“Warna putih itu memang basic wedding color, timeless, classic. Tapi, kita juga mau menunjukkan bagaimana warna putih ini bisa digunakan dengan cara yang lebih contemporary atau modern. Hijau juga secara natural memang ada karena kita menggunakan elemen flora, flowers,” ujar Noel.
Gen Z Makin Berani Eksplorasi Wedding, Gak Cuma Serba Putih

- Gen Z makin berani mempersonalisasi pernikahan lewat kombinasi warna tak biasa, seperti oranye-biru atau merah muda-hijau, tanpa harus meninggalkan putih sebagai warna dasar.
- Di BCA Presents Bridestory Market 2026, tema Petal Dreamscape menampilkan lebih dari 420 vendor dan mengangkat dekorasi floral modern, termasuk bunga berbasis LED serta visual digital.
- Pilihan gaun dan interpretasi tema kini mengikuti karakter pasangan maupun signature vendor; gaya tradisional berpayet dan desain minimalis berbahan satin sama-sama diminati.
Jakarta, IDN Times - Pernikahan identik dengan warna putih, dekorasi bunga, dan gaun yang terlihat elegan. Namun, tren wedding masa kini mulai berubah mengikuti selera generasi yang akan menikah. Generasi Z, misalnya, disebut lebih berani mengeksplorasi warna dan konsep untuk membuat pernikahan terasa lebih personal.
Hal ini terlihat dalam acara BCA Presents Bridestory Market 2026 yang digelar pada 3-6 September 2026 di Hall 3-3A ICE BSD City, Tangerang Selatan. Mengusung tema Petal Dreamscape, gelaran ini menghadirkan lebih dari 420 vendor dari lebih dari 20 kategori untuk memberikan berbagai inspirasi pernikahan.
1. Kombinasi warna gak harus selalu warna "aman"

Salah satu dekorasi wedding di Bridestory Market 2026. (IDN Times/Maura Thirza) Putih memang masih menjadi warna yang lekat dengan pernikahan. Namun, bukan berarti penggunaannya harus selalu terlihat klasik. Menurut Noel Monique Renzita, Head of Content Bridestory, warna putih justru bisa dikemas dengan pendekatan yang lebih modern.
Eksplorasi warna tersebut membuat pasangan punya lebih banyak pilihan untuk menentukan suasana pernikahan. Alih-alih terpaku pada satu palet warna, kombinasi yang tidak biasa justru bisa menjadi ciri khas acara. Noel juga menyebutkan bahwa pasangan gen Z kini cenderung lebih berani dalam memilih warna untuk pernikahan mereka.
“Pengantin zaman sekarang, terlebih gen Z ini tuh, lebih berani. Mereka lebih mau eksplorasi, mau tabrakan warnanya, misal orange sama biru atau pink sama hijau,” ujar Noel.
2. Bunga bisa dibuat lebih modern

Elemen floral bisa hadir melalui teknologi digital. (IDN Times/Maura Thirza) Bunga juga masih menjadi elemen penting dalam dekorasi pernikahan. Bedanya, pasangan kini tidak harus menggunakan bunga segar atau dekorasi floral yang terlihat konvensional.
Noel menjelaskan, tema Petal Dreamscape sendiri terinspirasi dari penggunaan bunga yang dibuat lebih modern dan immersive. Elemen floral bahkan bisa hadir melalui teknologi digital.
“Petal Dreamscape itu pada intinya kayak penggunaan bunga-bunga karena namanya wedding kalau gak ada bunga, kayaknya kurang gitu, ya. Tapi dibikinnya lebih modern, lebih immersive. Kadang bisa juga mungkin bentuknya gak beneran bunga asli, mungkin dalam bentuk LED dengan visual digital yang bunga-bunga. Tetap ada bunga,” ungkap Noel.
Konsep tersebut kemudian dipadukan dengan kata “dreamscape” yang menggambarkan suasana seperti masuk ke dalam mimpi.
“Dreamscape itu lebih ke kayak masuk ke dalam mimpi gitu, jadi kayak dreamy, kayak sesuatu yang atmosfernya beda gitu kalau masuk ke area wedding itu,” lanjut Noel.
3. Gaun pengantin mengikuti personality

Salah satu inspirasi wedding dress di Bridestory Market 2026. (IDN Times/Maura Thirza) Eksplorasi dalam pernikahan juga terlihat dari pilihan gaun. Tidak semua calon pengantin ingin menggunakan gaun dengan banyak detail atau embellishment.
Menurut Noel, pilihan gaun kembali pada karakter masing-masing pengantin. Gaya tradisional dengan detail seperti sequins tetap memiliki peminat, tetapi gaun minimalis dengan material satin juga semakin menjadi pilihan.
“Kalau untuk wedding dress itu sebenarnya balik lagi ke personality dari bride-nya. Jadi kalau memang dia sukanya yang tradisional, biasanya memang ada sekuin atau apa. Tapi kalau misalnya dia lebih minimalis, sekarang juga banyak yang cuma satin saja, gak ada sekuin atau embellishment,” jelas Noel.
4. Satu tema, banyak interpretasi

salah satu vendor dekorasi dengan tema "Petal Dreamscape" di Bridestory Market 2026. (IDN Times/Maura Thirza) Menariknya, Petal Dreamscape tidak dibuat sebagai konsep yang harus diterapkan secara seragam. Bridestory justru mendorong setiap vendor untuk menerjemahkan tema tersebut sesuai karakter mereka masing-masing.
“Jadi memang selama tahun 2026 ini, selama event, kita juga encourage para vendor untuk menginterpretasikan tema tersebut ke booth mereka. Jadi, para pengunjung juga bisa lihat tetap sesuai dengan signature style masing-masing vendornya,” ujar Noel.
Tren wedding gen Z bukan sekadar soal mengikuti apa yang sedang populer. Warna, dekorasi, hingga gaun bisa dipilih dan dikombinasikan sesuai personality pasangan. Jadi, kalau pernikahanmu nanti gak serba putih dan malah pakai kombinasi warna yang berani, sah-sah saja. Justru bisa jadi itulah yang membuatnya terasa lebih “kamu”.





















