Fenomena job hugging atau memeluk pekerjaan erat-erat dalam situasi ekonomi seperti sekarang makin sering dilakukan. Walaupun tetap ada beberapa orang, khususnya anak muda tanpa tanggungan, yang memilih resign dengan berbagai pertimbangan. Namun, orang yang punya tanggung jawab keuangan lebih besar mempertahankan pekerjaan mereka sekuat yang mereka bisa.
Efek Job Hugging terhadap Kesehatan Mental dan Finansial

- Job hugging muncul karena sulitnya mencari kerja, terutama bagi orang dengan tanggung jawab finansial besar yang melihat pekerjaan sebagai penopang hidup.
- Bertahan layak dipilih bila pendapatan memadai, beban mental masih terkendali, dan belum ada rencana matang setelah resign, terutama saat bergantung penuh pada pekerjaan.
- Memaksakan diri di pekerjaan yang memicu kecemasan, menguras energi, bergaji minim, atau tak menghargai kinerja dapat mengganggu kesehatan mental dan menghambat perkembangan diri.
Bagaimana dengan kamu sendiri? Apakah dirimu masih bekerja dengan senang hati atau sebetulnya sepenuhnya terpaksa? Job hugging bisa menimbulkan efek positif maupun negatif tergantung situasinya.
Kamu sebaiknya tidak gegabah memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan. Namun, dirimu juga jangan sembarangan bertahan di suatu pekerjaan tanpa memedulikan efeknya terhadap kesehatan mental serta kemungkinan terbaik dalam hidupmu. Mari pahami lebih banyak mengenai efek job hugging terhadap kesehatan mental dan finansial.
1. Job hugging kerap dilatarbelakangi kesadaran sulitnya cari pekerjaan

ilustrasi seorang pria (pexels.com/Михайло Шевелюк) Saat ini hampir semua lulusan perguruan tinggi merasakan susahnya mencari pekerjaan, terutama di sektor formal. Jangankan lulusan baru, orang yang sudah kaya pengalaman kerja saja kesulitan memperoleh pekerjaan pengganti pasca-PHK. Ketika seseorang bertekad untuk mempertahankan pekerjaannya, dia paham betul risiko bila melepasnya.
Ia memperhitungkan kemungkinan terburuk jika hal tersebut dilakukan. Jangan sampai setelahnya dia justru menjadi pengangguran bertahun-tahun. Mempertahankan pekerjaan sama dengan mempertahankan hidup.
Beda situasinya apabila kesempatan bekerja dengan sistem upah yang baik melimpah. Orang tak perlu terlalu keras memeluk pekerjaan yang sudah gak bisa dinikmati. Pekerja memiliki lebih banyak pilihan untuk masa depannya.
2. Pantas bila pekerjaan kasih gaji lumayan dan tak terlalu membebani mental

ilustrasi bekerja (pexels.com/Tima Miroshnichenko) Job hugging merupakan langkah yang tepat jika kamu gak cuma fokus pada susahnya mencari pekerjaan saat ini. Kebetulan pekerjaanmu memberikan pendapatan yang lumayan. Bahkan boleh jadi gaji beserta bonusnya lebih besar daripada pekerjaan pada umumnya.
Tentu, seiring tingginya penghasilan, tanggung jawabmu juga besar. Jenis pekerjaannya pun membutuhkan keahlian yang spesifik. Namun, itu tak sampai sangat membebanimu. Segalanya berjalan cukup baik-baik saja sejauh ini.
Keyakinanmu untuk terus bekerja di sana sudah tepat. Alih-alih memikirkan untuk meninggalkan pekerjaan, kamu justru harus termotivasi untuk menunjukkan kinerja terbaik. Supaya dirimu tidak pernah masuk daftar karyawan yang bakal dipecat, baik karena masalah kinerja maupun karena kantor perlu melakukan efisiensi.
3. Bisa jadi masalah psikis kalau dipaksakan

ilustrasi bekerja (pexels.com/Vitaly Gariev) Kamu perlu jujur pada diri sendiri. Apakah dirimu masih cukup enjoy menjalani pekerjaan sekarang atau saking terpaksanya membuatmu sama sekali tidak bahagia? Kamu bahkan mengalami lebih dari sekadar ketidakbahagiaan.
Dirimu barangkali merasakan kecemasan yang membuatmu sampai sulit tidur di malam hari. Energimu setiap hari rasanya terkuras bahkan sebelum kamu berangkat ke kantor. Itu disebabkan oleh semangat serta rasa cinta terhadap pekerjaan yang sudah rendah sekali.
Kamu tak boleh selamanya mengorbankan kesehatan mentalmu. Ini harga yang terlalu mahal buatmu sekadar menyambung hidup. Bila dirimu berkeras bertahan, takutnya masalah kejiwaan yang dialami mencapai puncaknya dan lebih sukar diatasi.
4. Juga menghambat perkembangan diri

ilustrasi bekerja (pexels.com/MART PRODUCTION) Job hugging adalah strategi bertahan demi keamanan finansial. Akan tetapi, kamu melakukannya pun belum tentu berarti perekonomianmu sepenuhnya aman. Misalnya, dirimu khawatir melepaskan pekerjaan berujung pada kesulitan memperoleh pekerjaan baru.
Masalahnya, penghasilanmu dari pekerjaan itu sebenarnya juga terlalu minim. Kenapa kamu tidak berpikir bahwa di luar sana boleh jadi nasibmu bisa jauh lebih baik? Apalagi, dirimu bukannya tak punya skill apa-apa.
Kamu hanya perlu berada di tempat yang tepat supaya kemampuan kerjamu diapresiasi secara pantas. Pun dengan dirimu bekerja di tempat berbeda, barangkali masih banyak potensi yang akan terasah. Kalau kamu sekadar mencari rasa aman semu dengan memeluk satu pekerjaan erat-erat, ini dapat menghilangkan kesempatan emas untukmu untuk punya masa depan yang lebih cerah.
5. Perlu tahu kapan bertahan atau melepas

ilustrasi karyawan (pexels.com/AlphaTradeZone) Selain ada efek job hugging terhadap kesehatan mental dan finansial, kamu mungkin mengalami keraguan yang bikin bingung. Sebaiknya dirimu bertahan di pekerjaan sekarang atau melepasnya? Meski memilihnya tidak akan pernah mudah karena berefek besar terhadap masa depan, kamu perlu memahami situasimu.
Kalau sekarang tanggung jawab finansialmu sangat gede dan dirimu 100 persen bergantung pada pekerjaan itu, maka bertahan saja. Risiko kamu meninggalkannya terlalu besar. Dirimu juga bisa bertahan dulu bila sampai sekarang belum punya rencana yang matang setelah resign.
Sementara itu, lepaskan pekerjaan jika kamu telah yakin kinerjamu tidak dihargai dengan layak. Di luar juga ada banyak kesempatan yang lebih baik. Untukmu memperoleh peluang emas tersebut memang gak mudah. Akan tetapi, berani mengambil risiko secara terukur penting guna memajukan hidup. Asal dana darurat aman, kenapa tidak?
Job hugging dapat menjadi strategi yang menyelamatkan atau justru menghambat kemajuan diri serta hidup. Itu sebabnya, keputusan seseorang untuk melepaskan pekerjaan tak selalu dapat dihakimi sebagai benar atau salah. Ini amat bergantung pada penyebab, situasi yang dihadapi, serta kesiapan menghadapi konsekuensinya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















