"Masa pubertas telah meningkatkan ketertarikan fisik. Berperilaku lebih dewasa telah membangkitkan minat pada imajinasi romantis," kata dia seperti dilansir Psychology Today.
Sisi Positif Punya Crush di Sekolah, Bisa Jadi Motivasi Belajar

- Ketertarikan pada teman sekolah saat pubertas disebut wajar dan dapat membuat remaja lebih bersemangat datang lebih awal demi bertemu crush.
- Perasaan naksir bisa mendorong remaja memperbaiki penampilan serta meningkatkan prestasi akademik, terutama untuk terlihat setara dengan pujaan hati yang dianggap pintar atau populer.
- Pengalaman asmara remaja, termasuk kekecewaan akibat idealisasi, dapat menjadi pembelajaran hidup dan melatih pengelolaan emosi serta ketahanan mental.
Anak-anak yang duduk di bangku SMP dan SMA biasanya sudah mulai mengalami ketertarikan pada lawan jenis. Ini adalah hal yang lumrah, mengingat pada usia tersebut anak-anak tengah mengalami masa pubertas. Memiliki gebetan atau crush pun, bisa membawa dampak buruk dan baik.
Salah satu dampak positif dari naksir teman satu sekolah adalah bisa membuat seseorang jadi termotivasi belajar. Apalagi tujuannya, kalau bukan semata-mata demi menarik perhatian si dia. Berikut lima sisi positif punya crush di sekolah menurut ahli. Percintaan remaja gak selamanya buruk, kok.
1. Punya alasan kuat untuk sampai di sekolah lebih cepat

ilustrasi pacaran di sekolah (pexels.com/M1nh Art) Anak-anak remaja yang duduk di bangku SMP dan SMA sedang mengalami masa pubertas. Fase ini juga dapat berdampak pada munculnya ketertarikan pada lawan jenis. Perasaan naksir seorang teman di sekolah dapat membuatnya jadi gak sabar untuk bertemu crush-nya setiap hari.
Carl E Pickhardt Ph.D, seorang psikolog yang fokus pada konselor pribadi di Texas mengatakan, pada masa sekolah menengah pertama dan awal sekolah menangah atas adalah masa di mana sebagian besar ketertarikan remaja terjadi. Ia menganggap hal ini lumrah, apalagi ketika dilihat dari sudut pandang perkembangan anak.
Dorongan untuk merealisasikan imajinasi romantis inilah yang pada akhirnya mendorong remaja untuk cepat-cepat ingin bertemu sang pujaan hati. Perasaan deg-degan, penasaran, dan rindu bisa jadi bumbu yang tanpa sadar atau tidak, membuat mereka jadi makin bersemangat berangkat ke sekolah.
2. Ingin menjadi lebih baik demi menarik perhatian sang pujaan hati

ilustrasi orang pacaran (pexels.com/Noval Gani) Carl menambahkan bahwa masa remaja adalah usia yang sangat mudah dipengaruhi, apalagi di era digital seperti sekarang ini. Gambaran hubungan romansa yang sempurna bisa membuat remaja tertarik untuk mengalami hal serupa.
"Aku berharap aku terlihat seperti itu!" "Aku perlu mengalami itu!," tegas Carl, mencoba menggambarkan gejolak yang dirasakan remaja saat mereka jatuh cinta.
Salah satu caranya adalah dengan tampil lebih baik dari sebelumnya. Motivasinya jelas, demi membuat sang pujaan hati melirik dan tertarik. Nilai akademis bisa jadi melonjak drastis saat anak sedang jatuh cinta. Apalagi crush-nya adalah seseorang yang pintar dan populer, tentu saja mereka jadi ingin terlihat setara.
3. Masa-masa remaja jadi lebih berwarna dan penuh pengalaman berharga

Ilustrasi pacaran di sekolah (pexels.com/Tubagus Alief Leo) Jatuh cinta saat remaja memang manis, apalagi ketika kita bicara tentang cinta pertama. Akan tetapi, tak bisa dipungkiri bahwa terkadang kenyataan yang terjadi tak selalu sesuai rencana. Perjalanan cinta yang penuh kasih sayang, bisa saja berubah menjadi bencana.
Carl menegaskan, terkadang remaja yang sedang jatuh cinta suka memproyeksikan sifat-sifat ideal pada orang lain yang belum tentu dikenal dengan baik. Saat naksir seseorang, mereka akan berharap kisah cintanya berjalan sebagaimana angan-angannya. Tapi jika yang terjadi justru sebaliknya, emosi dan kekecewaan itu bisa meledak.
"Sekarang idealisasi itu mengintensifkan emosi dengan campuran kuat antara kegembiraan karena ketertarikan dan kecemasan akan hasilnya," lanjut Carl.
Patah hati memang menyisakan rasa sakit dan trauma, tapi tetap ada sisi positif di sana. Masa remaja adalah bagian pembelajaran terbesar dalam rentang usia seseorang. Wajar saja, jika pada usia ini mereka masih kesulitan mengendalikan emosi. Akan tetapi, pengalaman percintaan dari mulai romantis hingga tragis, bisa menjadi pembelajaran hidup yang akan berguna di kemudian hari.
Gelora asmara di usia remaja memang penuh warna. Memiliki crush di sekolah bisa membawa dampak positif, tak hanya dari segi akademi, tapi juga melatih ketahanan mental remaja. Jadi, tak perlu takut mengakui jika kamu sedang naksir seseorang di sekolah. Jadikan perasaanmu itu sebagai bahan bakar semangat untuk menjadi lebih rajin belajar dan menjadi versi dirimu yang lebih baik. Niscaya, kamu akan mendapatkan pasangan yang setara.
![[QUIZ] Kalau Naksir Crush, Seberapa Tinggi Level Overthinking Kamu?](https://image.idntimes.com/post/20260518/1000027852_548a45ae-a599-467b-9331-a704ec15229a.jpg)




















