Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Profesional di Internet: Gimana Batas Personal Account dan Pribadi?
Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Anton Tkachenko)

Dulu, kehidupan pribadi dan pekerjaan relatif mudah dipisahkan. Setelah jam kantor selesai, seseorang bisa pulang dan meninggalkan urusan pekerjaan di tempat kerja. Sekarang, batas itu semakin tipis karena media sosial membuat kehidupan personal dapat dilihat oleh rekan kerja, atasan, klien, bahkan perusahaan hanya melalui satu akun.

Punya personal account tentu bukan berarti seseorang harus selalu tampil formal. Namun, persoalan bisa muncul ketika unggahan pribadi bersinggungan dengan pekerjaan, membocorkan informasi internal, menyerang kolega, atau membuat orang lain mempertanyakan profesionalitas seseorang.

1. Personal account tetap personal, tetapi bukan berarti tanpa konsekuensi

Ilustrasi bekerja sebagai freelancer (unsplash.com/Photo by hj barraza)

Memiliki akun pribadi tidak otomatis membuat semua unggahan terbebas dari konsekuensi profesional. Begitu sebuah unggahan berada di ruang digital, kemungkinan konten tersebut dilihat, disimpan, atau dibagikan oleh orang lain tetap ada.

Bahkan ketika sebuah akun dikunci, seseorang yang memiliki akses tetap bisa mengambil screenshot dan menyebarkannya ke luar lingkaran pertemanan. Penelitian tentang hubungan media sosial dan pekerjaan menunjukkan bahwa batas antara ranah pribadi dan profesional memang semakin kabur.

Studi dalam Computers in Human Behavior Reports terhadap 212 pekerja penuh waktu menemukan bahwa semakin bercampurnya batas personal dan profesional di media sosial dapat berkaitan dengan kecemasan sosial-media, terutama ketika dukungan dari atasan dirasakan rendah. Ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan hanya soal apa yang diunggah, tetapi juga bagaimana seseorang mengelola batas antara dua identitas tersebut.

"Temuan ini menyoroti bahwa hubungan antara kaburnya batasan secara daring dan keterikatan kerja menunjukkan pola mediasi termoderasi yang lebih kompleks daripada dugaan sebelumnya. Penelitian ini mengindikasikan bahwa kaburnya batasan secara daring dapat menimbulkan pengalaman psikologis negatif bagi karyawan," dikutip dari ScienceDirect.

2. Tidak semua unggahan pribadi harus dianggap mewakili perusahaan

Ilustrasi bekerja (pexels.com/Photo by Anna Shvets)

Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap seorang karyawan otomatis menjadi 'perwakilan perusahaan' dalam setiap aktivitas digitalnya. Padahal, seseorang bisa saja memiliki opini, gaya hidup, humor, dan kehidupan personal yang tidak berhubungan dengan pekerjaannya.

Perusahaan juga tidak seharusnya menganggap semua aktivitas personal karyawan sebagai bagian dari komunikasi resmi organisasi. Namun, situasinya dapat berbeda ketika seseorang secara terbuka mencantumkan jabatan, perusahaan, atau pekerjaannya di profil.

Identitas profesional tersebut membuat audiens lebih mudah menghubungkan perilaku personal dengan tempat kerja. Jadi, prinsip yang lebih sehat bukanlah jangan pernah unggah hal pribadi, tetapi pahami kapan unggahan personal berpotensi membawa konsekuensi ke profesional.

3. Yang mulai masuk wilayah etika: rahasia kantor, kolega, dan klien

Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Redmind Studio)

Ada perbedaan besar antara mengunggah foto makanan saat jam makan siang dan mengunggah screenshot percakapan internal kantor. Yang pertama, umumnya merupakan ekspresi personal. Yang kedua, dapat menyangkut privasi, kerahasiaan, reputasi perusahaan, bahkan informasi milik pihak lain yang seharusnya tidak disebarkan.

Masalah juga muncul ketika seseorang menjadikan media sosial sebagai tempat melampiaskan konflik pekerjaan. Menyebut nama rekan kerja, membagikan percakapan internal, mengunggah foto kolega tanpa persetujuan, atau menceritakan masalah klien dapat mengubah konflik pribadi menjadi persoalan profesional.

Penggunaan media sosial yang ceroboh dapat menyebabkan kesalahan yang berdampak pada reputasi organisasi maupun karyawan. Itulah kenapa penting menggunakan media sosial secara bijak dan memahami batasan apa yang boleh diunggah dan tidak.

4. Haruskah atasan dan rekan kerja masuk ke personal account?

Ilustrasi bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

Tidak ada kewajiban bahwa semua rekan kerja harus menjadi teman di media sosial. Mengikuti akun profesional seperti LinkedIn mungkin terasa wajar, tetapi menerima permintaan pertemanan dari atasan atau kolega di akun yang sangat personal, bisa membuat seseorang merasa kehilangan ruang privat. Sebaliknya, menolak permintaan tersebut juga tidak seharusnya otomatis dianggap sebagai sikap tidak ramah atau tidak profesional.

Menurut SHRM, pakar, peneliti, advokat, dan pemimpin pemikiran terdepan mengenai berbagai isu dan inovasi dalam dunia kerja, menjelaskan bahwa sejumlah profesional HR justru menyarankan kehati-hatian. Hal itu karena hubungan tersebut dapat membuka informasi pribadi yang tidak diperlukan untuk pekerjaan dan berpotensi menciptakan konflik atau kesan pilih kasih. Dengan kata lain, menjaga jarak digital tidak selalu berarti tidak menghargai kolega.

"Sebagian berpendapat bahwa menerima permintaan pertemanan dari karyawan sah-sah saja, namun harus dilakukan dengan hati-hati. Sementara itu, ada pula yang menyarankan untuk mengajak karyawan tersebut terhubung melalui LinkedIn karena platform tersebut lebih bersifat profesional," demikian laporannya.

Persoalan batas juga berlaku dari sisi perusahaan. Mark Kluger, seorang pengacara ketenagakerjaan yang juga dikutip SHRM, memperingatkan agar perusahaan tidak melakukan pengawasan berlebihan terhadap akun personal karyawan. Perusahaan memang punya kepentingan terhadap hal-hal yang berdampak pada pekerjaan, tetapi bukan berarti perusahaan otomatis berhak mengatur seluruh kehidupan digital karyawannya.

"Tujuannya adalah mencegah ucapan merusak suasana kerja, bukan menjadi kurator atas semua konten yang dibagikan karyawan di media sosial. Sebagai contoh, perusahaan sebaiknya menegaskan bahwa karyawan harus menghindari unggahan yang berisi ujaran kebencian atau intoleransi di media sosial. Sangatlah penting bagi karyawan untuk memahami apa yang dianggap pantas dan tidak pantas," sarannya.

5. Cara menjaga personal account tetap personal sekaligus profesional

Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Anton Tkachenko)

Langkah pertama adalah menentukan batas akun. Kamu bisa menggunakan akun profesional untuk portofolio, pencapaian pekerjaan, networking, atau konten industri, sementara akun personal digunakan untuk keluarga, teman, hobi, dan kehidupan sehari-hari. Tidak ada aturan bahwa seseorang wajib memiliki dua akun, tetapi pemisahan tersebut dapat membantu ketika batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi mulai terasa terlalu kabur.

Langkah kedua adalah membuat kebiasaan berpikir dulu sebelum posting. Tidak perlu sampai mengalami overthinking setiap kali ingin mengunggah sesuatu. Cukup tanyakan beberapa hal: apakah informasi ini rahasia? Apakah ada orang lain yang terlihat atau disebut tanpa persetujuan? Apakah unggahan ini bisa disalahartikan jika tersebar di luar konteks? Apakah saya akan tetap nyaman jika unggahan ini dilihat rekan kerja enam bulan dari sekarang? Pertanyaan sederhana seperti ini bisa menjadi filter sebelum sesuatu masuk internet.

Menjadi profesional di internet bukan berarti harus terlihat sempurna setiap saat. Profesional berarti tahu kapan harus berbagi, kapan harus menjaga privasi, dan kapan harus menyadari bahwa sebuah unggahan bisa membawa konsekuensi lebih jauh dari yang kita bayangkan.

Personal account tetap merupakan bagian dari kehidupan pribadi seseorang, tetapi internet membuat batas personal dan profesional kabur. Kamu tidak harus mengubah akun pribadi menjadi etalase perusahaan atau menghapus seluruh sisi personal hanya karena bekerja di sebuah organisasi. Yang lebih penting adalah memahami bahwa kebebasan berekspresi berjalan bersama tanggung jawab, terutama ketika unggahan menyangkut orang lain, informasi pekerjaan, atau reputasi profesional.

Curated For You

Editorial Team

Related Article