Banyak Gen Z yang memilih untuk membangun bisnis sendiri (pixabay.com/startupstockphotos))
Ketidakpastian ekonomi dalam beberapa tahun terakhir turut memengaruhi cara pandang anak muda terhadap karier. Perlambatan ekonomi global, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor, serta meningkatnya biaya hidup membuat banyak orang menyadari bahwa mengandalkan satu sumber pendapatan saja bisa menjadi pilihan yang berisiko.
Akibatnya, membangun bisnis sendiri dipandang sebagai salah satu cara yang 'masuk akal' untuk menciptakan peluang dan memperoleh sumber penghasilan tambahan. Hal ini sejalan dengan laporan World Economic Forum (WEF) dalam studinya The Future of Jobs Report 2025.
"Perubahan teknologi, fragmentasi geoekonomi, ketidakpastian ekonomi, pergeseran demografi, dan transisi hijau–secara individual maupun gabungan–merupakan beberapa pendorong utama yang diperkirakan akan membentuk dan mengubah pasar tenaga kerja global pada tahun 2030," demikian laporan WEF.
European Education Area melaporkan dalam temuan studinya bahwa kemampuan kewirausahaan bukan hanya tentang memulai bisnis. Ini adalah kompetensi lintas bidang dan seumur hidup yang mendorong kreativitas, ketahanan, kolaborasi, dan penciptaan nilai.
"Mengembangkan pola pikir kewirausahaan membantu peserta didik mengatasi tantangan seperti transisi hijau dan digital, sekaligus berkontribusi pada daya saing dan kohesi sosial Eropa," jelasnya.
Keinginan banyak anak muda untuk memiliki bisnis sendiri bukan sekadar mengikuti tren, melainkan dipengaruhi oleh perubahan cara pandang terhadap pekerjaan, kemajuan teknologi, serta kebutuhan akan kebebasan dan makna dalam berkarier. Meski menawarkan peluang yang besar, membangun bisnis tetap membutuhkan perencanaan, ketekunan, kemampuan belajar, dan kesiapan menghadapi risiko.