Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Burnout Bisa Terjadi meski Pekerjaan Tak Terlalu Berat?
ilustrasi burnout akibat bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)
  • Burnout dapat muncul akibat stres kerja kronis yang tidak terkelola, bukan semata-mata karena banyaknya tugas atau panjangnya jam kerja.
  • Kurangnya kendali, apresiasi, dukungan sosial, serta lingkungan kerja yang penuh konflik dapat menguras energi fisik dan emosional meski pekerjaan terlihat ringan.
  • Pekerjaan yang tidak selaras dengan nilai pribadi, ditambah kurang istirahat, kebiasaan perfeksionis, dan sulit menetapkan batasan, dapat memperburuk risiko burnout.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa sangat lelah setelah bekerja, padahal kalau dilihat-lihat pekerjaan kita sebenarnya tidak terlalu banyak? Tugas masih bisa diselesaikan, jam kerja pun tidak selalu panjang, tetapi rasanya energi benar-benar terkuras. Kondisi seperti ini mungkin membuat seseorang bertanya-tanya, “Kenapa aku bisa burnout kalau pekerjaanku sebenarnya tidak berat?”

Burnout memang tidak selalu berkaitan dengan banyaknya pekerjaan. Seseorang bisa memiliki daftar tugas yang terlihat ringan, tetapi tetap mengalami kelelahan fisik dan emosional jika lingkungan kerja penuh tekanan, kurang memberikan dukungan, atau membuatnya merasa tidak dihargai. Lantas, kenapa burnout bisa terjadi meski pekerjaan tak terlalu berat?

1. Burnout berkaitan dengan stres yang berlangsung terus-menerus

ilustrasi perempuan sedang stres (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Burnout bukan sekadar kondisi ketika seseorang terlalu sibuk. Burnout digambarkan sebagai sindrom yang muncul akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola dengan baik. Karena itu, durasi atau jumlah pekerjaan bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Seseorang mungkin memiliki banyak tugas, tetapi tetap merasa baik-baik saja karena mendapatkan dukungan dan memiliki kendali atas pekerjaannya. Sebaliknya, pekerjaan yang lebih ringan bisa terasa sangat melelahkan ketika dilakukan dalam kondisi penuh tekanan.

Perasaan tidak memiliki kendali, mengalami ketidakadilan, atau kehilangan makna dalam pekerjaan dapat membuat stres terus menumpuk. Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, energi fisik dan emosional bisa semakin terkuras. Pada akhirnya, stres yang tidak terkelola dapat meningkatkan risiko burnout.

2. Kurangnya kendali atas pekerjaan bisa menguras energi

ilustrasi kerja tim (unsplash.com/Jud Mackrill)

Bayangkan kamu hanya memiliki beberapa tugas dalam sehari, tetapi hampir semua keputusan harus menunggu persetujuan orang lain. Aturan sering berubah, target tiba-tiba berganti, atau cara menyelesaikan pekerjaan ditentukan sepenuhnya oleh pihak lain. Situasi seperti ini dapat membuat pekerjaan terasa lebih berat daripada jumlah tugas sebenarnya. Tidak memiliki cukup kendali atas pekerjaan bisa membuat seseorang merasa frustrasi.

3. Sudah berusaha, tetapi merasa tidak pernah dihargai

ilustrasi berbicara dengan atasan (pexels.com/Sora Shimazaki)

Pengakuan terhadap usaha juga berperan penting dalam menjaga motivasi. Ketika seseorang terus bekerja dengan baik tetapi kontribusinya dianggap biasa saja, lama-kelamaan ia bisa kehilangan semangat. Hal ini semakin melelahkan ketika apresiasi yang diberikan tidak sebanding dengan tuntutan pekerjaan. Bukan berarti setiap pekerjaan harus selalu mendapatkan pujian, tetapi merasa usaha sendiri dilihat dan dihargai dapat membuat seseorang merasa pekerjaannya memiliki arti. Sebaliknya, lingkungan yang membuat seseorang merasa tidak pernah cukup baik dapat menguras energi emosional meskipun tugas yang diberikan sebenarnya tidak banyak.

4. Hubungan dengan rekan kerja ikut memengaruhi

ilustrasi rekan kerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

Pekerjaan yang ringan bisa terasa jauh lebih berat ketika lingkungan sosial di dalamnya tidak nyaman. Konflik dengan rekan kerja, komunikasi yang buruk, rasa tidak dipercaya, atau suasana kerja yang penuh persaingan dapat membuat seseorang menghabiskan banyak energi hanya untuk menghadapi situasi di sekitarnya. Ada pula pekerjaan yang sebenarnya baik-baik saja, tetapi seseorang merasa sendirian karena tidak memiliki tempat untuk berdiskusi atau meminta bantuan. Padahal, dukungan dari rekan kerja maupun atasan dapat membantu seseorang menghadapi tekanan dengan lebih baik. Artinya, kondisi lingkungan kerja juga perlu diperhatikan ketika membicarakan penyebab burnout.

5. Pekerjaan tidak sesuai dengan nilai pribadi

ilustrasi seseorang sedang bekerja (pexels.com/Christina Morillo)

Ada kalanya seseorang mengalami burnout bukan karena pekerjaannya terlalu berat, melainkan karena pekerjaan tersebut terasa tidak bermakna. Misalnya, seseorang harus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip pribadinya atau merasa apa yang dikerjakannya tidak memberikan tujuan yang jelas. Dalam kondisi seperti ini, pekerjaan sederhana sekalipun dapat terasa menguras tenaga karena membutuhkan usaha mental yang lebih besar.

Ketika pekerjaan sehari-hari terasa tidak sejalan dengan nilai atau tujuan pribadi, motivasi bisa perlahan menurun. Seseorang pun dapat merasa bahwa apa yang dilakukannya tidak lagi memiliki makna. Akibatnya, rasa lelah bukan hanya muncul dari pekerjaan, tetapi juga dari pertanyaan, “Untuk apa aku melakukan semua ini?”

6. Faktor di luar pekerjaan juga bisa memperburuk burnout

ilustrasi ibu merasa stres (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Burnout memang berkaitan erat dengan pekerjaan, tetapi kondisi seseorang di luar tempat kerja juga dapat memengaruhi bagaimana ia menghadapi stres. Kurang tidur, tidak memiliki waktu untuk benar-benar beristirahat, minimnya dukungan sosial, atau kebiasaan tetap memikirkan pekerjaan setelah jam kerja dapat membuat tubuh dan pikiran sulit pulih. Selain itu, beberapa kebiasaan seperti terlalu perfeksionis, merasa harus selalu bertanggung jawab, atau sulit mengatakan tidak juga dapat membuat pekerjaan yang sebenarnya masih wajar terasa lebih berat.

Mengatasi burnout tidak selalu berarti mengurangi jumlah pekerjaan. Seseorang juga perlu belajar menetapkan batasan dan memberi tubuh serta pikiran waktu untuk beristirahat. Selain itu, penting untuk benar-benar melepaskan diri dari urusan pekerjaan agar energi dapat kembali pulih.

Burnout bisa terjadi meski pekerjaan tak terlalu berat karena kurangnya kendali, dukungan, apresiasi, dan makna dalam pekerjaan. Karena itu, memahami sumber stres menjadi langkah penting agar pekerjaan yang terlihat ringan tidak terus menguras energi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article