Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Post Hoc Ergo Propter Hoc, Sesat Pikir yang Memicu Keputusan Keliru

4 min read
Post Hoc Ergo Propter Hoc, Sesat Pikir yang Memicu Keputusan Keliru
ilustrasi orang sedang berdebat (pexels.com/Gustavo Fring)
  • Post hoc ergo propter hoc adalah sesat pikir yang menganggap peristiwa A menyebabkan B hanya karena terjadi lebih dulu, padahal urutan waktu bukan bukti kausalitas.
  • Bias pencarian pola, bias konfirmasi, dan terabaikannya faktor tersembunyi membuat orang mudah menghubungkan kejadian berurutan secara keliru.
  • Kekeliruan ini dapat melanggengkan mitos, memicu keputusan dan solusi salah sasaran, serta prasangka; sikapi dengan berpikir kritis, mencari faktor pemicu, dan memeriksa bukti ilmiah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Post hoc ergo propter hoc merupakan salah satu jenis logical fallacy yang menyimpulkan bahwa dua peristiwa yang terjadi secara berurutan punya hubungan sebab-akibat. Istilah ini berasal dari bahasa latin yang jika diterjemahkan secara harfiah berarti “setelah ini, maka karena ini.”

Dalam ilmu logika, cara berpikir seperti ini dinilai keliru karena ketika A terjadi sebelum B, bukan berarti A menyebabkan B. Tanpa kita sadari, post hoc ergo propter hoc umum digunakan atau dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kita perlu memahami sesat pikir ini supaya terhindar dari kesimpulan yang salah.

  1. 1. Definisi post hoc ergo propter hoc

    ilustrasi orang sedang berdebat
    ilustrasi orang sedang berdebat (pexels.com/Monstera Production)

    Post hoc ergo propter hoc merupakan kekeliruan dalam berpikir ketika seseorang menganggap suatu kejadian sebagai penyebab dari kejadian lain hanya karena kejadian itu terjadi lebih dulu. Dengan kata lain, kekeliruan ini muncul karena seseorang menyamakan korelasi urutan waktu dengan kausalitas (sebab-akibat).

    Pola penalaran post hoc ergo propter hoc dapat dirumuskan secara sederhana sebagai berikut: Peristiwa A terjadi, lalu peristiwa B terjadi, simpulannya A dipastikan menjadi penyebab B. Ketika B gak diinginkan, pola ini kerap diperluas secara terbalik, yakni menghindari A akan mencegah terjadinya B.

    Contoh umum dalam fenomena ini ialah sejak pemerintah menaikkan pajak, angka perceraian meningkat. Kesimpulannya, pajak menjadi penyebab perceraian. Klaim dalam contoh sederhana itu jelas keliru karena gak menunjukkan hubungan sebab-akibat yang valid. Atau contoh lainnya, setelah divaksin, saya langsung flu. Kesimpulannya, vaksin menjadi penyebab flu. Klaim tersebut tetap keliru karena gak mempertimbangkan faktor lain yang bisa menyebabkan seseorang flu.

  2. 2. Penyebab terjadinya post hoc ergo propter hoc

    ilustrasi orang sedang rapat
    ilustrasi orang sedang rapat (unsplash.com/Dylan Gillis)

    Sesat pikir ini gak muncul begitu saja, ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi kenapa seseorang terjebak dalam post hoc ergo propter hoc, seperti adanya patternicity. Dalam psikologi kognitif, patternicity dapat dikaitkan dengan bias kognitif ketika individu cenderung mengenali pola (termasuk dari hal yang sebenarnya gak memiliki pola). Otak manusia itu secara alami dirancang mencari pola demi bertahan hidup. Sayangnya, kondisi ini kerap membuat manusia tertipu menghubungkan dua kejadian acak yang berurutan seolah punya hubungan sebab-akibat.

    Selain itu, ada juga bias konfirmasi (confirmation bias) yang membuat manusia cenderung hanya mengingat kejadian yang mendukung keyakinannya tanpa memerhatikan fakta yang bertentangan. Dengan kata lain, seseorang hanya percaya apa yang ingin ia percaya. Misalnya, kamu dapat nilai bagus saat menggunakan “baju keberuntungan”, tapi kamu lupa kalau kamu pernah dapat nilai jelek ketika pakai baju yang sama.

    Gak hanya itu, gagalnya individu menyadari keberadaan faktor tersembunyi yang sebenarnya memicu timbulnya suatu peristiwa juga dapat menjadi penyebab seseorang terjebak dalam post hoc ergo propter hoc.

  3. 3. Dampak post hoc ergo propter hoc

    ilustrasi orang mengobrol
    ilustrasi orang mengobrol (pexels.com/fauxels)

    Apakah kamu termasuk orang yang percaya mitos dan takhayul? Kepercayaan akan mitos dan takhayul boleh jadi merupakan salah satu dampak buruk dari fenomena post hoc ergo propter hoc yang terus dilanggengkan. Sebab, saat seseorang berulang kali mengaitkan dua kejadian yang sebenarnya gak berhubungan, hanya berurutan, ia akan mengasumsikan hal itu sebagai kebenaran.

    Post hoc ergo propter hoc juga membuat individu mengambil keputusan yang keliru. Salah menentukan penyebab masalah tentu membuat solusi jadi gak tepat sasaran. Jika demikian, risiko bahaya bisa mengintai, khususnya di dunia kesehatan. Pola pikir ini pun berpotensi memicu timbulnya prasangka buruk dan pencarian kambing hitam.

  4. 4. Cara menyikapi post hoc ergo propter hoc

    ilustrasi orang mengobrol
    ilustrasi orang mengobrol (pexels.com/SHVETS production)

    Menyikapi fenomena ini memang gak mudah, tapi kamu bisa memulainya dengan cara sederhana, sadari dan ingatlah bahwa dua hal yang terjadi berurutan gak otomatis punya kausalitas. Saat melihat dua kejadian terjadi secara berdekatan, berpikir kritislah, tanyakan pada diri sendiri “Apa faktor yang sebenarnya menjadi pemicu?” Kamu juga bisa melakukan riset atau mengecek bukti ilmiahnya sebelum memercayai suatu kesimpulan.

    Bersikap skeptis itu gak selalu buruk. Justru, sikap ini penting selama dilakukan secara sehat untuk menyelamatkan diri dari informasi yang belum tentu benar atau hanya sekadar asumsi.

    Pada akhirnya, post hoc ergo propter hoc melatih kita untuk gak langsung menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan urutan waktu. Yuk, terus asah pemikiran kritis itu agar kamu bisa membuat keputusan yang lebih bijak dan rasional, serta terhindar dari klaim yang menyesatkan!

     

    Sumber referensi:

    CSIS: Center for Strategic & International Studies. (2024). Post Hoc Ergo Propter Hoc? Diakses pada Oktober 2026

    Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya. (2026). Confirmation bias: Ketika kita hanya percaya apa yang ingin kita percaya. Diakses pada Oktober 2026

    Scientific American. (2008). Patternicity: Finding Meaningful Patterns in Meaningless Noise. Diakses pada Oktober 2026

    Ulfah, M., Safitri, S. N., & Jannah, N. W. (2025). Kontribusi Ilmu Mantiq Dalam Membedah Kekeliruan Berfikir (Fallcay) Di Media Sosial. Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara, 1(6), 462-470.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More