Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Budaya Kerja “Selalu Sibuk” Bisa Berbahaya?
ilustrasi sibuk bekerja (pexels.com/Fox)
  • Budaya kerja selalu sibuk dapat memicu stres berkepanjangan yang mengganggu tidur, metabolisme, kekebalan tubuh, dan kesehatan jantung.
  • Kesibukan tanpa jeda meningkatkan risiko burnout, ditandai kelelahan emosional, sikap negatif pada pekerjaan, serta menurunnya energi dan konsentrasi.
  • Jam kerja panjang tidak selalu produktif; kelelahan memicu kesalahan, menghambat kreativitas, dan mengorbankan waktu istirahat serta hubungan pribadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Banyak orang merasa bangga ketika selalu sibuk. Di dunia kerja, kesibukan sering dianggap sebagai tanda bahwa seseorang produktif, dibutuhkan, dan punya karier yang bagus. Padahal, terus-menerus sibuk belum tentu berarti pekerjaan yang dilakukan semakin banyak atau semakin baik.

Budaya kerja “selalu sibuk” atau always-on justru bisa membuat seseorang lupa bahwa tubuh dan pikiran juga membutuhkan waktu untuk beristirahat. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kebiasaan bekerja tanpa jeda dapat memengaruhi kesehatan, hubungan dengan orang lain, bahkan menurunkan kualitas pekerjaan.

Lantas, kenapa budaya kerja seperti ini bisa berbahaya?

1. Terlalu banyak bekerja bisa berdampak pada kesehatan

ilustrasi bekerja sebagai kitchen crew (pexels.com/Rene Terp)

Tubuh tidak dirancang untuk terus berada dalam kondisi siap bekerja sepanjang waktu. Ketika seseorang terus menghadapi tekanan pekerjaan tanpa cukup waktu untuk memulihkan diri, tubuh dapat berada dalam kondisi stres yang berkepanjangan.

Kondisi tersebut dapat mengganggu tidur, metabolisme, sistem kekebalan tubuh, hingga kesehatan jantung. Kebiasaan bekerja terlalu lama juga dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan jika dilakukan secara terus-menerus. Risikonya bukan sekadar merasa lelah setelah menyelesaikan pekerjaan. 

2. Budaya “selalu sibuk” bisa memicu burnout

ilustrasi bekerja sebagai marketing assistant (unsplash.com/KOBU Agency)

Kesibukan yang tidak pernah berhenti juga dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami burnout. Kondisi ini bukan sekadar rasa lelah setelah melewati hari kerja yang panjang, melainkan respons terhadap stres pekerjaan yang berlangsung secara kronis. Burnout biasanya ditandai dengan kelelahan emosional, munculnya sikap sinis atau negatif terhadap pekerjaan, serta perasaan bahwa kemampuan diri dalam bekerja semakin menurun.

Ironisnya, seseorang yang mengalami kondisi ini belum tentu langsung berhenti bekerja. Ada yang tetap masuk kantor, menyelesaikan tugas, dan terlihat baik-baik saja dari luar. Namun, energi dan konsentrasinya sudah jauh berkurang sehingga pekerjaan terasa semakin berat untuk diselesaikan.

3. Lama bekerja tidak selalu berarti semakin produktif

ilustrasi bekerja (pexels.com/Artem Podrez)

Salah satu jebakan budaya hustle adalah anggapan bahwa semakin lama seseorang bekerja, semakin banyak juga hasil yang diperoleh. Padahal, hubungan antara waktu kerja dan produktivitas tidak selalu berjalan lurus. Setelah melewati batas tertentu, tambahan jam kerja justru bisa menghasilkan diminishing returns. Tubuh dan otak yang kelelahan akan lebih sulit berkonsentrasi, mengambil keputusan, dan mempertahankan ketelitian.

Akibatnya, kesalahan bisa semakin sering terjadi. Juga, pekerjaan yang seharusnya selesai dengan cepat malah membutuhkan waktu lebih lama karena harus diperbaiki. Jadi, duduk di depan laptop selama berjam-jam belum tentu sama dengan bekerja secara efektif.

4. Kreativitas dan kemampuan berpikir ikut terdampak

ilustrasi bekerja (pexels.com/Helena Lopes)

Pekerjaan yang membutuhkan ide dan pemecahan masalah juga membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak. Otak memerlukan waktu untuk memproses informasi, menghubungkan berbagai hal, dan menemukan sudut pandang baru.

Ketika setiap menit diisi dengan tugas, rapat, notifikasi, atau deadline, seseorang mungkin tidak memiliki cukup waktu untuk berpikir secara mendalam. Semua perhatian akhirnya terserap untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada di depan mata.

Padahal, jeda justru dapat membantu seseorang melihat masalah dari perspektif yang berbeda. Karena itu, istirahat bukan berarti membuang waktu. Dalam kondisi tertentu, mengambil jeda justru dapat membantu seseorang kembali bekerja dengan pikiran yang lebih jernih.

5. Kehidupan pribadi bisa ikut dikorbankan

ilustrasi laki-laki tetap bekerja saat berada di rumah (pexels.com/cottonbro)

Masalah budaya “selalu sibuk” tidak berhenti ketika jam kantor berakhir. Jika pekerjaan masih memenuhi pikiran pada malam hari atau akhir pekan, waktu untuk keluarga, teman, hobi, dan diri sendiri perlahan ikut berkurang. Awalnya mungkin hanya membalas beberapa pesan pekerjaan setelah pulang. Lama-kelamaan, seseorang terbiasa membuka laptop saat malam, mengecek email sebelum tidur, atau tetap memikirkan pekerjaan ketika sedang bersama keluarga.

Jika pola ini terus berlangsung, batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan bisa semakin kabur. Akibatnya, waktu untuk beristirahat dan menikmati kehidupan di luar pekerjaan ikut berkurang. Padahal, waktu tersebut penting untuk memulihkan energi sekaligus menjaga hubungan dengan orang-orang terdekat.

Pada akhirnya, produktivitas bukan tentang siapa yang paling lama berada di depan layar atau paling sering mengatakan dirinya sibuk. Bekerja dengan baik juga berarti tahu kapan harus berhenti agar bisa kembali bekerja dengan energi, fokus, dan kesehatan yang tetap terjaga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article