Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Keinginan Orangtua Lansia yang Sering Tak Terucap kepada Anak Dewasa

5 min read
5 Keinginan Orangtua Lansia yang Sering Tak Terucap kepada Anak Dewasa
ilustrasi orang tua (pexels.com/Nadirsyah Nadirsyah)
  • Orangtua lansia ingin dikenali sebagai pribadi di fase hidup saat ini, bukan hanya melalui peran masa lalu, lewat obrolan dan kebersamaan yang tidak selalu fokus pada masalah.
  • Pembicaraan terbuka sejak dini tentang kesehatan, tempat tinggal, perawatan, keuangan, dan pilihan masa depan penting agar keinginan mereka terlibat serta mengurangi kebingungan keluarga.
  • Anak dewasa perlu menghadapi perbedaan dengan sabar, menawarkan bantuan tanpa mengambil alih kemandirian, dan hadir untuk mendengarkan tanpa selalu memaksakan solusi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ketika orangtua mulai memasuki usia lanjut, hubunganmu dengan mereka biasanya ikut mengalami perubahan. Kalau dulu mereka yang lebih banyak merawat dan memastikan kamu baik-baik saja, sekarang mungkin kamu yang mulai lebih sering memperhatikan kondisi mereka.

Namun, perhatian kepada orangtua ternyata gak selalu berarti harus mengambil alih semua urusan mereka, lho. Di balik perubahan tersebut, ada beberapa hal yang mungkin sebenarnya diinginkan orangtua, tapi gak selalu mereka sampaikan secara langsung. Memahami keinginan tersebut bisa membantumu menjaga hubungan tetap dekat sekaligus menghargai kemandirian mereka.

Yuk, cari tahu apa saja keinginan orangtua lansia yang mungkin selama ini mereka pendam lewat beberapa poin berikut.

  1. 1. Ingin kamu mengenal dirinya di fase kehidupan yang baru

    ilustrasi orang tua lansia
    ilustrasi orang tua lansia (pexels.com/RDNE Stock project)

    Orangtua yang semakin tua tentu sudah mengalami banyak perubahan dibandingkan ketika kamu masih kecil. Mereka mungkin sekarang punya lebih banyak waktu untuk keluarga, menikmati peran sebagai kakek-nenek, menghadapi perubahan kondisi fisik, atau mulai menyesuaikan diri dengan rutinitas yang berbeda. Karena itu, jangan hanya melihat mereka sebagai sosok orangtua yang kamu kenal sejak kecil, ya. Psychology Today menekankan bahwa orangtua yang menua juga ingin dikenal berdasarkan siapa diri mereka sekarang, bukan hanya berdasarkan peran dan masa lalunya.

    Kamu bisa menunjukkan perhatian dengan cara sederhana, misalnya mengajak ngobrol, mendengarkan cerita mereka, atau menanyakan apa yang sedang dipikirkan. Gak semua pertemuan harus diisi dengan pertanyaan soal kesehatan atau kebutuhan sehari-hari. Orangtua juga ingin menikmati waktu bersama anak tanpa merasa setiap pertemuan selalu berkaitan dengan masalah yang harus diselesaikan. Ketika kamu memberi ruang untuk mengenal mereka kembali, hubungan kalian bisa terasa lebih hangat dan setara.

  2. 2. Ingin kamu mau membicarakan hal penting secara terbuka

    ilustrasi pasangan lansia
    ilustrasi pasangan lansia (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Ada beberapa pembicaraan yang memang terasa gak nyaman dilakukan bersama orangtua. Mulai dari kondisi kesehatan, tempat tinggal, kebutuhan perawatan, keuangan, sampai keinginan mereka jika suatu saat sudah gak mampu mengambil keputusan sendiri. Meski sensitif, pembicaraan seperti ini justru penting dilakukan ketika keadaan masih memungkinkan. Psychology Today menyebut bahwa komunikasi lebih awal mengenai kesehatan, tempat tinggal, dan keinginan di akhir kehidupan dapat membantu mengurangi konflik dan kebingungan di kemudian hari.

    Hal ini juga sejalan dengan panduan National Institute on Aging atau NIA. NIA menyarankan agar keluarga membicarakan rencana masa depan sebelum orangtua membutuhkan bantuan yang lebih besar, sehingga mereka masih punya kesempatan untuk menyampaikan pilihan dan mengambil keputusan. Dalam menentukan tempat tinggal maupun perawatan, keinginan, kondisi kesehatan, kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari, dan preferensi orangtua perlu ikut dipertimbangkan. Jadi, daripada menebak apa yang mereka mau, lebih baik kamu bertanya dan mendengarkan jawabannya dengan terbuka.

  3. 3. Ingin perbedaan di antara kalian diselesaikan dengan damai

    ilustrasi diskusi
    ilustrasi diskusi (pexels.com/cottonbro studio)

    Semakin dewasa, semakin besar kemungkinan kamu dan orangtua memiliki pandangan yang berbeda. Kalian mungkin gak sepakat soal cara menjalani hidup, mengurus keluarga, pekerjaan, uang, sampai keputusan mengenai masa depan. Perbedaan seperti ini sebenarnya wajar karena kamu dan orangtua tumbuh dalam situasi serta pengalaman yang gak selalu sama. Psychology Today juga menekankan pentingnya menghadapi perbedaan dengan kebaikan, kesabaran, pengertian, serta kemauan untuk saling memaafkan.

    Karena itu, kamu gak harus selalu memenangkan setiap perdebatan dengan orangtua. Kalau ada masalah, cobalah membicarakannya ketika suasana sudah lebih tenang dan berikan kesempatan kepada mereka untuk menjelaskan sudut pandangnya. Kadang, tujuan percakapan bukan untuk membuat salah satu pihak mengaku kalah, tapi supaya kalian sama-sama memahami alasan di balik suatu pilihan. Dengan begitu, perbedaan gak harus berubah menjadi jarak yang membuat hubungan keluarga semakin renggang.

  4. 4. Ingin dibantu tanpa merasa kehilangan kemandirian

    ilustrasi orangtua lansia
    ilustrasi orangtua lansia (magnific.com/magnific)

    Ketika orangtua mulai menua, wajar kalau kamu menjadi lebih khawatir terhadap keselamatan dan keseharian mereka. Kamu mungkin ingin lebih sering menelepon, mengantar ke dokter, mengurus belanja, atau mengambil alih pekerjaan tertentu. Namun, perhatian yang terlalu jauh tanpa melibatkan keinginan orangtua justru bisa membuat mereka merasa dikontrol, lho. Psychology Today mengingatkan bahwa dukungan yang berlebihan atau terlalu sering mengawasi dapat terasa menyesakkan bagi orangtua, meskipun sebenarnya dilakukan karena rasa sayang.

    NIA juga menyarankan agar kebutuhan orangtua ditanyakan secara langsung, bukan sekadar diasumsikan oleh anak. Ketika mereka memang membutuhkan bantuan, kamu bisa menawarkan pilihan yang tetap mempertimbangkan keinginannya, misalnya membantu mengatur belanja, mengantar ke dokter, atau mencari layanan pendukung yang sesuai. Jadi, sebelum mengambil alih sesuatu, coba tanyakan dulu, "Bapak/Ibu butuh dibantu bagian mana?" Cara sederhana ini bisa membuat orangtua tetap merasa dihargai dan punya kendali atas kehidupannya.

  5. 5. Ingin kamu bersabar dan hadir tanpa selalu berusaha memperbaiki keadaan

    ilustrasi komunikasi anak dan orangtua
    ilustrasi komunikasi anak dan orangtua (pexels.com/cottonbro studio)

    Menjadi tua gak selalu mudah karena ada banyak perubahan yang harus dihadapi. Orangtua mungkin mengalami kehilangan pasangan, perubahan kesehatan, berkurangnya kemampuan melakukan aktivitas tertentu, atau harus menyesuaikan diri dengan kehidupan yang berbeda. Dalam kondisi seperti itu, kamu mungkin refleks ingin langsung memberikan solusi setiap kali mereka bercerita. Padahal, terkadang mereka hanya ingin didengarkan tanpa langsung diberi nasihat atau dianggap gak mampu menghadapi masalahnya sendiri.

    Psychology Today menyarankan agar percakapan sulit dengan anggota keluarga dilakukan dengan kesabaran, empati, kebaikan, dan pengertian, tanpa terburu-buru menyelesaikan semuanya. Kamu juga bisa memulai dari pertanyaan terbuka dan benar-benar mendengarkan jawabannya, bukan bertanya hanya untuk kemudian menyampaikan pendapatmu sendiri. Dengan hadir seperti itu, kamu memberikan pesan bahwa orangtuamu tetap aman untuk bercerita, didengar, dan dihargai meskipun kalian sedang menghadapi fase kehidupan yang gak gampang.

    Pada akhirnya, kebutuhan orangtua yang menua sebenarnya gak selalu berupa bantuan besar atau perhatian yang berlebihan. Mereka juga ingin tetap dipandang sebagai pribadi yang punya pilihan, pendapat, dan keinginan sendiri.

    NIA menekankan bahwa keputusan mengenai bantuan dan masa depan sebaiknya melibatkan orangtua, sementara Psychology Today menyoroti pentingnya komunikasi, kesabaran, dan rasa hormat dalam menjaga kedekatan keluarga. Jadi, daripada terus berasumsi tentang apa yang mereka butuhkan, mungkin sekarang waktunya kamu lebih sering bertanya, mendengarkan, dan benar-benar hadir untuk mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More