Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Novel dengan Tema Main Character Syndrome, Pesannya Deep!

5 Novel dengan Tema Main Character Syndrome, Pesannya Deep!
ilustrasi membaca buku (pexels.com/Gốm sứ Cương Duyên)
  • Lima novel menyoroti tokoh yang memusatkan hidup pada narasi diri: Underground Man, Patrick Bateman, Harry Haller, Holden Caulfield, dan Jay Gatsby.
  • Dostoevsky, Ellis, Hesse, Salinger, dan Fitzgerald memakai karakter tersebut untuk mengulas alienasi, validasi, citra, identitas, luka batin, serta obsesi mengendalikan hidup.
  • Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa ego dan persona yang terlalu dominan dapat mengisolasi diri, mengaburkan kemanusiaan orang lain, dan menjadikan narasi pribadi sebagai penjara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ada tipe tokoh utama dalam novel yang sejak halaman pertama terasa seperti sedang berkata, “Dunia ini tentang aku.” Mereka merasa dirinya berbeda, lebih sadar dibandingkan dengan orang lain, terlalu kompleks untuk dipahami, atau memiliki takdir yang seolah lebih besar daripada kehidupan manusia biasa. Menariknya, karakter semacam ini tidak selalu tampil sebagai sosok narsistik yang terang-terangan. Kadang, rasa “aku adalah pusat cerita” justru bersembunyi di balik kesepian, kecerdasan, idealisme, sinisme, bahkan luka psikologis yang belum selesai. Inilah yang dalam bahasa populer masa kini kerap disebut main character syndrome—kecenderungan melihat kehidupan seolah diri sendiri adalah protagonis utama, sementara orang lain hanya pemeran pendukung.

Dalam sastra, fenomena tersebut tentu jauh lebih kompleks daripada sekadar istilah media sosial. Banyak pengarang justru menggunakan karakter yang terlalu berpusat pada dirinya sendiri untuk menguliti ego manusia, kebutuhan akan validasi, alienasi, pencarian identitas, hingga absurditas kehidupan. Pembaca awalnya mungkin dibuat bersimpati kepada tokoh utama, tetapi perlahan diarahkan untuk mempertanyakan, "Jangan-jangan masalah terbesar karakter ini bukan dunia yang tidak memahaminya, melainkan dirinya sendiri yang terlalu sibuk membangun cerita tentang siapa dirinya."

Lima novel dengan tema main character syndrome berikut ini menarik untuk dibaca dengan perspektif tersebut. Hal ini dikarenakan kisahnya menyimpan pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar cerita tentang tokoh-tokoh yang “merasa dirinya paling penting”. Mari kita telusuri!

  1. 1. Notes from Underground karya Fyodor Dostoevsky

    cover novel Notes from Underground
    cover novel Notes from Underground (amazon.com)

    Novel karya Fyodor Dostoevsky ini mungkin merupakan salah satu contoh paling ekstrem tentang karakter yang hidup terlalu jauh di dalam kepalanya sendiri. Underground Man adalah seorang pria terasing yang merasa dirinya terlalu sadar, terlalu kritis, dan terlalu kompleks dibandingkan dengan manusia lain. Ia terus menganalisis dirinya, masyarakat, moralitas, kebebasan, bahkan tindakan-tindakan kecil manusia. Masalahnya, kesadaran tersebut tidak membuat hidupnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, ia semakin terjebak dalam keraguan dan kebencian terhadap dirinya sendiri. Dostoevsky menjadikan monolog batin tokoh ini sebagai medan untuk memperlihatkan bagaimana kesadaran berlebihan dapat berubah menjadi kelumpuhan eksistensial.

    Menariknya, Underground Man juga seperti seseorang yang selalu ingin menjadi tokoh utama dalam pikirannya sendiri. Ia membayangkan bagaimana orang lain memandangnya, memikirkan percakapan yang mungkin terjadi, menyusun skenario tentang penghinaan dan kemenangan, lalu kembali menganalisis semuanya. Ia ingin diakui sebagai individu yang unik, tetapi pada saat yang sama menolak kedekatan dengan manusia lain. Di sinilah ironi karakter tersebut bekerja: ia ingin dunia mengakui keunikannya, tetapi terus melakukan segala sesuatu yang membuat dirinya semakin terisolasi. Dengan kata lain, egonya tidak selalu berbentuk “aku lebih hebat”; terkadang ia hadir sebagai “tidak ada seorang pun yang mampu memahami betapa kompleksnya diriku”.

    Pesan terdalam novel ini justru terasa sangat relevan dengan budaya modern. Terlalu sibuk menganggap diri sebagai pusat cerita bisa membuat seseorang berhenti benar-benar menjalani hidup. Kita bisa begitu fokus pada bagaimana orang lain melihat kita sampai lupa melakukan sesuatu yang nyata. Kita bisa menghabiskan berjam-jam menyusun narasi mengenai diri sendiri, tetapi tidak pernah benar-benar bergerak. Underground Man menunjukkan bahwa kesadaran diri tanpa keberanian untuk bertindak dapat berubah menjadi penjara. Jadi, mungkin pertanyaan terpentingnya bukan “Siapa aku?”, melainkan “Apa yang kulakukan dengan kesadaran tentang diriku itu?”

  2. 2. American Psycho karya Bret Easton Ellis

    cover novel American Psycho
    cover novel American Psycho (amazon.com)

    Patrick Bateman adalah versi main character syndrome yang jauh lebih ekstrem. Ia tampan, kaya, memiliki pekerjaan prestisius, mengenakan pakaian mahal, mengetahui restoran terbaik, merawat tubuhnya secara obsesif, dan hidup dalam lingkungan elit New York. Hampir seluruh kehidupannya seperti katalog kesuksesan. Namun, di balik penampilan sempurna tersebut terdapat kehampaan identitas yang luar biasa. Bret Easton Ellis menggunakan Bateman untuk menyajikan satir gelap terhadap budaya konsumtif, materialisme, kompetisi status, dan obsesi masyarakat terhadap penampilan.

    Bateman tidak hanya ingin memiliki barang mewah. Ia ingin menjadi seseorang melalui barang-barang tersebut. Kartu nama, pakaian, apartemen, restoran, musik, hingga rutinitas perawatan tubuh berfungsi sebagai simbol identitas. Ia seperti manusia yang tidak memiliki pusat diri sehingga harus terus-menerus membangun persona. Yang mengerikan, ketika semua orang di lingkungannya juga melakukan hal serupa, identitas menjadi sulit dibedakan. Semua orang terlihat sukses, semua orang terlihat sempurna, dan semua orang berlomba menunjukkan bahwa dirinya lebih penting daripada orang lain. Bateman akhirnya menjadi karikatur ekstrem dari masyarakat yang menjadikan citra sebagai mata uang sosial.

    Karena itu, pesan subliminal American Psycho jauh lebih luas daripada kekerasan yang melekat pada reputasi novel ini. Ellis seakan bertanya, apa yang tersisa dari manusia ketika seluruh identitasnya dibangun dari apa yang ia konsumsi dan bagaimana orang lain memandangnya? Bateman ingin menjadi protagonis dalam sebuah dunia yang menjadikan status sebagai kompetisi, tetapi semakin keras ia mempertahankan citra tersebut, semakin kosong sosok di baliknya. Main character syndrome di sini berubah menjadi tragedi, ketika seseorang terlalu sibuk memainkan karakter utama, ia akhirnya tidak lagi tahu apakah masih ada “dirinya” di balik karakter tersebut atau tidak.

  3. 3. Steppenwolf karya Herman Hesse

    cover buku Steppenwolf
    cover buku Steppenwolf (amazon.com)

    Harry Haller dalam Steppenwolf karya Hermann Hesse adalah karakter yang hidup dalam keterasingan. Ia merasa dirinya terbagi antara manusia yang ingin hidup secara normal dan “serigala” yang merasa terpisah dari masyarakat. Haller memandang dunia modern dengan rasa jijik sekaligus ketertarikan. Ia merasa tidak cocok dengan masyarakat, tidak nyaman dengan kehidupan sosial, dan menganggap dirinya sebagai individu yang berada di luar kehidupan manusia kebanyakan.

    Namun, semakin jauh cerita berjalan, semakin jelas bahwa identitas “serigala” tersebut juga merupakan jebakan. Haller telah begitu lama mempercayai bahwa dirinya berbeda sehingga perasaan berbeda tersebut berubah menjadi semacam kebanggaan. Ia membangun narasi tentang dirinya sebagai manusia kompleks yang tidak mungkin hidup seperti orang biasa. Ironisnya, justru narasi tersebut membuatnya kehilangan kemungkinan untuk melihat dirinya secara lebih utuh. Ia seolah menjadi protagonis dalam mitologi pribadi yang ia ciptakan sendiri.

    Pesan subliminalnya sangat dalam. Kadang-kadang kita bukan hanya menderita karena dunia tidak memahami kita, tetapi juga karena kita terlalu mencintai identitas sebagai “orang yang tidak dipahami”. Label “aku berbeda” dapat menjadi sumber kebebasan, tetapi juga dapat menjadi penjara. Hesse seakan mengingatkan bahwa manusia tidak sesederhana satu persona. Kita memiliki kontradiksi, sisi absurd, keinginan yang saling bertentangan, dan banyak kemungkinan diri. Menjadi dewasa mungkin bukan menemukan satu identitas yang paling benar, melainkan belajar menerima bahwa diri kita memang terdiri dari banyak wajah.

  4. 4. The Catcher in the Rye karya J. D. Salinger

    cover novel The Catcher in the Rye
    cover novel The Catcher in the Rye (amazon.com)

    Holden Caulfield adalah salah satu karakter remaja paling terkenal dalam sastra modern. Ia membenci apa yang dianggapnya sebagai kepalsuan orang dewasa. Baginya, banyak orang terlalu munafik, terlalu materialistis, dan terlalu sibuk memainkan peran sosial. Holden ingin mempertahankan kepolosan dan keaslian manusia, terutama anak-anak. Tetapi justru di sinilah paradoksnya muncul. Ia sangat sibuk mengidentifikasi kepalsuan orang lain, sementara dirinya sendiri tidak sepenuhnya memahami mengapa ia begitu marah dan terasing.

    Holden memiliki karakteristik main character syndrome yang sangat subtil. Ia tidak selalu mengatakan bahwa dirinya lebih hebat. Sebaliknya, ia menempatkan dirinya sebagai orang yang mampu melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Ia merasa mengetahui siapa yang palsu dan siapa yang tulus. Posisi tersebut membuatnya seperti pengamat utama dunia. Akan tetapi, pembaca perlahan menyadari bahwa Holden juga sedang berjuang menghadapi kehilangan, ketakutan terhadap kedewasaan, perubahan, dan kebutuhan akan kasih sayang. Pandangannya terhadap dunia menjadi semacam pertahanan agar ia tidak perlu berhadapan langsung dengan luka tersebut.

    Pesan terdalam novel ini adalah bahwa merasa paling autentik pun dapat menjadi sebuah ego. Kita bisa begitu sibuk berkata, “Aku berbeda dari mereka,” sampai identitas kita justru dibangun berdasarkan penolakan terhadap orang lain. Holden menginginkan dunia yang jujur, tetapi ia sendiri belum mampu berdamai dengan kenyataan bahwa hidup memang penuh perubahan dan kehilangan. Pada akhirnya, kedewasaan bukan berarti berubah menjadi “phony”, melainkan menerima bahwa manusia bisa sekaligus tulus, kontradiktif, rapuh, dan tidak sempurna.

  5. 5. The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald

    cover novel The Great Gatsby
    cover novel The Great Gatsby (amazon.com)

    Jay Gatsby mungkin merupakan salah satu karakter yang paling sadar akan pentingnya menciptakan sebuah persona. Ia bukan sekadar menjalani hidup; ia mendesain dirinya sendiri. James Gatz berubah menjadi Jay Gatsby, seorang pria misterius yang memiliki rumah megah, mengadakan pesta besar, dan menciptakan citra bahwa dirinya memiliki kehidupan yang luar biasa. Di balik semua itu terdapat satu obsesi: masa lalu, Daisy Buchanan, dan impian tentang kehidupan yang menurutnya seharusnya ia miliki.

    Yang membuat Gatsby menarik adalah bahwa ia tidak hanya mengejar Daisy sebagai seorang perempuan. Ia mengejar versi dirinya sendiri yang ia bayangkan akan muncul jika ia berhasil mendapatkan Daisy kembali. Masa lalu kemudian tidak lagi menjadi kenangan, melainkan proyek. Ia ingin mengulang waktu, memperbaiki narasi, dan memaksa kehidupan mengikuti cerita yang sudah ia tulis dalam kepalanya. Gatsby menjadi tokoh utama dalam kisah yang ia percaya memiliki akhir tertentu. Masalahnya, manusia lain tidak pernah benar-benar membaca naskah yang sama.

    Di sinilah novel-novel subliminal Fitzgerald terasa pahit sekaligus indah. Kita tidak bisa memaksa dunia menjadi latar belakang bagi impian pribadi kita. Gatsby memiliki mimpi besar, tetapi ia lupa bahwa Daisy juga memiliki kehendak, ketakutan, kepentingan, dan kehidupan sendiri. Orang lain bukan karakter pendukung dalam kisah hidup kita. Mereka adalah protagonis dalam cerita mereka masing-masing. Tragisnya, Gatsby baru benar-benar terlihat sebagai manusia ketika narasi besar yang ia bangun mulai runtuh. Novel ini akhirnya menjadi kritik terhadap obsesi manusia untuk mengendalikan masa depan sekaligus masa lalu.

    Kelima rekomendasi novel dengan tema main character syndrome memperlihatkan karakter tersebut dengan cara yang lebih menarik daripada sekadar istilah untuk menyebut seseorang yang terlalu narsis. Lima novel ini akhirnya mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mengganggu, yakni kalau semua orang adalah tokoh utama dalam kehidupan masing-masing, siapa yang sebenarnya menjadi figuran? Dan mungkinkah selama ini kita hanya sedang menjadi figuran dalam cerita yang terlalu sibuk kita kira sebagai cerita tentang diri sendiri?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More