Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Penyebab Ruangan Terasa Lebih Panas daripada Suhu di Luar

4 Penyebab Ruangan Terasa Lebih Panas daripada Suhu di Luar
ilustrasi menggunakan kipas angin (magnific.com/jcomp)
  • Atap dan dinding yang terpapar matahari menyimpan panas lalu menyalurkannya ke dalam, sehingga ruangan tetap gerah meski udara luar mulai sejuk.
  • Ventilasi minim, jendela satu sisi, atau furnitur yang menghalangi aliran udara membuat panas dan uap air terperangkap di dalam ruangan.
  • Elektronik yang beroperasi menambah panas, sementara kelembapan dari memasak, mandi, mencuci, atau menjemur menghambat penguapan keringat dan memperparah rasa gerah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Apakah kamu pernah merasa ruangan terkadang terasa lebih panas dari suhu di luar? Kondisi ini dapat terjadi karena bangunan menyerap panas, sementara udara panas tidak keluar dengan baik. Akibatnya, suhu dan kelembapan di dalam ruangan bisa membuat tubuh merasa lebih gerah.

Perbedaan tersebut biasanya semakin terasa pada siang hingga sore hari setelah rumah menerima panas selama berjam-jam. Posisi rumah, bahan bangunan, ventilasi, serta berbagai aktivitas di dalam ruangan dapat memengaruhi kondisi tersebut. Berikut beberapa penyebab yang membuat ruangan terasa lebih panas daripada suhu di luar.

  1. 1. Atap dan dinding menyimpan panas matahari

    ilustrasi renovasi rumah
    ilustrasi renovasi rumah (pexels.com/Brett Jordan)

    Atap menjadi salah satu bagian rumah yang paling banyak menerima paparan sinar matahari. Permukaan atap dapat menyerap radiasi matahari dan mengalami peningkatan suhu selama siang hari. Panas tersebut kemudian berpindah dari atap menuju ruang di bawahnya sehingga ruangan tetap terasa panas meskipun udara luar mulai lebih sejuk.

    Dinding juga dapat mengalami hal yang sama, terutama jika terkena sinar matahari langsung dalam waktu lama. Material seperti beton, semen, dan batu bata memiliki kemampuan menyimpan panas sehingga permukaannya tidak langsung dingin setelah matahari terbenam. Kondisi ini membuat panas dari bangunan terus masuk ke ruangan selama beberapa waktu, terutama jika rumah tidak memiliki lapisan isolasi yang cukup.

  2. 2. Sirkulasi udara di dalam ruangan kurang baik

    ilustrasi membuka jendela
    ilustrasi membuka jendela (pexels.com/cottonbro studio)

    Udara panas perlu keluar agar ruangan dapat menerima udara yang lebih sejuk. Jika jendela hanya berada di satu sisi ruangan, aliran udara biasanya tidak sebaik ruangan yang memiliki jendela pada sisi berbeda. Ventilasi yang kurang memadai juga membuat udara panas berkumpul dan menyebabkan ruangan terasa semakin pengap.

    Posisi furnitur dapat memperburuk kondisi tersebut jika menutup jendela, ventilasi, atau jalur masuk udara. Ruangan yang terlalu penuh juga membuat pergerakan udara menjadi lebih terbatas. Membuka beberapa bukaan pada posisi yang memungkinkan terjadinya aliran silang dapat membantu mengeluarkan udara panas dan meningkatkan pertukaran udara di dalam rumah.

  3. 3. Peralatan elektronik menambah sumber panas

    ilustrasi gadget
    ilustrasi gadget (pexels.com/Pixabay)

    Berbagai perangkat elektronik juga menghasilkan panas ketika digunakan. Televisi, komputer, lampu, dan perangkat elektronik lainnya mengubah sebagian energi listrik menjadi panas selama beroperasi. Jumlah panas dari satu perangkat mungkin tidak terasa besar, tetapi beberapa perangkat yang digunakan bersamaan dapat meningkatkan suhu ruangan secara perlahan.

    Pengaruhnya akan lebih terasa pada ruangan kecil dengan ventilasi terbatas. Sebagai contoh, komputer dengan beban kerja tinggi dapat menghasilkan panas cukup besar ketika digunakan dalam waktu lama. Kulkas juga melepaskan panas melalui bagian belakangnya saat sistem pendingin memindahkan panas dari dalam kulkas ke lingkungan sekitar. Jika panas tersebut tidak segera keluar, suhu ruangan dapat meningkat.

  4. 4. Kelembapan tinggi membuat ruangan terasa lebih gerah

    ilustrasi menggunakan air conditioner
    ilustrasi menggunakan air conditioner (freepik.com/freepik)

    Kita tidak hanya merasakan suhu, tetapi juga pengaruh kelembapan ketika berada di dalam ruangan. Tubuh mendinginkan diri dengan menguapkan keringat dari permukaan kulit. Ketika udara memiliki kelembapan tinggi, proses penguapan tersebut menjadi kurang efektif sehingga tubuh terasa lebih panas dan lengket.

    Kelembapan di dalam rumah dapat meningkat karena aktivitas seperti memasak, mandi, mencuci, atau menjemur pakaian. Kondisi tersebut menjadi lebih buruk ketika ruangan tidak memiliki ventilasi yang cukup untuk membuang uap air. Karena itu, ruangan dengan suhu yang sebenarnya tidak jauh berbeda dari luar tetap dapat terasa jauh lebih gerah ketika kelembapannya tinggi dan udara hampir tidak bergerak.

    Suhu di luar yang lebih rendah belum tentu membuat rumah terasa lebih sejuk. Kondisi bangunan dan udara di dalam ruangan dapat membuat panas bertahan lebih lama, terutama setelah terkena matahari sepanjang hari. Memahami faktor tersebut membantu kita mengetahui bagian rumah mana yang perlu diperbaiki agar udara terasa lebih nyaman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More