Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Buku Khoirul Trian Selain “Ayah, Ini Arahnya ke Mana ya?”

5 Buku Khoirul Trian Selain “Ayah, Ini Arahnya ke Mana ya?”
Ilustrasi Khoirul Trian dengan bukunya “Ayah, Ini Arahnya ke Mana ya?” (Instagram.com/ khoirultriann)

Selain bukuAyah Ini Arahnya ke Mana ya?”, Khoirul Trian juga dikenal lewat karya-karya lain yang tak kalah menyentuh. Ia konsisten menghadirkan tulisan dengan gaya sederhana, tetapi penuh makna tentang hidup, luka, dan proses bertumbuh. Setiap bukunya terasa seperti ruang untuk berbicara jujur, terutama bagi mereka yang sulit mengungkapkan perasaan.

Karya-karya lain dari Khoirul Trian sering membawa tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti keluarga, kehilangan, hingga pencarian arah hidup. Tulisan-tulisannya mampu membuat pembaca merasa ‘ditemani’, seolah ada seseorang yang benar-benar memahami apa yang sedang dirasakan.

1. Tahun terbit 2022: “Jujur, Ini Berat”

Buku “Jujur, Ini Berat” (cover buku via Gramedia)
Buku “Jujur, Ini Berat” (cover buku via Gramedia)

Buku ini mengajak kamu untuk menerima kenyataan bahwa tidak semua orang akan memahami apa yang sedang kamu rasakan. Tidak ada kewajiban bagi orang lain untuk selalu mengerti kondisi kita. Karena itu, penting untuk mulai belajar merawat diri sendiri, mengenali bagian mana yang terluka, dan perlahan mencoba menyembuhkannya dengan cara yang kamu pahami.

Selama ini mungkin kamu sudah terbiasa menguatkan orang lain, memberi semangat, bahkan membantu mereka bangkit dari kesedihan. Tapi di buku ini, kamu diajak melihat ke dalam diri sendiri—bahwa kamu juga layak mendapatkan perhatian yang sama. Kalau kamu bisa membantu orang lain pulih, sebenarnya kamu juga mampu melakukan hal itu untuk dirimu sendiri.

2. Tahun terbit 2022: “Dari Aku Yang Hampir Menyerah”

Buku “Dari Aku Yang Hampir Menyerah” (cover buku via Gramedia)
Buku “Dari Aku Yang Hampir Menyerah” (cover buku via Gramedia)

Buku ini lahir dari perjalanan pribadi Khoirul Trian yang pernah berada di titik terendah dalam hidupnya. Ia mengalami masa-masa penuh kebingungan, tekanan, dan kelelahan emosional, bahkan sempat merasa ingin menyerah. Tidak adanya tempat untuk bercerita membuat semua perasaan itu dipendam sendiri, hingga akhirnya dituangkan dalam bentuk tulisan.

Tulisan-tulisan tersebut mulai dikumpulkan sejak tahun 2018 hingga 2021, lalu berkembang menjadi sebuah buku setelah melalui proses penyuntingan. Perjalanan penerbitannya juga tidak selalu mudah, terutama saat harus menyatukan sudut pandang dengan editor. Namun, dari proses itulah lahir sebuah karya yang mampu mewakili perasaan banyak orang yang pernah merasa berada di titik hampir menyerah.

3. Tahun terbit 2023: “Anak Kecil Yang Kehilangan Pundaknya”

Buku “Anak Kecil Yang Kehilangan Pundaknya” (cover buku via Gramedia)
Buku “Anak Kecil Yang Kehilangan Pundaknya” (cover buku via Gramedia)

Kenangan masa kecil bisa terasa hangat, tapi juga bisa menyakitkan tergantung pengalaman masing-masing. Di sini, pembaca diajak untuk berani menghadapi masa lalu, apa pun bentuknya.

Melalui tulisan-tulisannya, buku ini mengingatkan bahwa tidak semua orang yang memiliki masa kecil bahagia akan tumbuh tanpa luka, begitu juga sebaliknya. Proses berdamai dengan masa lalu menjadi hal penting agar bisa melangkah ke depan. Kadang, menerima dan merasakan kembali luka itu justru menjadi cara untuk benar-benar sembuh.

4. Tahun terbit 2026: “Ada Duka di Bawah Telapak Kaki Ibu”

Buku “Ada Duka di Bawah Telapak Kaki Ibu” (cover buku via Gramedia)
Buku “Ada Duka di Bawah Telapak Kaki Ibu” (cover buku via Gramedia)

Buku ini menghadirkan cerita yang sangat emosional dan dekat dengan kehidupan banyak orang, terutama tentang hubungan anak dan ibu. Dengan gaya bahasa yang sederhana namun penuh makna, setiap tulisan terasa ringan dibaca tetapi meninggalkan kesan yang dalam.

Banyak kalimat singkat yang terasa kuat dan mudah diingat, sehingga sering terasa seperti kutipan yang mewakili perasaan. Menariknya, buku ini menggunakan sudut pandang yang terasa dua arah—seolah menjadi suara bagi anak, sekaligus pelukan yang menenangkan.

Tema yang diangkat pun sangat relate, seperti perjuangan anak rantau, rasa rindu pada ibu, kehilangan orangtua, hingga pengalaman tumbuh di keluarga yang tidak selalu ideal. Buku ini juga dilengkapi ilustrasi serta halaman interaktif yang membuat pembaca lebih terlibat, sekaligus menjadi bagian dari rangkaian trilogi setelah karya sebelumnya.

5. Tahun terbit 2026: “Anak Kecil yang Tak Pernah Minta Dilahirkan”

Buku “Anak Kecil yang Tak Pernah Minta Dilahirkan” (cover buku via Gramedia)
Buku “Anak Kecil yang Tak Pernah Minta Dilahirkan” (cover buku via Gramedia)

Buku ini mengajak pembaca untuk melihat membaca sebagai pengalaman yang lebih dari sekadar aktivitas biasa. Lewat setiap halaman, pembaca diajak menjelajah pikiran, perasaan, dan sudut pandang baru yang mungkin belum pernah terpikirkan sebelumnya.

Membaca di sini menjadi cara untuk memahami diri sendiri sekaligus dunia di sekitar. Selain itu, buku ini juga memberikan dorongan untuk membangun kebiasaan membaca secara perlahan. Mulai dari menentukan waktu khusus, memilih buku sesuai minat, hingga menciptakan suasana nyaman saat membaca.

Tidak hanya berhenti di situ, pembaca juga diajak untuk merefleksikan apa yang dibaca, misalnya dengan mencatat atau menuliskan kembali hal-hal yang dirasakan, sehingga pengalaman membaca menjadi lebih bermakna.

Lewat berbagai bukunya, Khoirul Trian berhasil menunjukkan bahwa tidak semua cerita hidup harus indah untuk bisa bermakna. Justru dari luka, kebingungan, dan perjalanan yang tidak mudah, kita bisa menemukan kekuatan untuk terus melangkah. Setiap kata yang ia tulis seakan mengajak pembaca untuk lebih jujur pada diri sendiri.

 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us