Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Sikap Orangtua yang Bikin Persaudaraan Anak Renggang, Awas!

4 Sikap Orangtua yang Bikin Persaudaraan Anak Renggang, Awas!
ilustrasi saudara kandung (pexels.com/Vika Glitter)
  • Pilih kasih, perbandingan, kritik berlebihan, dan penghinaan dari orangtua dapat menumbuhkan iri, sakit hati, serta jarak emosional antarsaudara hingga dewasa.
  • Keberpihakan kepada anak favorit membuat anak lain merasa terabaikan, sementara “anak emas” berisiko mengutamakan kebutuhannya sendiri dan memicu permusuhan keluarga.
  • Persaingan tidak sehat serta komunikasi keluarga yang buruk membuat konflik kecil dipendam, lalu berpotensi merusak hubungan persaudaraan dalam jangka panjang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Memiliki saudara kandung bisa jadi anugerah tersendiri bagi sebagaian orang, tapi juga bisa sebaliknya. Tak jarang kita mendengar atau mengetahui sendiri ada saudara kandung yang bertengkar, bahkan tidak saling sapa dalam waktu lama.

Kira-kira, kenapa hal semacam itu bisa terjadi? Tentu saja, kerenggangan yang menimpa saudara kandung itu tidak terjadi dalam semalam. Ada peran orangtua yang ikut andil di dalamnya. Berikut beberapa sikap orangtua yang justru bikin persaudaraan anak mereka kian renggang.

  1. 1. Pilih kasih terhadap anak

    ilustrasi orangtua dan anak
    ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Vitaly Gariev)

    Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang kacau, penuh kekerasan, dan penelantaran, akan memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami keterasingan. Mereka yang kerap dibandingkan dengan saudara kandungnya sendiri akan menyimpan rasa benci dalam dirinya hingga dewasa.

    Menurut Kylie Agllias, penulis buku Family Estragement: A Matter of Perspective, tipe orangtua seperti itu sangatlah menuntut, kritis, dan suka mempermalukan anak-anaknya sendiri.

    "Mereka sering menggunakan kambing hitam, pilih kasih, dan penghinaan ketika berhubungan dengan anak-anak mereka," kata Kylie, seperti dikutip dari Psycology Today.

    Dampak jangka panjangnya, anak-anak akan saling merasa asing dan tidak dekat secara emosioanal dengan saudara kandung mereka. Perasaan kecewa, iri, dan sakit hati, kian membentuk benteng yang teramat tinggi di antara mereka. Jadi, ada baiknya orangtua mulai mawas diri untuk tidak memperlakukan anak-anak mereka secara tidak adil, alias pilih kasih.

  2. 2. Lebih condong ke salah satu anak saja

    ilustrasi orangtua dan anak
    ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Kindel Media)

    Tak semua orangtua mampu membagi kasih sayang serta perhatian mereka pada anak-anak secara adil. Ada beberapa ayah dan ibu yang secara sadar atau tidak lebih condong pada salah satu anak. Anak favorit inilah yang kemudian menerima lebih banyak perhatian, kasih sayang, serta pujian, dibandingkan dengan saudaranya yang lain.

    Anak-anak peka pada favoritisme orangtua, salah satu faktor yang menimbulkan keterasingan dalam keluarga. Penelitian oleh Karl Pillemer, seorang sosiolog, gerontolog, dan profesor perkembangan manusia di Universital Cornell, seperti ditulis dalam laman Psychology Today, menyebutkan bahwa antara dua pertiga dan tiga perempat ibu memiliki anak favorit, dan anak-anak sangat menyadari keberpihakan orangtua mereka.

    Ketika orangtua lebih sayang ke salah satu anak, saudara kandung tersebut mungkin akan menjadi lebih egosentris yang dapat menyebabkan keterasingan. 'Anak emas' menempatkan kebutuhannya di atas kebutuhan keluarga dan anggota keluarga lainnya, demikian kata psikoterapis Ali-Jhon Chaudhary, yang berpraktik di Pembroke, Ontario.

    "Di situlah rasa berhak tumbuh dan anak-anak yang disayangi menjadi bermusuhan dengan saudara yang memiliki kebutuhan berbeda dari mereka," terang Ali-Jhon seperti ditulis dalam Pyschology Today.

    Ali menambahkan, orangtua perlu mengajarkan anak tersebut bahwa keluarga adalah yang utama, dan kebutuhan individu adalah yang kedua. Menekankan pentingnya hubungan saling mengasihi antar saudara kandung akan menghindarkan anak-anak dari rasa benci dan iri satu sama lain. Di mana, perasaan itu bisa membuat jarak begitu jauh pada mereka hingga dewasa.

  3. 3. Membiarkan anak-anak bersaing secara tidak sehat

    ilustrasi saudara kandung
    ilustrasi saudara kandung (pexels.com/Vika Glitter)

    Memberikan dukungan dan pujian kepada anak yang berprestasi adalah hal yang wajar dilakukan oleh orangtua. Akan tetapi, jangan sampai sikap membangga-banggakan salah satu anak ini justru melukai perasaan anak yang lain. Persaingan tidak sehat antara saudara kandung demi menarik atensi dari kedua orangtuanya adalah sebuah bom waktu yang bisa meledak kapan pun.

    Kecemburuan antar saudara kandung adalah awal perpecahan. Dua tipe kepribadian tampaknya rentan terhadap keretakan hubungan; mereka yang selalu marah dan mereka yang memendam dendam. Masalah yang memecah belah saudara kandung saat dewasa, menurut psikolog Joel Milgram, seorang profesor emeritus pendidikan di Universitas Cincinnati, dan mendiang Profesor Helgola Ross dalam Psychology Today, sering kali berasal dari persaingan atas prestasi, penampilan, dan kecerdasan.

  4. 4. Komunikasi keluarga yang buruk

    ilustrasi saudara kandung
    ilustrasi saudara kandung (pexels.com/Monstera Production)

    Idealnya, keluarga merupakan satu-satunya tempat di mana seorang anak bebas berekspresi dan jadi dirinya sendiri. Keluarga juga bisa jadi sebuah 'rumah' yang bukan hanya berwujud bangunan, tapi benar-benar menjadi tempat yang nyaman untuk pulang. Sayangnya, tak semua anak memiliki keberuntungan itu.

    Salah satu dari akar permasalahan yang membuat keluarga tak menjadi tempat pulang bagi anak adalah komunikasi tidak sehat yang bermula dari perilaku orangtua. Ketika orangtua tidak mampu mengungkapkan perasaan dan menyelesaikan perselisihan secara bijak, mereka tidak memberi contoh pada anak untuk mengatasi masalah dengan dewasa hingga tuntas.

    Akibatnya, masalah kecil antar anak dianggap sepele dan tidak segera diselesaikan. Alhasil, itu menjadi bom waktu yang dipendam dalam diri anak dan ketika tiba saatnya meledak, dapat menghancurkan persaudaraan hingga selama-lamanya.

    Bisa hidup rukun dengan saudara kandung hingga dewasa bukan hal yang bisa terjadi begitu saja. Peran orangtua sangat diperlukan untuk membentuk anak-anak mereka menjadi satu tim yang solid, terutama ketika kedua orangtua mereka telah tiada.

    Sikap kurang baik yang ditunjukkan orangtua seperti pembahasan di atas justru membuat hubungan anak-anak renggang atau bahkan terputus. Jadi sebelum hal buruk itu terjadi, alangkah baiknya untuk introspeksi diri dan mulai berperilaku adil kepada anak-anak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More