Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Alasan Orang Memilih Hidup Low Profile di Era Digital

5 Alasan Orang Memilih Hidup Low Profile di Era Digital
Ilustrasi membuka aplikasi Instagram di handphone (pexels.com/cottonbro studio)
  • Gaya hidup low profile dipilih untuk menjaga privasi, membatasi jejak digital, dan menciptakan batas lebih sehat antara kehidupan pribadi serta ruang publik.
  • Dengan tidak terlalu menampilkan kehidupan, seseorang dapat mengurangi tekanan perbandingan sosial dan fokus pada proses serta kepuasan pribadi.
  • Low profile mendorong penghargaan terhadap hubungan dekat, pencapaian tanpa validasi publik, dan kebahagiaan yang tidak bergantung pada eksistensi online.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Media sosial membuat kehidupan sehari-hari semakin mudah terlihat oleh banyak orang. Makanan yang disantap, tempat yang dikunjungi, barang yang dibeli, pencapaian pekerjaan, hingga aktivitas sederhana bisa dibagikan dalam hitungan detik. Di satu sisi, kebiasaan ini membuat orang lebih mudah terhubung dan berbagi cerita. Namun, di sisi lain, semakin banyak orang justru mulai merasa tidak perlu menunjukkan semua hal tentang kehidupannya kepada publik.

Gaya hidup low profile kemudian menjadi pilihan bagi sebagian orang. Mereka tidak berarti tidak memiliki pencapaian, tidak menikmati hidup, atau anti terhadap media sosial. Mereka hanya mulai memilih mana yang layak dibagikan dan mana yang cukup menjadi pengalaman pribadi. Di tengah budaya yang seolah mendorong seseorang untuk selalu menunjukkan keberhasilan, keputusan untuk hidup lebih tenang dan tidak banyak tampil justru terasa semakin menarik. Lantas, apa yang membuat orang memilih hidup low profile di era digital?

  1. 1. Privasi dianggap sebagai bentuk kenyamanan

    Ilustrasi membuka aplikasi Instagram di handphone
    Ilustrasi membuka aplikasi Instagram di handphone (pexels.com/cottonbro studio)

    Semakin banyak kehidupan yang dibagikan secara online, semakin besar pula jejak digital yang terbentuk. Foto, lokasi, aktivitas, hubungan sosial, hingga kebiasaan sehari-hari dapat tersimpan dan dilihat kembali kapan saja. Kondisi tersebut membuat sebagian orang mulai menyadari bahwa privasi memiliki nilai yang tidak kalah pentingnya dengan eksistensi di media sosial. Mereka mulai lebih selektif dalam menentukan informasi apa yang boleh diketahui publik.

    Bagi sebagian orang, menjaga privasi bukan berarti menyembunyikan kehidupan atau menjauh dari orang lain. Justru, hal tersebut menjadi cara untuk menciptakan batas yang lebih sehat antara kehidupan pribadi dan ruang publik. Tidak semua orang perlu mengetahui sedang berada di mana, melakukan apa, membeli apa, atau sedang menghadapi masalah apa. Dengan membatasi informasi yang dibagikan, seseorang bisa merasa lebih bebas menjalani hidup tanpa terlalu memikirkan bagaimana kehidupannya akan terlihat dari sudut pandang orang lain.

  2. 2. Tidak ingin terjebak dalam perbandingan sosial

    Ilustrasi mengobrol
    Ilustrasi mengobrol (pexels.com/RF._.studio)

    Media sosial membuat proses membandingkan kehidupan menjadi jauh lebih mudah. Seseorang dapat melihat pencapaian orang lain hanya dengan membuka aplikasi. Ada yang sedang berlibur, membeli rumah, mendapatkan pekerjaan baru, membangun bisnis, menikah, atau mencapai target tertentu. Jika terlalu sering melihat kehidupan orang lain, seseorang bisa merasa kehidupannya sendiri tertinggal, padahal apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kenyataan.

    Karena alasan tersebut, gaya hidup low profile dapat menjadi cara untuk mengurangi tekanan perbandingan sosial. Ketika seseorang tidak terlalu sibuk menunjukkan kehidupannya, perhatian dapat kembali diarahkan pada proses pribadi. Fokusnya bukan lagi bagaimana terlihat sukses di mata orang lain, tetapi bagaimana benar-benar merasa puas dengan kehidupan yang sedang dijalani. Hidup juga menjadi lebih realistis karena seseorang tidak terus-menerus merasa harus mengejar standar kehidupan yang ditampilkan orang lain.

  3. 3. Lebih menghargai hubungan yang bersifat personal

    Ilustrasi berbincang
    Ilustrasi berbincang (pexels.com/Christina Morillo)

    Tidak semua pengalaman menjadi lebih berarti ketika diketahui banyak orang. Dalam beberapa situasi, justru berbagi sesuatu dengan orang-orang terdekat dapat memberikan rasa bahagia yang lebih dalam. Makan bersama keluarga, merayakan keberhasilan dengan sahabat, atau melakukan perjalanan bersama pasangan bisa terasa lebih intim ketika tidak terus-menerus dipikirkan sebagai bahan unggahan.

    Gaya hidup low profile membuat seseorang lebih memperhatikan kualitas hubungan dibandingkan dengan jumlah orang yang mengetahui kehidupannya. Mereka mungkin tidak memiliki banyak unggahan tentang kehidupan pribadi, tetapi tetap memiliki hubungan yang dekat dengan orang-orang yang penting bagi mereka. Bagi mereka, perhatian dan apresiasi dari lingkaran terdekat sering kali terasa lebih bermakna daripada komentar dari orang yang bahkan tidak benar-benar mengenal kehidupan mereka.

  4. 4. Tidak semua hal harus divalidasi orang lain

    Like
    Like (freepik.com/freepik)

    Salah satu alasan orang memilih hidup low profile adalah karena mulai menyadari bahwa tidak semua pencapaian membutuhkan pengakuan dari orang lain. Ketika sesuatu dibagikan di media sosial, biasanya akan muncul respons berupa likes, komentar, views, atau pesan dari orang lain. Respons tersebut memang bisa menyenangkan, tetapi jika terlalu bergantung padanya, seseorang dapat merasa bahwa pencapaiannya baru berarti ketika mendapatkan perhatian. Karena itu, sebagian orang mulai merasa lebih nyaman menikmati keberhasilan tanpa harus mengumumkannya kepada banyak orang.

    Hidup low profile memberikan ruang bagi seseorang untuk menentukan nilai sebuah pencapaian berdasarkan kepuasan pribadi, bukan respons publik. Mendapatkan pekerjaan baru, membeli barang yang sudah lama diinginkan, menyelesaikan suatu target, atau memiliki kehidupan yang lebih baik tidak harus selalu menjadi konten. Ada kepuasan tersendiri ketika seseorang mengetahui bahwa dirinya berkembang tanpa perlu membuktikannya kepada semua orang. Pada akhirnya, pencapaian tetap terasa berarti meskipun tidak mendapatkan sorotan dari media sosial.

  5. 5. Menemukan kebahagiaan yang tidak bergantung pada eksistensi online

    Senang
    Senang (freepik.com/benzoix)

    Pada akhirnya, gaya hidup low profile berkaitan erat dengan perubahan cara seseorang mendefinisikan kebahagiaan. Kebahagiaan tidak lagi harus diukur dari seberapa banyak likes yang diperoleh, berapa banyak orang yang melihat unggahan, atau seberapa sering seseorang muncul di media sosial. Bagi sebagian orang, kebahagiaan justru ditemukan dalam hal-hal yang sangat sederhana dan tidak terlihat oleh publik.

    Mereka mungkin lebih memilih menikmati pagi dengan tenang, menghabiskan waktu bersama keluarga, menekuni hobi, menabung untuk tujuan tertentu, atau membangun kehidupan yang sesuai dengan keinginannya sendiri. Semua itu tetap memiliki nilai meskipun tidak pernah muncul di media sosial. Ketika seseorang tidak lagi merasa harus menunjukkan kebahagiaannya kepada orang lain, ia dapat memiliki lebih banyak ruang untuk benar-benar merasakannya.

    Orang memilih hidup low profile di era digital bukan berarti ia tidak memiliki ambisi, pencapaian, atau kehidupan yang menarik. Justru, pilihan tersebut dapat menunjukkan bahwa seseorang mulai lebih sadar mengenai batas antara kehidupan pribadi dan ruang publik. Di tengah media sosial yang membuat hampir semua hal mudah dipamerkan, memilih untuk tidak membagikan semuanya bisa menjadi bentuk kontrol terhadap diri sendiri, privasi, dan cara menikmati kehidupan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More