Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Banyak Anak Muda Ingin Punya Bisnis Sendiri?
Banyak Gen Z yang memilih untuk membangun bisnis sendiri (pixabay.com/startupstockphotos))

Memiliki bisnis sendiri kini menjadi impian banyak anak muda. Jika dulu pekerjaan kantoran dianggap sebagai tujuan utama setelah lulus sekolah atau kuliah, kini semakin banyak generasi muda yang justru bercita-cita menjadi pengusaha. Perkembangan teknologi, media sosial, hingga kemudahan membuka toko online membuat dunia bisnis terasa lebih mudah dijangkau dibandingkan beberapa tahun lalu.

Selain peluang yang semakin terbuka, perubahan cara pandang terhadap karier juga menjadi faktor penting. Namun, apakah tren ini hanya sekadar mengikuti gaya hidup, atau memang didorong oleh alasan yang lebih mendalam?

1. Ingin memiliki kebebasan dalam menentukan karier

Ilustrasi seorang pemula yang sedang membangun bisnis (freepik.com/Lifestylememory)

Mungkin salah satu alasan terbesar anak muda ingin memiliki bisnis sendiri adalah keinginan untuk memiliki kendali atas pekerjaan dan masa depan mereka. Menjadi pemilik usaha dianggap memberikan keleluasaan dalam menentukan jam kerja, memilih proyek, hingga mengambil keputusan tanpa terlalu bergantung pada aturan perusahaan.

Banyak anak muda tertarik membangun usaha sendiri karena memiliki kebebasan dalam mengatur pekerjaannya. Mereka tidak hanya mengejar penghasilan, tetapi juga menginginkan pekerjaan yang memberi ruang untuk berkembang, berkreasi, dan mengambil keputusan secara mandiri.

2. Teknologi membuat memulai bisnis semakin mudah

Ilustrasi membangun bisnis halal (freepik/tiarachardz)

Perkembangan internet telah mengubah cara seseorang memulai bisnis. Kini, seseorang dapat membuka toko online, memasarkan produk melalui media sosial, hingga menjangkau pelanggan di berbagai daerah hanya dengan menggunakan smartphone.

Menurut laporan Global Entrepreneurship Monitor (GEM) 2024/2025, digitalisasi telah menurunkan banyak hambatan dalam memulai usaha, terutama bagi generasi muda. Laporan tersebut menyebutkan bahwa akses terhadap teknologi dan platform digital membuat peluang berwirausaha menjadi lebih inklusif bagi berbagai kelompok masyarakat.

"Di 19 dari 48 negara, kurang dari satu dari tiga pengusaha baru mengharapkan AI menjadi sangat penting bagi bisnis mereka dalam waktu dekat. Perbedaan ini menandakan munculnya ekonomi kewirausahaan ditentukan oleh kemampuan dan akses teknologi," demikian laporan Global Entrepreneurship Monitor (GEM) 2024/2025.

3. Ingin menciptakan dampak, bukan sekadar mendapatkan gaji

Membangun Bisnis Bersama (pexel.com/Amina Filkins)

Banyak anak muda masa kini tidak hanya mengejar keuntungan finansial. Mereka juga ingin membangun bisnis yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, lingkungan, atau komunitas tertentu. Karena itu, semakin banyak bisnis yang mengusung konsep ramah lingkungan, produk lokal, hingga usaha berbasis sosial.

"Ada banyak alasan individual untuk memulai bisnis seperti halnya jumlah individu yang memulai bisnis. GEM APS berupaya untuk menggeneralisasi di antara individu dengan menanyakan kepada para pengusaha sejauh mana mereka setuju dengan empat motivasi yang diuraikan; (1) Untuk membuat perbedaan di dunia (2) Untuk melanjutkan tradisi keluarga (2) Untuk membangun kekayaan besar atau pendapatan yang sangat tinggi (4) Untuk mencari nafkah karena lapangan pekerjaan langka," dikutip dalam laporan Global Entrepreneurship Monitor (GEM) 2024/2025.

"Hasilnya menunjukkan persentase responden yang setuju (baik agak atau sangat setuju) dengan motivasi 'untuk membuat perbedaan di dunia'," demikian hasil laporan GEM.

Prinsip tersebut banyak diterapkan oleh generasi muda yang ingin membangun bisnis berdasarkan nilai yang mereka yakini. Mereka ingin usahanya tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi orang lain.

4. Kebebasan finansial menjadi daya tarik besar

Ilustrasi pasangan membangun bisnis bersama (freepik.com/freepik)

Alasan lain yang membuat banyak anak muda ingin memiliki bisnis adalah peluang memperoleh penghasilan yang tidak terbatas pada gaji bulanan. Walaupun membangun bisnis memiliki risiko, banyak orang percaya bahwa usaha yang berkembang dapat memberikan kebebasan finansial dalam jangka panjang. Tapi tentunya membangun bisnis bukanlah jalan pintas menuju kekayaan.

Membangun karier atau bisnis sebaiknya didasarkan pada pekerjaan yang benar-benar bermakna, bukan semata-mata mengejar uang. Kesuksesan bisnis tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan. Kepuasan dalam menjalankan usaha, kemampuan menciptakan nilai bagi pelanggan, serta keberlanjutan bisnis juga menjadi indikator penting yang tidak boleh diabaikan.

 

5. Situasi ekonomi yang tidak pasti membuat membangun bisnis sendiri terlihat lebih masuk akal

Banyak Gen Z yang memilih untuk membangun bisnis sendiri (pixabay.com/startupstockphotos))

Ketidakpastian ekonomi dalam beberapa tahun terakhir turut memengaruhi cara pandang anak muda terhadap karier. Perlambatan ekonomi global, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor, serta meningkatnya biaya hidup membuat banyak orang menyadari bahwa mengandalkan satu sumber pendapatan saja bisa menjadi pilihan yang berisiko.

Akibatnya, membangun bisnis sendiri dipandang sebagai salah satu cara yang 'masuk akal' untuk menciptakan peluang dan memperoleh sumber penghasilan tambahan. Hal ini sejalan dengan laporan World Economic Forum (WEF) dalam studinya The Future of Jobs Report 2025.

"Perubahan teknologi, fragmentasi geoekonomi, ketidakpastian ekonomi, pergeseran demografi, dan transisi hijau–secara individual maupun gabungan–merupakan beberapa pendorong utama yang diperkirakan akan membentuk dan mengubah pasar tenaga kerja global pada tahun 2030," demikian laporan WEF.

European Education Area melaporkan dalam temuan studinya bahwa kemampuan kewirausahaan bukan hanya tentang memulai bisnis. Ini adalah kompetensi lintas bidang dan seumur hidup yang mendorong kreativitas, ketahanan, kolaborasi, dan penciptaan nilai.

"Mengembangkan pola pikir kewirausahaan membantu peserta didik mengatasi tantangan seperti transisi hijau dan digital, sekaligus berkontribusi pada daya saing dan kohesi sosial Eropa," jelasnya.

Keinginan banyak anak muda untuk memiliki bisnis sendiri bukan sekadar mengikuti tren, melainkan dipengaruhi oleh perubahan cara pandang terhadap pekerjaan, kemajuan teknologi, serta kebutuhan akan kebebasan dan makna dalam berkarier. Meski menawarkan peluang yang besar, membangun bisnis tetap membutuhkan perencanaan, ketekunan, kemampuan belajar, dan kesiapan menghadapi risiko.

Curated For You

Editorial Team

Related Article