Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Perempuan Sering Dianggap Lebih Wajar Menjadi Caregiver?

4 min read
Kenapa Perempuan Sering Dianggap Lebih Wajar Menjadi Caregiver?
ilustrasi caregiver (pexels.com/Kampus Production)
  • Perempuan kerap diarahkan sejak kecil mengurus rumah dan keluarga, sehingga kemampuan merawat keliru dianggap sebagai bawaan gender, padahal merupakan hasil pembelajaran.
  • Stereotip bahwa perempuan lebih lembut, sabar, dan empatik menciptakan ekspektasi pengasuhan berbeda; kepedulian perempuan dianggap kewajiban, sementara peran laki-laki sering dipuji istimewa.
  • Ekspektasi domestik dan rasa bersalah membuat perempuan terus memikul perawatan meski lelah; pembagian pengasuhan perlu dibicarakan dan ditanggung seluruh anggota keluarga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Peran sebagai caregiver sering kali dilekatkan pada perempuan seolah-olah merawat orang lain adalah sesuatu yang secara alami menjadi tanggung jawab mereka. Sejak kecil, perempuan lebih sering diarahkan untuk membantu pekerjaan rumah, menjaga adik, memperhatikan kebutuhan anggota keluarga, hingga belajar peka terhadap kondisi orang lain. Kebiasaan tersebut kemudian dapat terbawa ketika mereka dewasa.

Akibatnya, ketika keluarga membutuhkan seseorang untuk merawat orangtua, pasangan, anak, atau anggota keluarga yang sakit, perempuan sering dianggap sebagai pilihan yang paling “wajar”. Padahal, kemampuan merawat bukanlah sesuatu yang hanya dimiliki perempuan. Lantas, kenapa anggapan tersebut masih begitu kuat?

  1. 1. Perempuan sejak kecil lebih sering diajarkan untuk merawat

    ilustrasi menjadi caregiver
    ilustrasi menjadi caregiver (pexels.com/Ron Lach)

    Dalam banyak keluarga, anak perempuan lebih sering dilibatkan dalam pekerjaan yang berkaitan dengan pengasuhan dan kebutuhan rumah tangga. Mereka mungkin diminta membantu menjaga adik, menyiapkan keperluan keluarga, atau lebih peka terhadap kondisi orang di sekitarnya. Dari sinilah kemampuan merawat kemudian dianggap sebagai sesuatu yang memang seharusnya dimiliki perempuan.

    Padahal, keterampilan tersebut sebenarnya merupakan hasil dari kebiasaan dan pembelajaran, bukan kemampuan bawaan berdasarkan jenis kelamin. Anak laki-laki pun bisa belajar merawat jika diberi kesempatan dan tanggung jawab yang sama. Ketika tugas pengasuhan sejak awal lebih banyak diberikan kepada perempuan, tidak mengherankan jika masyarakat kemudian menganggap perempuan sebagai caregiver yang lebih “alami”.

  2. 2. Sifat pengasih dan sabar lebih sering dilekatkan pada perempuan

    ilustrasi wanita caregiver
    ilustrasi wanita caregiver (pexels.com/Jsme MILA)

    Perempuan kerap diasosiasikan dengan sifat lembut, penyayang, sabar, dan penuh empati. Sifat-sifat tersebut memang dapat membantu seseorang menjalankan peran sebagai caregiver, tetapi bukan berarti hanya perempuan yang memilikinya. Laki-laki juga dapat memiliki empati dan kemampuan emosional yang sama ketika diberi ruang untuk mengembangkannya.

    Masalahnya, anggapan tersebut dapat menciptakan ekspektasi yang berbeda. Ketika perempuan menunjukkan kepedulian, hal itu dianggap sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya dilakukan. Sebaliknya, ketika laki-laki mengambil peran pengasuhan, tindakannya justru bisa dipuji sebagai sesuatu yang istimewa. Perbedaan respons ini secara tidak langsung membuat beban merawat lebih mudah jatuh kepada perempuan.

  3. 3. Pekerjaan merawat sering dianggap sebagai "tanggung jawab perempuan"

    ilustrasi pekerjaan caregiver
    ilustrasi pekerjaan caregiver (pexels.com/Jsme MILA)

    Pengasuhan dan pekerjaan rumah tangga masih sering dipandang sebagai bagian dari peran domestik perempuan. Bahkan ketika perempuan juga bekerja dan memiliki kesibukan sendiri, tanggung jawab untuk memperhatikan kebutuhan keluarga bisa tetap melekat pada mereka. Akibatnya, menjadi caregiver dapat terasa seperti perpanjangan dari peran domestik yang sudah lebih dulu diberikan.

    Hal ini membuat perempuan lebih mudah diharapkan untuk menyesuaikan pekerjaan, waktu, bahkan rencana hidupnya ketika keluarga membutuhkan perawatan. Sementara itu, kontribusi laki-laki dalam mencari penghasilan lebih sering dianggap sebagai bentuk tanggung jawab utama. Padahal, merawat anggota keluarga juga merupakan bentuk kerja yang membutuhkan waktu, tenaga, dan energi emosional.

  4. 4. Perempuan lebih sering mengalami guilt ketika memilih diri sendiri

    ilustrasi seorang caregiver
    ilustrasi seorang caregiver (pexels.com/Jsme MILA)

    Ekspektasi untuk selalu hadir bagi keluarga dapat membuat perempuan merasa bersalah ketika memiliki kebutuhan sendiri. Menolak merawat orangtua, meminta bantuan saudara, mengambil waktu untuk beristirahat, atau mempertahankan pekerjaan dapat dianggap sebagai tindakan yang terlalu mementingkan diri sendiri.

    Rasa bersalah tersebut akhirnya membuat sebagian perempuan terus mengambil tanggung jawab meskipun sudah kelelahan. Mereka mungkin merasa seharusnya bisa lebih sabar, lebih kuat, atau lebih banyak membantu. Padahal, memiliki batas bukan berarti kurang menyayangi keluarga. Perempuan juga berhak mempertahankan waktu, kesehatan, pekerjaan, dan kehidupan pribadinya.

  5. 5. Ketika perempuan selalu bersedia, bebannya jadi terlihat normal

    ilustrasi wanita caregiver
    ilustrasi wanita caregiver (pexels.com/Jsme MILA)

    Semakin sering perempuan mengambil peran sebagai caregiver, semakin mudah keluarga menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang normal. Karena selama ini ia yang paling sering mengurus berbagai kebutuhan, ketika ada persoalan baru pun orang-orang mungkin secara otomatis kembali mencarinya.

    Inilah yang membuat beban pengasuhan bisa berlangsung tanpa pernah benar-benar dibicarakan. Bukan karena perempuan selalu ingin menjadi caregiver, tetapi karena lingkungan sudah terbiasa mengandalkan mereka. Membagi tanggung jawab secara lebih adil membutuhkan perubahan dari seluruh anggota keluarga, bukan sekadar meminta perempuan belajar menolak.

    Itulah beberapa alasan mengapa perempuan sering dianggap lebih wajar menjadi caregiver. Padahal, kemampuan merawat bukanlah tanggung jawab berdasarkan gender. Beban pengasuhan seharusnya dibicarakan dan dibagi bersama, sehingga perempuan tidak terus dianggap sebagai pihak yang otomatis harus paling siap merawat keluarga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More