Kamu yang mengalami masa kecil sekitar tahun 1990-an sampai awal 2000-an barangkali menyadari satu perbedaan besar tentang kehidupan kala itu dengan sekarang. Orangtuamu tidak bekerja dari pagi sampai malam. Bahkan jam kerjanya sebelum sore pun sudah berakhir.
Jebakan Hidup untuk Bekerja dan Bukan Bekerja untuk Hidup, Kenapa?

- Kenaikan harga kebutuhan hidup yang tidak sebanding dengan pendapatan membuat banyak orang bekerja lebih keras dan lebih lama demi mencukupi kebutuhan keluarga.
- Budaya produktivitas berlebihan mendorong milenial dan Gen Z merasa harus punya pekerjaan ganda atau lembur, hingga mengabaikan kelelahan fisik dan mental.
- Tuntutan atasan untuk selalu siaga, pekerjaan sebagai pelarian dari kebosanan, serta kecintaan berlebih pada kerja memperpanjang siklus hidup untuk bekerja.
Seperti pulang kantor pukul 14.00 atau 15.00. Setelahnya, mereka juga jarang memegang pekerjaan lagi saat di rumah. Dengan model kerja seperti itu pun, mereka dapat memenuhi kebutuhan keluarga dengan baik. Sandang, pangan, papan, pendidikan anak, serta kesehatan keluarga bisa dicukupi.
Namun, sekarang yang terjadi justru sebaliknya. Banyak orang sudah bekerja begitu keras nyaris sepanjang waktu, tapi hidup begini-begini saja. Tak sedikit manusia masa kini yang terjebak dalam siklus hidup untuk bekerja dan bukan bekerja untuk hidup. Hampir semua waktu serta energinya dicurahkan untuk pekerjaan. Kenapa ini terjadi?
1. Tingginya kebutuhan hidup

ilustrasi berdagang sampai malam (pexels.com/Darya Sannikova) Dari zaman dulu pun manusia selalu berhadapan dengan banyak kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Akan tetapi, saat itu rasanya harga berbagai kebutuhan jauh lebih terjangkau. Harga kebutuhan dibandingkan dengan penghasilan masih aman buat hidup layak tanpa cemas.
Misal, tahun 2000 awal gaji orangtuamu di angka 3 sampai 4 juta rupiah sudah termasuk aneka bonus. Harga beras per kilogram pada saat itu sesuai ketentuan Inpres No. 8 tahun 2000 ialah sekitar 2470 rupiah. Gak sampai 2500 rupiah per kilonya. Harga maksimal di warung mungkin sekitar 3000 rupiah.
Sedangkan sekarang, gaji pokok masih banyak yang di angka 2 jutaan. Ditambah bonus tak sampai 5 juta rupiah per bulan. Akan tetapi, harga beras per kilo sekitar 14 ribu rupiah bahkan lebih untuk kualitas tinggi. Terlihat jelas kesenjangan perbandingan kebutuhan dengan penghasilan zaman dulu vs. sekarang.
2. Salah kaprah tentang produktivitas

ilustrasi masih bekerja (pexels.com/https://kaboompics.com/) Bukan hanya realitas bahwa harga berbagai kebutuhan makin naik sementara pendapatan cenderung tetap yang bikin orang terus bekerja. Saat ini juga ada fenomena salah kaprah soal produktivitas. Apalagi di kalangan milenial dan generasi Z.
Semua orang terlalu ingin produktif sepanjang hari. Rasa capek fisik dan mental disangkal karena dianggap kelemahan. Banyak orang punya lebih dari satu pekerjaan. Mereka gila-gilaan dalam bekerja biar liburannya juga bisa maksimal.
Justru timbul rasa bersalah sampai minder jika mereka tidak bekerja ganda atau banyak lembur. Seolah-olah mereka tertinggal dari teman sebaya. Meski pada akhirnya sebagian dari mereka mulai merindukan kehidupan yang lebih lambat tanpa terus terbebani pekerjaan.
3. Tuntutan atasan siap 24 jam atau kontrak terancam gak diperpanjang

ilustrasi bekerja di rumah (pexels.com/olia danilevich) Terkadang faktor atasan juga memaksa orang seolah tidak ada berhentinya dalam bekerja. Atasan tidak hanya rutin menghubungi pada hari dan jam kerja. Di luar itu pun mereka masih diminta untuk standby.
Terkadang mereka sudah pulang ke rumah atau kos-kosan. Namun, ada saja hal-hal yang memaksa mereka kembali ke kantor di malam hari selama jaraknya masih memungkinkan. Di hari libur nasional juga ada karyawan yang mesti merelakan waktu liburnya buat jaga kantor.
Apalagi mereka yang bekerja dengan media sosial. Mereka dituntut untuk merespons komentar warganet kapan pun. Pekerjaan mereka sekilas santai karena dapat dilakukan dari mana saja. Faktanya, mereka hampir 24 jam penuh memantau layar dan harus memberikan respons yang cepat serta tepat.
4. Bekerja dianggap sebagai pengisi waktu bagi lajang yang gak suka main

ilustrasi masih bekerja (pexels.com/MART PRODUCTION) Tidak semua lajang terjebak dalam siklus bekerja tanpa henti. Kalau mereka suka main atau sekadar bersantai di rumah atau kos-kosan tanpa ngapa-ngapain, mereka aman. Mereka tetap memiliki batasan yang jelas kapan harus bekerja dan istirahat.
Sementara itu, single gabut karena gak suka main pelan-pelan dapat masuk ke jebakan hidup untuk bekerja. Tidak ada pacar buat diajak jalan. Ada teman, tetapi dia juga bukan tipe orang yang suka nongkrong.
Sementara bersantai dengan nonton film atau baca buku cuma kuat 1 atau 2 jam per hari. Alhasil, ia melarikan diri ke pekerjaan. Memang, dari satu sisi, terus bekerja menghindarkannya dari perasaan bingung mau ngapain. Boleh jadi hasilnya juga memuaskan dan membuat keuangannya lebih mapan. Namun, setelah sekian lama dia kerja melulu, baru bisa merasa hidupnya kurang variasi.
5. Rasa cinta berlebih pada pekerjaan

ilustrasi sibuk bekerja (pexels.com/Vitaly Gariev) Bukan gabut seperti dalam poin sebelumnya. Bukan pula penghasilan dari satu pekerjaan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan. Bos juga tidak memaksa karyawan bekerja lebih dari ketentuan umum.
Namun, memang ada orang yang saking sukanya bekerja menjadi seperti gak punya sisi lain dalam hidup. Di kantor, dia menjadi si paling suka lembur. Ia bahkan oke-oke saja ketika teman memintanya untuk mengambil alih tugasnya.
Di luar kantor pun dia masih mengambil job sana-sini tanpa merasa terbebani. Bahkan ketika tubuh sebenarnya sudah lelah, ia berada pada titik kecanduan bekerja. Dia baru akan berhenti bekerja setelah kedua matanya benar-benar tidak lagi bisa diajak bekerja sama.
Hidup untuk bekerja berarti sebagian besar waktu dan tenaga seseorang habis buat pekerjaan. Baik hasilnya cukup untuk hidup, membuatnya lebih kaya, atau malah tetap kekurangan. Sementara bekerja buat hidup bermakna, seseorang gak perlu terlalu ngoyo cuma buat memastikan dirinya masih hidup sejahtera. Dari prinsip hidup untuk bekerja dan bukan bekerja untuk hidup, kamu yang mana?













![[QUIZ] Pilih Karakter Cewek Upin Ipin, Ini Standar Hubunganmu yang Sebenarnya](https://image.idntimes.com/post/20260805/pexels-alex-green-5700173_5fb42987-c8e8-4d55-8d77-010bd5edc32a.jpg)






![[QUIZ] Pilih Duo di Upin Ipin, Ini Pola yang Kamu Cari di Hubungan](https://image.idntimes.com/post/20260821/pexels-august-de-richelieu-8366850_cb382f4a-b77b-4564-9980-4c6e7d76e66f.jpg)
