur pasar, tetapi juga berharap mendapat pengakuan dan apresiasi atas kontribusi yang telah mereka berikan.

1. Kepuasan gaji mendorong motivasi dan mencegah turnover

ilustrasi mendapat apresiasi
ilustrasi mendapat apresiasi (pexels.com/Artem Podrez)

Banyak pekerja menganggap bahwa kepuasan gaji dapat mendorong motivasi kerja. Lebih dari sekadar angka, kebahagiaan terhadap gaji bisa memberikan dampak positif langsung terhadap performa bisnis. Saat pekerja di Indonesia merasa bahagia dengan bayaran yang diterima, motivasi mereka dapat meningkat hampir dua kali lipat atau sekitar 1,7 kali lipat.

Selain itu, mereka juga bersedia memberikan usaha ekstra di tempat kerja. Sebaliknya, karyawan yang tidak merasa puas dengan penghasilan yang diterima, kemungkinan 2,2 kali lipat lebih besar untuk memikirkan pindah pekerjaan dan mencari peluang baru.

2. Batasan kompromi para pekerja di Indonesia

ilustrasi bekerja di kantor
ilustrasi bekerja di kantor (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Banyak pekerja Indonesia yang tak ragu menunjukkan kesediaan untuk membuat kompromi tertentu demi memperoleh gaji yang memuaskan. Hampir sepertiga (29 persen) pekerja juga bersedia untuk on call di luar jam kerja atau sebanyak 29 persen pekerja bersedia pindah ke luar kota maupun luar negeri demi mendapatkan kenaikan gaji sebesar 10 persen.

Namun, laporan ini juga menemukan bahwa masih banyak pekerja Indonesia yang memegang teguh nilai-nilai mereka dan enggan mengorbankannya demi uang. Hal tersebut ditandai dengan hanya 3 persen responden yang bersedia bekerja di perusahaan dengan toxic culture demi kenaikan gaji 10 persen dan hanya 6 persen yang mau bekerja di perusahaan yang nilai-nilainya tidak sejalan dengan prinsip pribadi mereka.

3. Dinamika diskusi negosiasi gaji yang membawa keberhasilan

ilustrasi bekerja
ilustrasi bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

Dari segi negosiasi, lebih dari setengah pekerja di Indonesia merasa nyaman meminta kenaikan gaji. Situasi ini menunjukkan, bahwa mereka memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi dibandingkan dengan kelompok pekerja di negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik. Hampir dua pertiga (64 persen) pekerja tercatat pernah berinisiatif meminta kenaikan gaji kepada perusahaan. Menariknya, langkah ini terbukti efektif, di mana sebanyak 83 persen karyawan berhasil mendapatkan gaji yang sesuai harapan.

“Gaji adalah faktor mendasar yang membentuk perasaan pekerja di Indonesia terhadap pekerjaan mereka. Kepuasan terhadap gaji menjadi aspek penting yang harus dipahami dan direspons secara serius oleh para pemimpin perusahaan. Ketika para pemimpin mampu menciptakan kesempatan yang transparan untuk mendiskusikan gaji, mereka dapat mengelola ekspektasi dengan lebih baik serta membangun kepuasan finansial yang lebih kukuh di tempat kerja,” ujar Wisnu Dharmawan, Managing Director - Indonesia, Jobstreet by SEEK, dikutip dari rilis yang diterima IDN Times.

4. Tren kenaikan gaji di Indonesia dan dampaknya terhadap kepuasan individu

ilustrasi bekerja dengan tekun
ilustrasi bekerja dengan tekun (pexels.com/Yan Krukau)

Lebih lanjut, laporan eksklusif Salary Pulse ini mengungkapkan bahwa tren kenaikan gaji cukup umum terjadi di Indonesia, di mana sebanyak 62 persen pekerja melaporkan adanya peningkatan upah dalam setahun terakhir. Mayoritas kenaikan ini bersifat moderat dengan 45 persen pekerja menerima kenaikan hingga 5 persen dan 39 persen menerima kenaikan antara 6-10 persen.

Menariknya, jenis peningkatan kompensasi ini sangat memengaruhi tingkat kepuasan psikologis pekerja. Karyawan yang mendapatkan kenaikan gaji berdasarkan kinerja merasa jauh lebih bahagia (89 persen) dibandingkan dengan karyawan yang hanya menerima penyesuaian gaji secara massal di tingkat perusahaan, yaitu sebesar 67 persen. Temuan ini menandai bahwa keterkaitan langsung antara kompensasi dengan kontribusi nyata individu perlu mendapat perhatian lebih dari manajemen perusahaan.   

Di samping itu, laporan ini juga menyoroti adanya perbedaan persepsi antargenerasi. Kelompok gen Z yang umumnya masih berada di level pemula atau bekerja paruh waktu, justru menunjukkan tingkat kepuasan gaji yang lebih besar, yaitu 65 persen. Sebaliknya, kelompok gen X yang rata-rata berpenghasilan tinggi menjadi generasi yang paling merasa kurang dihargai.

Hanya 41 persen dari mereka yang merasa digaji secara memadai. Kondisi tersebut sering kali dipengaruhi oleh persepsi ketidakadilan antara tanggung jawab yang lebih besar dengan pertumbuhan pendapatan yang dianggap tidak sebanding. Terlebih, kecenderungan mereka yang kurang menunjukkan keinginan meminta kenaikan gaji secara proaktif.

5. Strategi mengantisipasi ekspektasi yang tidak terpenuhi di tempat kerja

ilustrasi berjabat tangan
ilustrasi berjabat tangan (pexels.com/fauxels)

Sebagai langkah antisipasi terhadap ekspektasi karyawan yang tidak terpenuhi, Jobstreet by SEEK merekomendasikan perusahaan untuk memperkuat komunikasi yang transparan terkait kompensasi dan jenjang karier. Sebab, ketika permintaan kenaikan gaji ditolak, sebanyak 27 persen pekerja memilih melakukan negosiasi ulang dan sebanyak 28 persen lainnya berupaya mendapatkan tunjangan tambahan di luar gaji pokok. Dalam konteks ini, bonus berbasis kinerja, asuransi kesehatan, dan berbagai tunjangan kesejahteraan menjadi alternatif yang efektif untuk meningkatkan daya tarik perusahaan sekaligus mempertahankan pekerja.

“Kami sangat menganjurkan para pemimpin perusahaan untuk mengedepankan komunikasi yang transparan dan menetapkan target capaian yang jelas guna mencegah risiko karyawan menarik diri secara sepihak atau quiet withdrawal yang dapat mengganggu produktivitas bisnis. Gaji yang adil adalah fondasi, tapi kenyamanan bekerja dibangun atas apresiasi oleh perusahaan yang bijak terhadap pekerja potensial,” tutup Wisnu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto

Related Articles

See More