ilustrasi orang mengobrol (pexels.com/RDNE Stock project)
Untuk terhindar dari jebakan appeal to authority, kamu harus berlatih fokus pada argumen yang disampaikan alih-alih hanya fokus pada sosok yang menyampaikan. Pisahkan antara isi pesan dan sosok penyampainya. Dengan begitu, kamu gak membiarkan gelar dan reputasi seseorang membuatmu langsung menerima klaim begitu saja tanpa menguji validitasnya.
Selain itu, kamu bisa langsung bertanya pada lawan bicara dengan sopan tapi tegas untuk memperoleh penjelasan terkait data atau logika yang mendasari klaimnya, seperti dengan mengatakan “Apa bukti yang mendasari pendapatmu?”
Kemudian, ketika kamu mengutip pernyataan seseorang, sertakan sumber dengan jelas agar bisa diperiksa. Pastikan juga bahwa orang atau lembaga yang kamu kutip ahli di bidang yang dibahas atau setidaknya sejalan dengan konsesus para ahli di bidang tersebut. Kamu bisa menggunakan lebih dari satu sumber independen agar kesimpulanmu gak bertumpu pada satu orang saja.
Memercayai sebuah klaim begitu saja hanya karena status seseorang adalah hal yang keliru. Sebab, kebenaran informasi itu ditentukan oleh data, logika, maupun bukti empiris, bukan oleh seberapa tinggi atau populer orang yang menyampaikannya. Jadi, yuk, lebih kritis lagi dalam mengonsumsi informasi dengan check and recheck!
Sumber referensi:
Esoriel. (2026). Appeal to authority fallacy. Diakses pada Oktober 2026
Lutfiyah, N. U. (2018). Logical fallacy dan cyberbullying pada media sosial facebook: Studi Analisa wacana pada kasus Demonstrasi 212 (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim)
Ruangguru. (2025). Berbagai Macam Sesat Pikir (Logical Fallacy) Part 2. Diakses pada Oktober 2026