Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Appeal to Authority: Ketika Reputasi Lebih Dipercaya Dibanding Data
ilustrasi orang mengobrol (pexels.com/Edmond Dantès)
  • Appeal to authority adalah sesat pikir ketika klaim dianggap benar hanya karena disampaikan figur berotoritas atau populer, bukan karena data, logika, dan bukti empiris.
  • Fenomena ini dipicu halo effect serta tekanan hierarki, yang membuat orang menggeneralisasi keahlian figur atau segan menyanggah senior maupun pihak berkuasa.
  • Dampaknya mencakup misinformasi, melemahnya berpikir kritis, dan keputusan merugikan; hindari dengan memeriksa bukti, relevansi keahlian, konsensus, sumber, serta membandingkan sumber independen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kamu pernah gak percaya terhadap suatu klaim hanya karena orang yang menyampaikannya punya prestise, misalnya punya jabatan atau kedudukan yang lebih tinggi? Padahal bisa saja klaim yang dilontarkannya itu gak benar. Kondisi ini lazim terjadi dalam diskusi sehari-hari dan merupakan salah satu jenis sesat pikir bernama appeal to authority.

Secara garis besar, appeal to authority adalah fenomena ketika kebenaran suatu ide atau gagasan dinilai semata-mata berdasarkan siapa yang mengatakannya, bukan dari bukti nyata atau argumentasi yang kritis dan logis. Di era banjirnya informasi saat ini, pemahaman akan appeal to authority menjadi penting untuk membuat seseorang gak menelan mentah-mentah informasi yang didapatkan, khususnya dari media sosial.

1. Definisi appeal to authority

ilustrasi orang sedang menyampaikan pendapat (pexels.com/Xhemi Photo)

Appeal to authority (atau disebut pula sebagai argumentum ad verecundiam) adalah sesat pikir yang terjadi ketika seseorang menganggap suatu klaim benar hanya karena disampaikan oleh orang yang punya otoritas, kekuasaan, maupun popularitas. Kenapa bisa dianggap sesat? Sebab, kualifikasi seseorang gak otomatis menjadikan setiap pernyataannya valid.

Pola penalaran appeal to authority bisa dirumuskan secara sederhana sebagai berikut: figur dianggap punya otoritas, figur menyebut klaim X itu benar, simpulannya klaim x benar. Contoh konkretnya, kepala sekolah mengeklaim bahwa pembelajaran tanpa tugas rumah pasti meningkatkan prestasi siswa. Semua guru dan orang tua pun setuju karena menghormati kedudukannya sebagai kepala sekolah. Padahal, klaim itu belum diuji melalui penelitian pedagogi atau gak ada bukti empiris yang valid.

Pernyataan dari seseorang yang dianggap ahli memang terdengar berbobot dan meyakinkan. Namun, kekeliruan itu terjadi saat syarat-syarat berikut gak terpenuhi:

  • Keahlian yang sesuai. Figur punya keahlian di bidang yang sedang didiskusikan. Misalnya, ahli gizi mengeklaim topik seputar gizi.

  • Dukungan konsesus. Klaim sejalan dengan pandangan mayoritas ahli di bidangnya atau minimal gak bertentangan dengan konsesus yang kuat dan teruji.

  • Kredibilitas dan objektivitas. Figur atau lembaga tersebut bebas dari potensi konflik kepentingan, bias pribadi, atau tekanan pihak tertentu.

  • Kejelasan sumber. Klaim benar-benar berasal dari figur yang bersangkutan dan dikutip secara akurat.

2. Penyebab terjadinya appeal to authority

ilustrasi orang mengobrol (pexels.com/iPrice Group)

Ada sejumlah faktor yang mendorong terjadinya appeal to authority, di antaranya adanya halo effect dan tekanan hierarki. Halo effect adalah bias kognitif yang membuat manusia cenderung menggeneralisasi keahlian seseorang. Misalnya, orang yang sukses dianggap serba tahu. Begitu juga dengan orang yang terkenal dinilai punya integritas tinggi. Alhasil, pendapat mereka di ranah yang sama sekali gak dikuasai ditelan mentah-mentah oleh publik.

Sementara itu, tekanan hierarki muncul karena adanya rasa sungkan dan tunduk secara berlebihan. Misalnya, kamu menganggap benar pernyataan yang dilontarkan oleh seniormu di tempat kerja karena kamu merasa takut dan gak enak hati untuk menyanggahnya.

3. Dampak nyata appeal to authority

ilustrasi orang mengobrol (pexels.com/Gustavo Fring)

Sesat pikir itu gak boleh dibiarkan, termasuk appeal to authority. Sebab, dampak yang ditimbulkan dari fenomena ini terbilang cukup berbahaya bagi pola pikir seseorang. Adapun dampak nyata yang biasanya muncul seperti maraknya misinformasi. Klaim yang salah tapi diterima oleh publik hanya karena disampaikan oleh influencer dengan jutaan pengikut bisa menyebar sangat cepat, sehingga menyesatkan orang-orang secara meluas.

Selain maraknya misinformasi, seseorang juga jadi terbiasa mengonsumsi informasi tanpa menyaringnya terlebih dahulu. Kebiasaan ini secara gak langsung menumpulkan kemampuan berpikir kritis dan diskusi yang sehat. Kemudian, tanpa sadar, appeal to authority juga membuat seseorang mengambil keputusan yang salah hingga membawanya pada kerugian nyata, terjebak investasi bodong misalnya.

4. Cara agar terhindar dari jebakan appeal to authority

ilustrasi orang mengobrol (pexels.com/RDNE Stock project)

Untuk terhindar dari jebakan appeal to authority, kamu harus berlatih fokus pada argumen yang disampaikan alih-alih hanya fokus pada sosok yang menyampaikan. Pisahkan antara isi pesan dan sosok penyampainya. Dengan begitu, kamu gak membiarkan gelar dan reputasi seseorang membuatmu langsung menerima klaim begitu saja tanpa menguji validitasnya.

Selain itu, kamu bisa langsung bertanya pada lawan bicara dengan sopan tapi tegas untuk memperoleh penjelasan terkait data atau logika yang mendasari klaimnya, seperti dengan mengatakan “Apa bukti yang mendasari pendapatmu?”

Kemudian, ketika kamu mengutip pernyataan seseorang, sertakan sumber dengan jelas agar bisa diperiksa. Pastikan juga bahwa orang atau lembaga yang kamu kutip ahli di bidang yang dibahas atau setidaknya sejalan dengan konsesus para ahli di bidang tersebut. Kamu bisa menggunakan lebih dari satu sumber independen agar kesimpulanmu gak bertumpu pada satu orang saja.

Memercayai sebuah klaim begitu saja hanya karena status seseorang adalah hal yang keliru. Sebab, kebenaran informasi itu ditentukan oleh data, logika, maupun bukti empiris, bukan oleh seberapa tinggi atau populer orang yang menyampaikannya. Jadi, yuk, lebih kritis lagi dalam mengonsumsi informasi dengan check and recheck!

 

Sumber referensi:

Esoriel. (2026). Appeal to authority fallacy. Diakses pada Oktober 2026

Lutfiyah, N. U. (2018). Logical fallacy dan cyberbullying pada media sosial facebook: Studi Analisa wacana pada kasus Demonstrasi 212 (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim)

Ruangguru. (2025). Berbagai Macam Sesat Pikir (Logical Fallacy) Part 2. Diakses pada Oktober 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article