Terlebih, di masa pergolakan lingkungan, sosial, dan politik, kekacauan yang ada dapat menimbulkan ketidakpastian tentang apa yang terjadi selanjutnya. Dilansir Psychology Today, manusia cenderung hidup dalam kenangan masa lalu atau menatap khawatir ke arah masa depan. Di sinilah praktik mindfulness memiliki celah yang dapat mengurangi manfaat sesungguhnya jika tidak diterapkan secara seimbang.
4 Miskonsepsi Makna Mindfulness yang Bikin Praktiknya Keliru

- Mindfulness bukan upaya mengosongkan pikiran; praktik ini menekankan penerimaan atas pikiran yang muncul agar seseorang dapat menentukan pilihan secara sadar.
- Mindfulness tidak menghilangkan emosi atau membuat acuh tak acuh, melainkan membantu menyadari respons emosional dan mengurangi tindakan impulsif di tengah realitas kehidupan.
- Mindfulness bukan alasan untuk berpuas diri terhadap ketidakadilan; ketenangan dan kesadaran perlu disertai pemahaman sistem yang lebih luas serta tindakan bermakna.
Praktik mindfulness yang berakar dari meditasi Buddha kuno sejak 2.500 tahun lalu terus berkembang dan semakin populer diterapkan dalam kehidupan masa kini. Secara garis besar, praktik ini menekankan untuk menjadi lebih sadar dalam menjalani momen saat ini dengan perhatian penuh. Namun, praktiknya yang sederhana, membuat pemahaman mindfulness rawan mengalami miskonsepsi.
1. Mindfulness bukan upaya untuk menjernihkan atau mengosongkan pikiran

potret wanita sedang melihat smartphone (unsplash.com/Lensabl) Orang sering memandang mindfulness hanya sebagai praktik yang bertujuan menjernihkan pikiran atau meredam segala pemikiran. Pemahaman ini yang membuat praktik mindfulness gagal. Kamu mungkin beranggapan jika terus-menerus terpapar berita buruk, artinya “terganggu”, lalu solusinya menyingkirkannya.
Kenyataannya, munculnya pikiran adalah konteks yang tak terelakkan dan bersifat universal. Pikiran akan selalu muncul, sebab kamu manusia. Pikiran bekerja mereduksi gagasan, layaknya saat lambung memproduksi enzim pencernaan. Di tengah munculnya pikiran-pikiran tersebut manusia berusaha menghadapinya. Dalam praktiknya, laju pikiranmu pun bisa melambat dan ini situasi manusiawi.
Namun, melambatkan pikiran bukan “kegagalan” dan munculnya pikiran bukan “keberhasilan”. Saat kamu terus berusaha mengosongkan pikiran, pikiranmu justru akan semakin sibuk dan tertekan. Upaya menepis adalah bentuk penolakan (aversion) yang bisa menimbulkan penderitaan. Praktik mindfulness sesungguhnya tentang penerimaan mendalam, memberimu sumber kebebasan untuk menentukan secara sadar.
2. Mindfulness bukan berarti menjadi manusia yang tak punya emosi

potret perempuan merenung sambil memegang gelas (unsplash.com/Igor Shalyminov) Praktik mindfulness memang dapat mendatangkan ketenangan batin yang lebih kuat, kamu dapat bersikap lebih tenang dan terkendali. Namun, praktik mindfulness akan lebih bermanfaat jika kamu memandangnya sebagai jalan untuk mengurangi reaksi impulsif. Dengan begitu, dapat mendorong kamu memilih kata-kata dan tindakan secara lebih sadar.
Kamu mungkin tetap merasakan emosi yang kuat sebagai respons terhadap sumber rasa sakit dan ancaman yang nyata di kehidupan. Akan tetapi, praktik mindfulness dapat membantu kamu menyadari munculnya respons emosional tersebut tanpa terjebak di dalamnya. Sebaliknya, kesadaran yang luas dari hasil praktik mindfulness, seharusnya menciptakan peluang kamu memilih bagaimana merespons.
3. Mindfulness bukan berarti bersikap acuh tak acuh dan merasa tenang melebihi realitas

potret wanita bersantai di atas sofa (unsplash.com/James Forbes) Praktik mindfulness sering kali mengalami miskonsepsi mungkin karena figur yang menjadi contohnya. Kamu melihat para biksu atau praktisi meditasi, sering kali digambarkan sebagai sosok yang sangat tenang dan tidak melekat terhadap apapun. Akibatnya, mindfulness dipraktikkan sebagai sesuatu yang melampaui kehidupan sehari-hari.
Mindfulness dilihat sebagai sesuatu yang istimewa dan eksklusif. Padahal, praktik mindfulness seharusnya mengajakmu untuk hadir sepenuhnya di tengah segala realitas kehidupan manusia yang terjadi saat ini. Saat kamu berada di antara pergulatan batin, reaksi-reaksi sebagai manusia, serta keterhubungan kita terhadap sesama.
4. Mindfulness dalam praktiknya tidak sama dengan bersikap berpuas diri

potret wanita sedang berbaring di sofa (unsplash.com/hosein solimani) Praktik mindfulness sering kali hadir secara terisolasi dan tampak terpisah dari tindakan bermakna. Padahal, saat faktor kontekstual dan penindasan struktural diabaikan, praktik ini dapat disalahgunakan menjadi anjuran untuk merasa nyaman dengan ketidakadilan. Perlu dipahami, meditasi bukanlah tindakan melarikan diri dari masyarakat, melainkan untuk kembali ke diri sendiri, dan melihat apa yang terjadi.
Para psikolog dan akademisi lainnya justru telah menyoroti bagaimana proses internal dalam mindfulness terhubung dengan tindakan keadilan sosial yang bermakna. Praktik mindfulness dapat membantu seseorang menjadi lebih tenang dan tidak reaktif. Dengan begitu kamu bisa mengambil tindakan yang bermakna dan penuh pertimbangan, bukan justru menghindar atau bahkan tak melakukan apapun.
Menjalani kehidupan saat ini yang dipenuhi pergolakan lingkungan, sosial, dan politik, bisa jadi memang memerlukan kesadaran penuh (mindfulness), tapi perlu diseimbangkan dengan pemahaman akan sistem yang lebih luas, serta tindakan nyata. Dengan begitu, manfaat Mindfulness dapat memberi energi emosional dan membantu kamu agar tidak kewalahan menghadapi krisis. Selain itu, kehadiran diri secara utuh yang dilakukan dengan tepat, dapat meningkatkan empati, sehingga memungkinkan kamu mendengarkan dan terhubung dengan orang secara lebih mendalam.






















