Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Itu Empathetic Leader dan Kenapa Banyak Dicari di Dunia Kerja?
Ilustrasi bekerja (pexels.com/MART PRODUCTION)
  • Empathetic leader memahami kebutuhan, perasaan, dan sudut pandang tim, sehingga keputusan tidak hanya berorientasi pada hasil tetapi juga kondisi orang yang terlibat.
  • Ciri utamanya meliputi mendengarkan secara aktif, tidak cepat menghakimi, mempertimbangkan perspektif lain, memberi respons sesuai situasi, serta tetap tegas dengan menghargai anggota tim.
  • Gaya kepemimpinan ini mendorong komunikasi terbuka dan kepercayaan, karena pemimpin dapat memberi kritik, teguran, serta tuntutan perbaikan tanpa merendahkan atau mempermalukan tim.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa lebih nyaman bekerja dengan pemimpin yang mau mendengar, bukan cuma memberi perintah? Saat ada masalah, ia tidak langsung menyalahkan, tetapi mencoba memahami dulu apa yang terjadi. Sikap seperti ini mungkin terlihat sederhana, tapi justru bisa membuat suasana kerja terasa jauh lebih sehat.

Inilah yang sering disebut sebagai empathetic leader. Ia tetap punya target, aturan, dan standar yang jelas, tetapi tidak lupa bahwa setiap orang di dalam tim punya cara kerja, tekanan, dan kondisi yang berbeda. Jadi, seperti apa sebenarnya sosok pemimpin yang punya empati? Yuk, simak!

1. Apa itu empathetic leader?

ilustrasi kerja (freepik.com/pressfoto)

Empathetic leader adalah pemimpin yang mampu melihat situasi bukan hanya dari sudut pandangnya sendiri, tetapi juga dari sisi orang yang ia pimpin. Ia mau memahami apa yang dirasakan tim, apa yang sedang mereka hadapi, dan apa yang mungkin membuat performa mereka berubah. Center for Creative Leadership menyebut kepemimpinan empatik sebagai kemampuan memahami kebutuhan, perasaan, dan pikiran orang lain sehingga hubungan kerja bisa terbangun lebih kuat.

Cara berpikir ini juga terlihat dari pandangan Satya Nadella, Chairman dan CEO Microsoft. Ia pernah mengatakan, “Filosofi pribadi dan semangat saya adalah menghubungkan ide ide baru dengan rasa empati yang semakin besar terhadap orang lain,” dikutip dari Microsoft.

Baginya, empati bukan sekadar sikap baik, tetapi bagian dari cara memahami orang sebelum menciptakan sesuatu atau mengambil keputusan. Dengan empati, seorang pemimpin bisa melihat situasi lebih jernih karena ia tidak hanya mempertimbangkan hasil, tetapi juga orang orang yang terlibat di dalamnya.

2. Ciri ciri dan cara menjadi empathetic leader

Ilustrasi bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

Menjadi pemimpin yang empatik bisa dimulai dari kebiasaan sederhana dalam memperlakukan dan memahami orang lain. Beberapa cirinya, antara lain:

  1. Mau benar-benar mendengarkan
    Memberi ruang kepada anggota tim untuk bicara tanpa buru buru memotong atau menyimpulkan.

  2. Tidak cepat menghakimi
    Saat seseorang melakukan kesalahan atau performanya menurun, cari tahu dulu apa yang sedang terjadi sebelum memberi penilaian.

  3. Mencoba melihat dari sudut pandang orang lain
    Tidak hanya berpegang pada cara pandang sendiri, tetapi juga mempertimbangkan kondisi dan perasaan orang lain.

  4. Memberikan respons sesuai situasi
    Ada kalanya seseorang membutuhkan solusi, tetapi ada juga saat ia hanya perlu didengar dan dipahami.

  5. Tetap tegas dengan cara yang menghargai
    Empati bukan berarti membiarkan semua kesalahan. Pemimpin tetap bisa memberi arahan dan evaluasi tanpa membuat orang lain merasa direndahkan.

Kebiasaan seperti ini mungkin terlihat kecil, tetapi efeknya bisa terasa dalam hubungan sehari hari di tempat kerja. Ketika anggota tim merasa didengar dan diperlakukan dengan baik, komunikasi pun lebih terbuka dan rasa percaya terhadap pemimpin perlahan ikut tumbuh.

3. Mengapa empathetic leader jadi pemimpin idaman?

Ilustrasi bekerja (pexels.com/MART PRODUCTION)

Bayangkan punya pemimpin yang tetap menuntut hasil terbaik, tetapi tidak membuat tim takut setiap kali melakukan kesalahan. Ia bisa memberi kritik tanpa merendahkan, menegur tanpa mempermalukan, dan tetap membuka ruang untuk berdiskusi. Sosok seperti ini biasanya membuat orang lebih nyaman menyampaikan ide, bertanya, atau mengakui ketika ada sesuatu yang tidak berjalan baik.

Bukan berarti seorang pemimpin harus berubah menjadi terlalu lembut. Empati tetap perlu berjalan bersama batasan dan tanggung jawab. Pemimpin bisa memahami alasan di balik sebuah kesalahan, tetapi tetap meminta orang tersebut memperbaikinya.

Pada akhirnya empathetic leader bukan sosok yang selalu berusaha menyenangkan semua orang. Ia tahu kapan harus mendengar, kapan memberi dukungan, dan kapan tetap tegas tanpa kehilangan rasa hormat kepada orang lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article