Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Hard Skill Vs. Soft Skill, Mana yang Lebih Dicari Perusahaan?

Hard Skill Vs. Soft Skill, Mana yang Lebih Dicari Perusahaan?
Ilustrasi hari pertama bekerja (pexels.com/Photo by Mikhail Nilov)
Share Article

Saat mencari pekerjaan, kamu mungkin sering mendengar bahwa hard skill adalah modal utama untuk diterima perusahaan. Kemampuan seperti coding, desain grafis, digital marketing, data analysis, akuntansi, hingga penggunaan software tertentu memang bisa menjadi syarat penting dalam lowongan kerja. Namun, punya kemampuan teknis saja belum tentu cukup untuk membuat perusahaan yakin bahwa kamu adalah kandidat yang tepat.

Di sisi lain, soft skill seperti komunikasi, kerja sama, berpikir kritis, kemampuan beradaptasi, dan problem solving juga semakin diperhatikan. Jadi, sebenarnya mana yang lebih dicari perusahaan: hard skill atau soft skill?

1. Pahami dulu perbedaan hard skill dan soft skill

Ilustrasi bekerja dengan rekan kerja (unsplash.com/Photo by Microsoft 365)
Ilustrasi bekerja dengan rekan kerja (unsplash.com/Photo by Microsoft 365)

Hard skill adalah kemampuan teknis dan spesifik yang biasanya bisa dipelajari melalui pendidikan, kursus, sertifikasi, pelatihan, maupun pengalaman langsung. Contohnya adalah kemampuan menggunakan Excel, membuat desain dengan Adobe Photoshop, melakukan analisis data, pemrograman, SEO, digital advertising, pembukuan, hingga mengoperasikan perangkat tertentu. Kemampuan ini biasanya lebih mudah dibuktikan melalui sertifikat, portofolio, tes, atau hasil pekerjaan.

Sementara itu, soft skill berkaitan dengan bagaimana kamu bekerja dan berinteraksi dengan orang lain. Communication, teamwork, critical thinking, leadership, adaptability, time management, dan problem solving termasuk di dalamnya. Kemampuan tersebut memang lebih sulit diukur hanya dari sertifikat karena biasanya terlihat melalui perilaku dan pengalaman nyata.

"Pihak pemberi kerja perlu mengubah pendekatan mereka terhadap perekrutan, dengan lebih fokus pada keterampilan dan mengurangi penekanan pada gelar pendidikan," kata Ryan Roslansky, CEO LinkedIn dalam World Economic Forum.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa skill menjadi semakin penting dalam proses rekrutmen. Baik itu berupa kemampuan teknis maupun kemampuan yang dapat ditransfer ke berbagai pekerjaan.

2. Hard skill tetap penting, terutama untuk pekerjaan spesifik

Ilustrasi bekerja (pexels.com/Photo by Nataliya Vaitkevich)
Ilustrasi bekerja (pexels.com/Photo by Nataliya Vaitkevich)

Bukan berarti soft skill membuat hard skill menjadi tidak penting. Untuk pekerjaan yang membutuhkan kompetensi teknis tertentu, hard skill justru menjadi syarat dasar. Seorang programmer harus memahami bahasa pemrograman, seorang data analyst perlu menguasai pengolahan data, seorang graphic designer harus memahami software desain, sedangkan digital marketer perlu mengetahui analitik, strategi konten, dan platform digital.

Riset terhadap sekitar 20.000 lowongan kerja di bidang IT juga menemukan bahwa bahasa pemrograman menjadi hard skill yang paling banyak dicari. Pada saat yang sama, communication, collaboration, dan problem-solving menjadi soft skill yang paling sering muncul. Artinya, bahkan dalam bidang yang sangat teknis sekalipun, perusahaan tidak hanya membutuhkan orang yang mampu mengerjakan tugas secara teknis.

"Bahasa pemrograman adalah hard skill yang paling banyak dibutuhkan. Komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah adalah soft skill yang paling banyak dibutuhkan. Kami merekomendasikan pengembang untuk menyusun resume mereka sesuai dengan posisi yang mereka lamar. Kami juga menyoroti pentingnya soft skill, karena keterampilan ini muncul dalam banyak peluang kerja," dikutip dari hasil studi berjudul "What Skills do IT Companies look for in New Developers? A Study with Stack Overflow Jobs" dalam laman arXiv.

3. Soft skill bisa menjadi pembeda antarkandidat

Ilustrasi diskusi dengan rekan kerja (pexels.com/Photo by Antoni Shkraba Studio)
Ilustrasi diskusi dengan rekan kerja (pexels.com/Photo by Antoni Shkraba Studio)

Bayangkan ada dua kandidat yang sama-sama memiliki kemampuan teknis yang dibutuhkan perusahaan. Keduanya bisa menggunakan software yang sama, memiliki pendidikan yang serupa, dan sama-sama mempunyai pengalaman magang. Lalu apa yang membuat recruiter memilih salah satunya? Dalam situasi seperti ini, soft skill dapat menjadi pembeda.

"Selain keterampilan terkait AI, keterampilan yang paling sering muncul dalam analisis; berpikir strategis, komunikasi, dan kemampuan beradaptasi adalah soft skill yang dapat diterapkan di berbagai wilayah geografis dan fungsi pekerjaan. Artinya, keterampilan ini akan tetap relevan seiring dengan perkembangan tanggung jawab dan kualifikasi pekerjaan, sehingga layak untuk dipelajari," kata konsultan pemasaran untuk perusahaan teknologi SDM, Jen Dewar dalam LinkedIn.

Sementara data NACE dalam Job Outlook 2025, menunjukkan sebanyak 96,1 persen employer menilai communication penting atau sangat penting, 96,1 persen menilai critical thinking penting, dan 93,9 persen menilai teamwork penting. Ini menunjukkan bahwa kemampuan bekerja dengan manusia tetap menjadi bagian besar dari pertimbangan perusahaan.

 

4. Era AI membuat kombinasi keduanya semakin penting

kerja
Ilustrasi bekerja (pexels.com/Photo by Anh Tuan)

AI memang membuat banyak pekerjaan teknis berubah. Beberapa tugas yang sebelumnya membutuhkan waktu lama kini bisa dibantu oleh AI, sehingga pekerja dituntut memahami teknologi sekaligus mampu menilai, mengarahkan, dan menggunakannya dengan tepat. LinkedIn mencatat bahwa sekitar 70 persen skill yang digunakan dalam sebagian besar pekerjaan diperkirakan berubah antara 2015 dan 2030, dengan AI menjadi salah satu pendorong utama perubahan tersebut.

"Pekerjaan terus berkembang. Data LinkedIn menunjukkan bahwa dari tahun 2015 hingga 2030, sekitar 70 persen keterampilan yang digunakan di sebagian besar pekerjaan akan berubah, dengan AI muncul sebagai katalis. Itulah mengapa semakin penting bagi para profesional untuk memahami dan menggunakan alat AI dalam peran mereka," jelas Jen Dewar.

Di sisi lain, kemampuan manusia seperti strategic thinking, communication, dan adaptability tetap muncul sebagai skill yang banyak dibutuhkan. Karena itu, jangan membangun karier hanya berdasarkan satu kemampuan teknis. Biasakan belajar hal baru dan mengembangkan kemampuan yang membuatmu tetap relevan ketika teknologi berubah.

5. Jadi, mana yang lebih dicari perusahaan? Jawabannya kombinasi!

Ilustrasi hari pertama bekerja (pexels.com/Photo by Mikhail Nilov)
Ilustrasi hari pertama bekerja (pexels.com/Photo by Mikhail Nilov)

Kalau harus memilih, hard skill biasanya menjadi pintu masuk karena perusahaan perlu memastikan kandidat mampu melakukan pekerjaan yang dibutuhkan. Namun, soft skill dapat menentukan bagaimana kemampuan tersebut digunakan dalam situasi nyata.

Seorang content writer, misalnya, perlu menguasai SEO dan kemampuan menulis sebagai hard skill. Tetapi ia juga harus mampu menerima revisi, berkomunikasi dengan editor, memahami kebutuhan pembaca, mengatur deadline, dan beradaptasi dengan perubahan algoritma.

Hal tersebut sejalan dengan laporan World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 yang menyebut keterampilan teknis dan keterampilan interpersonal sebagai bagian yang sama-sama penting. Mereka mencatat bahwa technological literacy, empathy and active listening, curiosity and lifelong learning, serta kemampuan interpersonal melengkapi skill inti yang dibutuhkan pekerja. Dengan kata lain, perusahaan semakin membutuhkan orang yang mampu menggunakan teknologi sekaligus tetap efektif bekerja dengan manusia.

"Berpikir analitis tetap menjadi keterampilan inti teratas bagi pemberi kerja, dengan tujuh dari 10 perusahaan menganggapnya penting. Ini diikuti oleh ketahanan, fleksibilitas, dan ketangkasan, bersama dengan kepemimpinan dan pengaruh sosial, yang menggarisbawahi peran penting adaptabilitas dan kolaborasi di samping keterampilan kognitif. Berpikir kreatif dan motivasi serta kesadaran diri masing-masing berada di peringkat keempat dan kelima," dikutip dalam laporan Future of Jobs Report 2025.

"Kesepuluh keterampilan inti teratas dilengkapi dengan literasi teknologi, empati dan mendengarkan aktif, rasa ingin tahu dan pembelajaran sepanjang hayat, manajemen bakat, dan orientasi layanan serta layanan pelanggan," lanjutnya.

Jadi, hard skill vs soft skill sebenarnya bukan ‘pertandingan’ untuk menentukan mana yang menjadi pemenang. Untuk Gen Z yang sedang memulai karier, strategi terbaik adalah membangun kombinasi keduanya: pilih hard skill yang relevan dengan pekerjaan yang diincar, lalu perkuat dengan komunikasi, critical thinking, teamwork, adaptability, dan kemampuan belajar.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More