Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kebanyakan Deterjen Ternyata Bisa Jadi Masalah, Ini Takaran yang Tepat
ilustrasi menuangkan deterjen (pexels.com/RDNE Stock project)

Pernah menuangkan deterjen lebih banyak ke mesin cuci karena merasa pakaian terlalu kotor? Kebiasaan ini cukup umum dilakukan, apalagi ketika cucian menumpuk setelah beraktivitas seharian. Banyak orang mengira semakin banyak busa yang muncul, semakin bersih pula pakaian yang dicuci. Padahal, jumlah busa bukan satu-satunya penentu kebersihan pakaian.

Penggunaan deterjen yang berlebihan justru bisa meninggalkan residu pada kain, menghasilkan busa berlebih, dan membuat proses pembilasan kurang optimal. Sebaliknya, deterjen yang terlalu sedikit juga berisiko membuat kotoran tidak terangkat dengan baik. Lalu, bagaimana cara menentukan takaran deterjen yang tepat?

1. Jangan mengukur deterjen hanya dari banyaknya busa

ilustrasi deterjen cair (pexels.com/rdne)

Salah satu kebiasaan yang perlu diubah adalah menuangkan deterjen berdasarkan perkiraan. Ada yang menggunakan satu tutup penuh untuk setiap cucian, ada pula yang menambahkan deterjen ketika busa terlihat sedikit. Padahal, setiap produk memiliki konsentrasi dan petunjuk pemakaian berbeda.

Deterjen cair pekat, deterjen bubuk, dan deterjen khusus mesin cuci tidak selalu membutuhkan takaran yang sama. American Cleaning Institute (ACI), organisasi yang memberikan edukasi mengenai produk dan praktik kebersihan.

"Selalu gunakan jumlah detergen yang tepat saat mencuci. Berapa jumlah yang tepat? Bacalah label pada kemasan dan ingatlah bahwa penggunaan detergen yang terlalu banyak maupun terlalu sedikit dapat membuat pakaian kurang bersih dibandingkan jika menggunakan takaran yang optimal. Ikuti petunjuk perawatan bahan yang tertera pada pakaian kamu," demikian panduan American Cleaning Institute.

Jadi, gunakan gelas ukur, tutup takar, atau sendok takar yang memang disediakan oleh produsen. Jangan menganggap busa melimpah sebagai tanda bahwa pakaian sudah lebih bersih. Yang lebih penting adalah mengikuti dosis yang tertera pada kemasan dan memastikan deterjen sesuai dengan jenis mesin cuci yang digunakan.

2. Sesuaikan takaran dengan jumlah dan tingkat kekotoran pakaian

Ilustrasi deterjen pakaian (freepik.com/freepik)

Takaran deterjen perlu disesuaikan dengan banyaknya pakaian yang dicuci. Cucian sedikit tentu tidak selalu membutuhkan deterjen sebanyak satu tabung penuh. Sebaliknya, pakaian yang sangat kotor mungkin memerlukan dosis lebih besar sesuai petunjuk produk.

Oleh karena itu, jangan menggunakan takaran yang sama untuk semua kondisi pencucian. Menurut panduan dari Tide, jumlah deterjen yang dibutuhkan dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu ukuran muatan cucian, tingkat kekotoran pakaian, dan tingkat kesadahan air.

Tide menjelaskan bahwa pakaian yang lebih kotor dapat membutuhkan lebih banyak deterjen, sementara air sadah dapat memengaruhi efektivitasnya. Sebagai contoh, jika kamu hanya mencuci beberapa kaus yang dipakai sebentar, jangan langsung memakai dosis untuk cucian penuh.

"Semakin kotor pakaian kamu, semakin banyak detergen yang perlu digunakan dalam sekali mencuci. Hal ini membantu menghilangkan kotoran dan mencegahnya menempel kembali pada pakaian kamu," dikutip dalam panduan Tide tentang How Much Laundry Detergent to Use.

Periksa panduan takaran pada kemasan dan pilih kategori muatan yang sesuai. Untuk pakaian yang terkena lumpur atau noda makanan, lakukan penanganan noda terlebih dahulu jika diperlukan, alih-alih langsung menuangkan deterjen berlebihan ke seluruh cucian.

3. Perhatikan jenis mesin cuci yang digunakan

ilustrasi mesin cuci latar hitam putih (pexels.com/Adrienne Andersen)

Mesin cuci bukaan depan dan bukaan atas dapat memiliki kebutuhan deterjen yang berbeda, tergantung desain serta sistem pencuciannya. Mesin cuci efisiensi tinggi atau High Efficiency (HE) misalnya, dirancang menggunakan air lebih sedikit. Karena itu, penggunaan deterjen yang tidak sesuai dapat menghasilkan busa berlebihan dan membuat pembilasan kurang optimal.

Jadi seperti yang sudah dijelaskan di awal, deterjen sebaiknya selalu ditakar, bukan dituangkan berdasarkan perkiraan. Penggunaan deterjen non-HE pada mesin yang membutuhkan deterjen HE, dapat menimbulkan busa berlebih, memperpanjang siklus pencucian, dan mengurangi efektivitas pembilasan.

Sebaiknya sebelum membeli atau menggunakan deterjen, periksa buku petunjuk mesin cuci untuk mengetahui jenis produk yang direkomendasikan. Jika mesin membutuhkan deterjen HE, pilih produk yang mencantumkan keterangan tersebut. Jangan pula menganggap semua deterjen pekat memiliki dosis yang sama, sebab produk dengan konsentrasi berbeda bisa membutuhkan jumlah yang berbeda pula.

4. Kenali tanda-tanda kamu menggunakan deterjen terlalu banyak

Ilustrasi sabun deterjen (pixabay.com/karunasanghvi)

Salah satu tanda yang patut diperhatikan adalah munculnya bercak atau gumpalan putih pada pakaian setelah dicuci. Selain itu, kain bisa terasa licin atau seperti memiliki lapisan sisa sabun, sementara bagian dalam mesin cuci terasa berlendir.

Namun, residu putih tidak selalu disebabkan oleh kelebihan deterjen. Muatan yang terlalu penuh, deterjen yang tidak larut sempurna, dan kondisi air juga bisa menjadi penyebabnya.

Mengutip Whirlpool tentang Clothing has White Residue, menjelaskan bahwa deterjen berlebih dapat meninggalkan gumpalan residu yang belum larut pada pakaian. Sisa deterjen juga dapat menumpuk di mesin cuci apabila pembilasan tidak berlangsung dengan baik.

Jika kondisi ini terus berulang, periksa kembali takaran, jenis deterjen, kapasitas muatan, dan pengaturan pencucian yang digunakan. Jika pakaian masih memiliki residu setelah selesai dicuci, coba jalankan siklus bilas tambahan sesuai petunjuk mesin cuci.

5. Hindari takaran berlebihan, tetapi jangan terlalu pelit deterjen

ilustrasi saat memakai deterjen (pexels.com/RDNE Stock project)

Setelah mengetahui risiko deterjen berlebih, bukan berarti kamu harus selalu menggunakan jumlah sesedikit mungkin. Deterjen tetap dibutuhkan untuk mengangkat kotoran, minyak, dan bau dari pakaian. Jika dosisnya terlalu rendah, hasil pencucian bisa kurang maksimal, terutama untuk pakaian yang sangat kotor atau cucian dalam jumlah besar.

American Cleaning Institute menjelaskan bahwa penggunaan deterjen yang terlalu banyak maupun terlalu sedikit dapat membuat pakaian kurang bersih dibandingkan jika menggunakan jumlah yang optimal. Artinya, tujuan utamanya bukan menghemat deterjen dengan mengurangi dosis secara sembarangan, melainkan menemukan takaran yang sesuai dengan kebutuhan pencucian.

Untuk menghemat penggunaan deterjen, biasakan memilah pakaian berdasarkan warna, bahan, dan tingkat kekotoran sebelum mencuci. Hindari memenuhi tabung melebihi kapasitas, karena pakaian yang terlalu padat dapat menghambat proses pencucian dan pembilasan. Dengan muatan yang sesuai, takaran yang akurat, dan siklus pencucian yang tepat, kamu bisa mendapatkan pakaian bersih tanpa harus terus menambah deterjen.

Menggunakan deterjen lebih banyak bukan jaminan pakaian menjadi lebih bersih. Takaran yang tepat justru bergantung pada jumlah cucian, tingkat kekotoran, konsentrasi produk, karakteristik air, dan jenis mesin cuci. Mulai sekarang, biasakan membaca petunjuk pada kemasan, menggunakan alat takar, serta memperhatikan tanda-tanda residu setelah pencucian.

Curated For You

Editorial Team

Related Article