Bicarakan 5 Hal Ini dengan Pasangan sebelum Resign, Jangan Sepihak

Keputusan resign akan berdampak besar pada hidupmu. Apalagi setelah kamu berkeluarga, menjadi pencari nafkah utama, dan sudah punya anak. Oleh karenanya, wajib buatmu membicarakan kemungkinan pengunduran diri itu dengan pasangan.
Bahkan meski pasanganmu juga bekerja atau kamu bukan pencari nafkah utama, mengambil keputusan secara sepihak dapat membuatnya kesal. Ingat bahwa banyak pasangan bercerai karena masalah ekonomi. Cegah keputusan resign menjadi bencana dalam rumah tangga kalian dengan membahas dulu lima hal ini.
1. Masalah yang terjadi di kantor

Tidak mungkin kamu ingin resign dari pekerjaan bila semuanya baik-baik saja. Tak tepat kalau kamu menyembunyikan persoalan sepenting inti dari partner hidupmu. Dia harus tahu dengan jelas mengapa kamu sampai ingin berhenti bekerja.
Ceritakan permasalahanmu dengan apa adanya. Gak perlu terlalu membela diri. Siapa tahu pasangan malah dapat memberikan masukan yang bagus dan kamu bisa tak sampai resign.
2. Kesiapan finansial kalian

Ujung-ujungnya semua ini memang tentang uang. Sekalipun kamu telah menyiapkan dana darurat untuk 3 sampai 6 bulan ke depan, jangan terlalu yakin itu akan cukup. Ketika kamu menyiapkan dana darurat beberapa bulan atau beberapa tahun sebelumnya, patokanmu adalah biaya hidup saat itu.
Sedang sekarang biaya hidup sudah lebih tinggi atau tahun ini bertepatkan dengan anak akan masuk sekolah dan sebagainya. Libatkan pasangan untuk menghitung ulang dana darurat yang telah disiapkan dengan perkiraan biaya hidup beberapa bulan ke depan. Bila ternyata masih kurang, mau gak mau bertahanlah sampai kamu mampu menambah dana darurat.
3. Apa yang akan kamu lakukan setelah resign

Sebesar apa pun dana darurat yang disiapkan, pasangan pasti muak apabila melihatmu tidak melakukan apa-apa setelah resign. Apalagi jika dirimu kepala keluarga. Masa pasanganmu yang harus menggantikan sepenuhnya peranmu dalam mencari nafkah?
Jangan mundur dulu dari kantor baru memikirkan kegiatan yang akan dilakukan. Itu sama dengan membuang-buang waktu dan mengurangi kesempatan keluargamu memperoleh pemasukan lebih. Sekarang juga rencanakan aktivitasmu pasca resign agar sedapat-dapatnya kamu gak menganggur.
4. Bagaimana menjelaskannya pada anak?

Setiap hari anak telah terbiasa melihat kamu pergi bekerja di pagi hari, pulang di sore hari, dan mengenakan seragam. Namun selepas resign, kamu akan banyak di rumah. Bahkan anak balita pun bakal heran dan bertanya mengapa kamu tidak pergi bekerja.
Pastikan baik kamu maupun pasangan telah menyiapkan jawaban terbaik untuk pertanyaan seperti ini. Jangan malah kamu langsung emosi dan meluapkannya pada anak serta pasangan. Tetaplah menjadi orangtua yang baik untuk anak sekalipun kamu sedang stres karena belum memperoleh pekerjaan baru.
5. Kebersamaan kalian menghadapi pandangan miring orang

Anak mungkin hanya bertanya mengapa kamu gak pergi bekerja. Akan tetapi tetangga dan saudaramu boleh jadi terang-terangan berkomentar negatif begitu tahu kamu sering di rumah saja. Mereka akan menggunjingkanmu, mempertanyakan kehidupan rumah tanggamu, bahkan iba pada pasanganmu yang harus bekerja sendirian.
Tekanan sosial seperti ini memperberat beban psikismu maupun pasangan. Pertanyaan dan komentar miring orang bisa bikin kalian bertengkar hebat. Jika keinginanmu buat resign sudah bulat, pastikan kamu dan pasangan kompak serta kuat menghadapi berbagai respons orang di sekitar kalian.
Resign yang tidak dipersiapkan dengan baik akan menimbulkan keguncangan dalam rumah tangga. Hindari hal tersebut terjadi dalam keluargamu dengan melakukan kelima hal di atas. Semoga keputusan resign menjadi yang terbaik untuk perkembangan dirimu serta masa depan kamu bersama keluarga.



















