Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Barang Pemberian Orang Lain Sulit Dibuang meski Tidak Terpakai?

Kenapa Barang Pemberian Orang Lain Sulit Dibuang meski Tidak Terpakai?
ilustrasi memberikan kado (pexels.com/Budgeron Bach)
  • Barang pemberian sulit dibuang karena menyimpan kenangan dan nilai emosional dengan pemberinya.

  • Rasa sungkan dan kewajiban untuk menghargai pemberian membuat seseorang enggan melepaskannya.

  • Takut menyesal kemudian juga membuat barang yang sudah tidak terpakai tetap disimpan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kamu pernah punya barang di rumah yang sebenarnya sudah lama tidak dipakai, tetapi juga merasa tidak bisa membuangnya? Alasannya karena barang tersebut merupakan pemberian dari orang lain. Benda itu mungkin sudah rusak, tidak sesuai selera, atau bahkan hanya disimpan di sudut lemari, tetapi tetap terasa sayang untuk dibuang.

Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, barang tersebut sudah tidak memberikan manfaat apa-apa. Lemari jadi penuh, rumah terasa lebih berantakan, tetapi tangan seperti berat ketika harus memasukkannya ke kantong sampah. Ternyata perasaan seperti ini cukup wajar. Banyak orang cenderung lebih sulit membuang barang pemberian dibandingkan barang yang dibeli sendiri. Mari, kita bahas alasannya!

  1. 1. Ada kenangan yang ikut menempel pada barang

    ilustrasi menerima kado
    ilustrasi menerima kado (pexels.com/RODNAE Productions)

    Ketika seseorang memberikan hadiah, yang kamu terima sebenarnya bukan hanya benda. Ada momen, perhatian, bahkan hubungan dengan orang tersebut yang ikut melekat pada barang tersebut. Sebagai gambaran, kamu pernah mendapatkan sebuah tas dari teman dekat. Tas tersebut ternyata jarang digunakan karena modelnya tidak sesuai dengan gaya berpakaianmu. Meski begitu, setiap kali melihatnya, kamu mungkin langsung teringat pada teman yang memberikan.

    Inilah yang membuat proses membuang barang terasa lebih berat. Kamu mungkin berpikir seolah-olah bukan sedang membuang tas, baju, mug, atau peralatan rumah tangga, melainkan sedang membuang kenangan yang ada di baliknya. Padahal, kenangan tidak harus selalu disimpan dalam bentuk benda. Hubungan dan pengalaman dengan seseorang tetap ada meski barang pemberiannya sudah tidak lagi berada di rumah.

  2. 2. Ada rasa tidak enak pada orang yang memberi

    ilustrasi suami memberikan kado
    ilustrasi kado (pexels.com/Budgeron Bach)

    Alasan lainnya karena rasa sungkan. Kamu mungkin berpikir, “Kalau nanti dia tahu barangnya aku buang gimana?” Perasaan tersebut semakin kuat kalau pemberinya adalah orang terdekat, seperti orangtua, saudara, pasangan, atau sahabat. Ada semacam anggapan bahwa membuang hadiah berarti tidak menghargai pemberian. Padahal, menerima sebuah hadiah bukan berarti kamu harus menyimpannya selamanya.

    Orang memberikan barang biasanya karena ingin membuat kamu senang pada saat itu. Setelah barang tersebut diterima, kamu tetap berhak menentukan apakah benda itu masih berguna atau tidak. Kalau ternyata sudah tidak terpakai atau rusak, melepaskannya bukan berarti kamu tidak menghargai orang yang memberikan.

  3. 3. Merasa punya kewajiban untuk menyimpan barang pemberian

    ilustrasi menyimpan tas di dalam lemari
    ilustrasi menyimpan barang-barang di dalam lemari (pexels.com/Anastasia Shuraeva )

    Kadang-kadang, ada pikiran bahwa karena seseorang sudah bersusah payah memberikan barang tersebut, kamu harus menjaga dan menggunakannya selama mungkin. Sebagai contoh, seseorang memberikan pakaian yang cukup mahal. Meski ukurannya tidak pas atau modelnya tidak pernah kamu pakai, rasanya sayang kalau langsung disingkirkan. Ada perasaan, “Masa, sudah dikasih, malah dibuang?” Padahal, harga barang dan niat baik pemberinya merupakan dua hal yang berbeda. Kamu bisa menghargai usaha seseorang tanpa harus mempertahankan benda yang sudah tidak memiliki fungsi dalam kehidupan sehari-hari.

  4. 4. Barang pemberian memiliki nilai emosional tersendiri

    ilustrasi memberikan kado
    ilustrasi memberikan kado (pexels.com/ANTHONY SHKRABA production)

    Barang yang kita beli sendiri biasanya lebih mudah dievaluasi secara praktis. Kalau sudah tidak digunakan, kita bisa berpikir untuk menjual, mendonasikan, atau membuangnya. Namun, barang pemberian sering kali memiliki nilai emosional yang lebih besar daripada nilai gunanya.

    Sebuah mug biasa mungkin tidak berharga mahal. Namun, kalau mug itu diberikan oleh sahabat ketika kamu pindah rumah, misalnya, nilainya terasa berbeda. Karena itu, keputusan untuk membuangnya tidak lagi sekadar soal apakah mug tersebut masih berfungsi atau tidak. Ada pertanyaan lain yang muncul di kepala, “Kalau aku buang, apakah berarti momen itu juga ikut hilang?” Jawabannya tentu saja tidak. Namun, otak kita kadang menghubungkan benda dan pengalaman dengan sangat kuat.

  5. 5. Takut menyesal setelah membuangnya

    ilustrasi perempuan sedang beres-beres
    ilustrasi perempuan sedang beres-beres (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

    Ada juga kekhawatiran bahwa suatu hari nanti, mungkin kamu akan membutuhkan barang tersebut. Akhirnya, daripada menyesal, kamu memilih menyimpannya. Masalahnya, pola seperti ini bisa membuat rumah dipenuhi barang-barang yang tidak berguna.

    Satu barang mungkin tidak terasa mengganggu. Namun, kalau pola tersebut terjadi berkali-kali, jumlahnya bisa menumpuk. Lemari penuh dengan pakaian yang tidak pernah dipakai, rak berisi hadiah lama, atau laci menyimpan berbagai benda kecil yang bahkan sudah lupa kapan terakhir digunakan. Pada titik tertentu, kamu bukan lagi menyimpan barang karena membutuhkannya, tetapi karena merasa tidak tega untuk melepaskannya.

    Pada akhirnya, menghargai pemberian seseorang tidak selalu berarti menyimpan barangnya selamanya. Kamu bisa berterima kasih atas perhatian yang pernah diberikan, menikmati kenangannya, lalu tetap memilih untuk melepaskan benda tersebut ketika memang sudah tidak lagi dibutuhkan. Gimana menurutmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More