Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Buku Favorit Frank Ocean yang Patut Dibaca Sekali Seumur Hidup
Frank Ocean (billboard.com)
  • Frank Ocean dikenal gemar membaca, dengan referensi favorit yang mencakup sastra klasik, filsafat, isu sosial, dan budaya populer.
  • Daftar bacaannya meliputi The Prophet, Utopia, serta Mr. Norris Changes Trains, yang menawarkan refleksi hidup, kritik sosial-politik, dan drama Berlin menjelang rezim Nazi.
  • The New Jim Crow membahas diskriminasi rasial dalam sistem hukum AS, sementara Difficult Men mengulas perubahan televisi Amerika lewat karakter kompleks dan proses kreatif serial terkenal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Frank Ocean dikenal bukan hanya sebagai musisi berbakat, tetapi juga sosok yang gemar membaca dan kerap membagikan referensi buku favoritnya. Selera bacanya pun cukup beragam, mulai dari sastra klasik, filsafat, hingga buku nonfiksi yang membahas budaya populer. Tak heran jika karya-karyanya sering dipuji karena memiliki lirik puitis dan penuh makna.

Kalau penasaran dengan bacaan yang menginspirasi Frank Ocean, beberapa buku berikut bisa menjadi pilihan menarik. Selain menyajikan cerita atau gagasan yang mendalam, masing-masing buku juga mengajak pembaca melihat kehidupan dari sudut pandang berbeda. Berikut lima buku favorit Frank Ocean yang layak dibaca setidaknya sekali seumur hidup.

1. The Prophet — Kahlil Gibran

buku The Prophet (kahlilgibran.com)

The Prophet merupakan salah satu karya sastra paling terkenal dari Kahlil Gibran. Buku ini berisi kumpulan esai puitis yang membahas berbagai aspek kehidupan, seperti cinta, keluarga, kebebasan, hingga kematian. Setiap bab ditulis dengan bahasa indah dan penuh filosofi sehingga terasa seperti kumpulan nasihat yang tetap relevan meski telah diterbitkan sejak lama.

Banyak pembaca menganggap buku ini sebagai teman untuk merenung karena setiap halamannya menawarkan makna yang bisa ditafsirkan secara berbeda. Frank Ocean pun diketahui menjadikan buku ini sebagai salah satu bacaan favoritnya, kemungkinan karena gaya penulisannya yang puitis dan emosional.

2. Utopia — Thomas More

Utopia (goodreads.com)

Ditulis pada tahun 1516, Utopia merupakan novel yang memadukan fiksi dengan pemikiran politik dan sosial. Buku ini menceritakan sebuah pulau imajiner yang memiliki sistem pemerintahan, aturan, dan kehidupan masyarakat sangat berbeda dari dunia nyata. Melalui kisah tersebut, Thomas More sebenarnya sedang menyampaikan kritik terhadap kondisi sosial dan politik pada zamannya.

Frank Ocean pernah menyebut buku ini di akun Tumblr miliknya dan bahkan memuji kualitas penulisannya. Meski usianya sudah ratusan tahun, ide-ide dalam Utopia masih sering menjadi bahan diskusi hingga sekarang. Buku ini cocok bagi pembaca yang senang mempertanyakan bagaimana sebuah masyarakat ideal seharusnya dibangun serta ingin menikmati karya klasik yang tetap terasa relevan.

3. Mr. Norris Changes Trains — Christopher Isherwood

Mr Norris Changes Trains (ndbooks.com)

Novel karya Christopher Isherwood ini mengisahkan William Bradshaw, seorang guru asal Inggris yang tanpa sengaja bertemu Arthur Norris di dalam kereta. Pertemuan sederhana itu berkembang menjadi hubungan pertemanan yang rumit karena Norris ternyata menyimpan banyak rahasia. Ia dikenal sopan dan karismatik, tetapi juga memiliki sisi gelap yang perlahan mulai terungkap.

Latar Berlin menjelang bangkitnya rezim Nazi membuat cerita ini semakin menarik sekaligus menegangkan. Isherwood tidak hanya menghadirkan karakter kompleks, tetapi juga menggambarkan suasana politik dan sosial yang sedang berubah drastis. Perpaduan antara drama pribadi dan sejarah menjadikan novel ini terasa hidup sekaligus memberikan gambaran tentang masa-masa penuh ketidakpastian di Eropa.

4. The New Jim Crow — Michelle Alexander

The New Jim Crow (newjimcrow.com)

Berbeda dari buku-buku sebelumnya, The New Jim Crow adalah karya nonfiksi yang mengulas sistem peradilan pidana di Amerika Serikat. Michelle Alexander berpendapat bahwa diskriminasi rasial belum benar-benar hilang, melainkan berubah bentuk melalui praktik hukum dan kebijakan yang berdampak besar terhadap komunitas kulit hitam.

Ia menyampaikan argumennya berdasarkan data, penelitian, dan pengalaman sebagai praktisi hukum. Buku ini mengajak pembaca melihat persoalan keadilan sosial dari perspektif yang lebih luas. Tak mengherankan jika karya ini sering menjadi referensi dalam diskusi mengenai hak sipil dan kesetaraan ras. Frank Ocean yang juga kerap menyoroti isu identitas dan kemanusiaan melalui musiknya.

5. Difficult Men — Brett Martin

Difficult Men (goodreads.com)

Difficult Men mengupas perubahan besar dalam industri televisi Amerika pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Brett Martin menjelaskan bagaimana serial seperti The Sopranos, The Wire, Mad Men, Deadwood, dan The Shield berhasil mengubah standar tayangan televisi. Tokoh utamanya tidak lagi selalu digambarkan sebagai pahlawan, melainkan karakter yang rumit, penuh kekurangan, dan sering membuat keputusan keliru.

Selain membahas serial-serial legendaris, buku ini juga memperlihatkan proses kreatif para penulis, produser, dan kreator di balik layar. Pembaca akan memahami mengapa era tersebut sering disebut sebagai masa keemasan televisi modern. Bagi penggemar film, serial, maupun dunia penulisan skenario, Difficult Men menawarkan banyak cerita menarik tentang lahirnya karya-karya yang mengubah industri hiburan.

Pilihan buku favorit Frank Ocean menunjukkan bahwa inspirasinya tidak hanya datang dari musik, tetapi juga dari berbagai karya sastra hingga. Dari semua rekomendasi tersebut, buku mana yang paling membuatmu penasaran untuk dibaca terlebih dahulu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article