Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Cara Melatih Kemampuan Berpikir Kritis Sebelum Masuk Kuliah

6 Cara Melatih Kemampuan Berpikir Kritis Sebelum Masuk Kuliah
ilustrasi pelajar melakukan presentasi (pexels.com/kampus)
  • Berpikir kritis perlu dilatih sejak SMA untuk membantu calon mahasiswa memahami informasi, menyelesaikan masalah, mempertimbangkan sudut pandang, dan mengambil keputusan secara rasional.
  • Latihan utamanya mencakup memperkuat pemahaman bidang studi, melakukan eksperimen, mencari jawaban sendiri, serta memeriksa bukti dan sumber sebelum menerima asumsi atau klaim.
  • Membaca gagasan beragam, berdiskusi secara terbuka, dan memahami pandangan berbeda membantu siswa membandingkan argumen serta menyiapkan diri menghadapi tugas dan dinamika kuliah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Memasuki dunia perkuliahan bukan cuma soal memilih jurusan atau siap mengikuti jadwal kuliah. Mahasiswa juga perlu mampu memahami informasi, menyelesaikan masalah, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, dan mengambil keputusan secara tepat. Karena itu, kemampuan berpikir kritis penting dilatih sejak SMA agar kamu lebih siap menghadapi tugas dan persoalan di bangku kuliah.

Berpikir kritis bukan berarti selalu membantah pendapat orang lain atau mencurigai semua informasi. Kemampuan ini berkaitan dengan kebiasaan memeriksa informasi, mempertanyakan asumsi, mempertimbangkan alternatif, dan menyusun kesimpulan secara rasional. Berikut beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk melatihnya sebelum masuk kuliah.

  1. 1. Perkuat pemahaman di bidang yang kamu pelajari

    ilustrasi proses belajar mengajar antara siswa dan guru
    ilustrasi proses belajar mengajar antara siswa dan guru (pexels.com/andy-barbour)

    Kemampuan berpikir kritis akan lebih mudah diterapkan jika kamu memiliki pemahaman dasar yang kuat tentang bidang yang dipelajari. Jadi jangan hanya menghafalkan rumus dalam matematika, tetapi pahami cara penggunaannya untuk menyelesaikan masalah. Semakin kuat pemahamanmu, semakin mudah kamu menganalisis persoalan dalam bidang tersebut.

    Daniel Willingham, profesor psikologi di University of Virginia, dikutip dari U.S. News & World Report, menjelaskan bahwa setiap bidang memiliki cara berbeda dalam memahami suatu hal. Karena itu, siswa perlu menghargai perbedaan tersebut dan tidak menganggap semua persoalan bisa diselesaikan dengan cara yang sama.

    “Pikirkan berbagai bidang yang dipelajari siswa, seperti sains, sastra, dan matematika. Bidang-bidang tersebut memiliki definisi yang berbeda tentang apa artinya memahami sesuatu. Kamu perlu menghargai perbedaan di antara berbagai bidang tersebut,” ujar Daniel Willingham.

  2. 2. Biasakan melakukan eksperimen dan mencari jawaban sendiri

    ilustrasi siswa berbincang
    ilustrasi siswa berbincang (pexels.com/andy-barbour)

    Eksperimen tidak selalu harus dilakukan di laboratorium dengan peralatan yang rumit. Kamu bisa memilih persoalan sederhana yang membuat penasaran, lalu mencari informasi, mencoba beberapa cara, membandingkan hasilnya, dan melihat apakah kesimpulan awalmu benar. Kebiasaan ini melatihmu untuk tidak langsung menerima jawaban hanya karena terlihat masuk akal.

    David Hitchcock, profesor emeritus filsafat di McMaster University, dikutip dari U.S.News, menyarankan siswa untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Pertimbangkan berbagai kemungkinan dan pikirkan persoalan secara menyeluruh sebelum menentukan jawaban, terutama saat mengerjakan tugas yang membutuhkan analisis dan penyusunan argumen.

    “Jangan membiasakan diri terburu-buru mengambil kesimpulan. Pertimbangkan berbagai alternatif dan pikirkan baik-baik,” ujar David Hitchcock.

  3. 3. Jangan langsung percaya pada asumsi yang kamu miliki

    ilustrasi mahasiswa belajar
    ilustrasi mahasiswa belajar (pexels.com/icsa)

    Tanpa sadar, kita sering menganggap sesuatu benar hanya karena sudah sering mendengarnya. Padahal, informasi yang terdengar meyakinkan belum tentu didukung bukti yang cukup. Karena itu, biasakan bertanya, “Apa buktinya?”, “Dari mana sumbernya?”, atau “Apakah ada kemungkinan lain?” saat menemukan sebuah klaim.

    Kebiasaan mempertanyakan asumsi akan berguna saat kamu mulai kuliah dan menghadapi beragam pendapat dari dosen, teman, media, maupun internet. Eileen Gambrill, profesor di School of Social Welfare, University of California, dikutip dari U.S. News & World Report, menyarankan siswa untuk mempertanyakan hal-hal yang selama ini mereka anggap sudah diketahui. Dengan begitu, kamu tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga belajar memeriksa alasan dan bukti di baliknya.

    “Apa pun yang diasumsikan siswa sudah mereka ketahui, mereka bisa mulai mempertanyakannya,” ujar Eileen Gambrill.

  4. 4. Perbanyak membaca buku dengan sudut pandang yang berbeda

    ilustrasi membaca buku
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/timamiroshnichenko)

    Membaca tidak harus selalu terbatas pada buku yang sesuai dengan pendapat atau minatmu. Sesekali, pilih bacaan yang menawarkan gagasan berbeda, mempertanyakan kebiasaan yang dianggap normal, atau bahkan membuatmu tidak sepakat dengan penulisnya. Dari sini, kamu bisa belajar memahami alasan di balik sebuah pandangan tanpa harus langsung menerimanya.

    Kebiasaan membaca seperti ini juga membuatmu menyadari bahwa pengetahuan dapat berkembang dan suatu gagasan bisa ditinjau kembali ketika muncul informasi baru. Gambrill merekomendasikan buku Teachers Without Goals, Students Without Purposes karya Henry Perkinson yang menantang pandangan tradisional tentang pendidikan dan pengajaran. Semakin sering kamu berhadapan dengan gagasan yang beragam, semakin terbiasa pula kamu membandingkan argumen sebelum menentukan pendapat sendiri.

  5. 5. Buat ruang untuk berdiskusi dan bertanya secara kritis

    ilustrasi mahasiswa dalam kelas
    ilustrasi mahasiswa dalam kelas (pexels.com/yankrukov)

    Kalau kamu masih ragu bertanya karena takut dianggap terlalu kritis, mulailah dari lingkungan yang nyaman. Kamu bisa membentuk kelompok belajar atau klub kecil bersama teman untuk membahas topik menarik, saling bertanya, dan menyampaikan alasan masing-masing. Tujuannya bukan mencari siapa yang paling benar, melainkan melatih kemampuan menyusun dan mempertanggungjawabkan pendapat.

    Menurut Gambrill, mengajukan pertanyaan merupakan bagian penting dari berpikir kritis. Siswa yang kurang nyaman bertanya di kelas dapat membuat klub yang dikelola bersama teman untuk mendorong diskusi yang lebih terbuka. Kebiasaan ini bisa menjadi latihan sebelum menghadapi presentasi, diskusi kelas, dan tugas yang membutuhkan argumentasi di perguruan tinggi.

  6. 6. Ajak ngobrol teman yang punya pandangan berbeda

    ilustrasi mahasiswa internasional
    ilustrasi mahasiswa internasional (pexels.com/yankrukov)

    Berteman dengan orang yang memiliki pandangan berbeda bisa menjadi kesempatan untuk menguji cara berpikirmu. Saat tidak setuju, jangan buru-buru menganggap pendapatnya salah, tetapi pahami alasan di baliknya dan bandingkan dengan informasi yang kamu miliki sebelum menentukan sikap.

    David Hitchcock, menyarankan siswa memahami cara berpikir orang yang melihat suatu persoalan dari sudut berbeda. Kemampuan ini penting saat kuliah karena kamu akan bertemu dengan teman dari latar belakang dan perspektif yang beragam. Mendengarkan pendapat berbeda bukan berarti harus mengubah keyakinan, tetapi membantu kamu melihat suatu persoalan dari lebih dari satu sisi.

    “Cobalah memahami proses berpikir orang yang melihat suatu persoalan dengan cara berbeda darimu. Hargai beragam cara yang dapat digunakan untuk memandang sesuatu,” ujar David Hitchcock.

    Kemampuan berpikir kritis gak cukup hanya dipelajari lewat teori, tetapi perlu dilatih lewat kebiasaan bertanya, mencari bukti, dan melihat berbagai sudut pandang. Kalau sudah dibiasakan sejak SMA, kamu pun bakal lebih siap menghadapi tugas dan berbagai tantangan di bangku kuliah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More