Ilustrasi membaca buku (pexels.com/George Milton)
Media sosial sering menampilkan orang yang mampu menyelesaikan banyak buku dalam sebulan, lengkap dengan daftar bacaan dan ulasan mendalam. Konten seperti ini bisa menjadi inspirasi, tetapi juga berpotensi membuatmu merasa kurang produktif ketika kecepatan membacamu berbeda. Padahal, setiap orang memiliki waktu luang, kemampuan konsentrasi, dan kebutuhan membaca yang gak sama. Ada orang yang bisa menyelesaikan satu buku dalam beberapa hari, sedangkan orang lain membutuhkan waktu berminggu-minggu. Keduanya tetap bisa menikmati bacaan dengan caranya masing-masing. Daripada membandingkan jumlah buku yang sudah dibaca, cobalah memperhatikan pengalaman yang kamu dapatkan, seperti menemukan sudut pandang baru, memahami suatu persoalan, atau sekadar menikmati cerita yang menghibur.
Menikmati membaca gak harus mengikuti tren, membeli buku yang sedang populer, atau mengejar target tertentu. Kamu bisa memulainya dari topik yang disukai, memilih waktu yang sesuai, dan mencoba format bacaan yang berbeda. Kalau saat ini belum menemukan buku yang membuatmu betah, gak perlu buru-buru menyerah. Cobalah mengeksplorasi berbagai genre dan berikan dirimu kesempatan untuk menemukan bacaan yang sesuai dengan kehidupan atau rasa ingin tahumu. Kamu juga boleh berhenti membaca buku yang ternyata gak cocok dengan seleramu. Bisa jadi, buku yang paling kamu nikmati justru bukan buku yang sedang ramai dibicarakan.
Pada akhirnya, membaca adalah aktivitas yang bisa kamu nikmati dengan cara sendiri. Kamu boleh membaca satu buku selama sebulan, mengulang buku favorit berkali-kali, atau sesekali berhenti untuk menikmati aktivitas lain. Pengalaman membaca tetap berarti meskipun gak kamu bagikan kepada siapa pun. Selama aktivitas ini memberimu pengetahuan, pengalaman yang bermakna, atau sekadar kesenangan, kamu gak perlu membuktikan apa pun kepada orang lain. Nikmati prosesnya tanpa terbebani oleh pencapaian membaca orang lain.