Ilustrasi bekerja (pexels.com/Photo by Antoni Shkraba Studio)
Memiliki ketertarikan pada isu lingkungan saja belum tentu cukup untuk mendapatkan pekerjaan hijau. Gen Z tetap perlu memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri. ILO dalam riset terbarunya mengenai green jobs di negara berkembang menemukan bahwa lowongan dengan tingkat tugas hijau yang lebih tinggi membutuhkan kombinasi keterampilan teknis, kognitif, sosial-emosional, manual, dan keterampilan khusus lingkungan.
"Temuan menunjukkan bahwa lowongan kerja hijau, yang memiliki intensitas tugas hijau yang relatif lebih tinggi, membutuhkan beragam kompetensi—baik keterampilan inti maupun teknis, di seluruh domain kognitif, sosial-emosional, dan manual, serta keterampilan khusus hijau," dikutip dari laporan International Labour Organization.
Keterampilan teknis dapat disesuaikan dengan bidang yang ingin dimasuki. Misalnya, calon pekerja energi terbarukan dapat mempelajari dasar kelistrikan dan teknologi energi, sedangkan seseorang yang tertarik pada sustainability perusahaan dapat mempelajari pengelolaan data lingkungan, ESG, carbon accounting, atau pelaporan keberlanjutan. Untuk bidang ekonomi sirkular, pengetahuan tentang pengelolaan material, limbah, desain produk, dan efisiensi sumber daya dapat menjadi nilai tambah.
Namun, jangan mengabaikan soft skill. WEF memperkirakan hampir 40 persen keterampilan inti pekerja akan berubah pada 2030. Selain keterampilan teknologi, creative thinking, ketahanan, fleksibilitas, dan kemampuan beradaptasi tetap menjadi kemampuan penting.