Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Cara Sederhana Memahami Negasi dalam Bahasa Korea
Dosen Bahasa dan Kebudayaan Korea, Departemen Linguistik, Universitas Indonesia, Usmi, S.Pd., M.Hum., Ph.D. memberikan materi dalam kuliah umum "Pragmatik Bahasa Korea: Memahami Ungkapan Negasi” Korean Cultural Center Indonesia. (Dok. KCCI)
  • Memahami negasi bahasa Korea perlu melibatkan semantik dan pragmatik, karena kalimat negatif bisa menyatakan penolakan, ketidaksetujuan, ketidakmampuan, larangan, atau ketiadaan.
  • Pembelajar perlu membedakan negasi pendek dengan 안 atau 못 sebelum predikat dan negasi panjang seperti 지 않다 atau 지 못하다 setelah predikat.
  • Konteks, situasi, dan maksud pembicara menentukan arti negasi; menghafal penanda saja belum cukup untuk menggunakan bahasa Korea secara tepat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bagi orang yang sedang belajar bahasa Korea, kata 안 (an) dan 못 (mot) mungkin sudah cukup familier. Keduanya sama-sama digunakan untuk membuat kalimat negatif yang bermakna “tidak”. Namun, negasi dalam bahasa Korea ternyata tidak sesederhana menambahkan an atau mot di depan kata kerja.

Makna sebuah kalimat negatif dapat berubah bergantung pada bentuk yang digunakan, maksud pembicara, hingga konteks percakapan. Karena itu, memahami negasi menjadi salah satu bagian penting untuk bisa berkomunikasi dalam bahasa Korea secara lebih natural. Lantas, apa saja yang perlu diperhatikan?

1. Pelajari semantik dan pragmatik untuk membantu memahami makna negasi

Dosen Bahasa dan Kebudayaan Korea, Departemen Linguistik, Universitas Indonesia, Usmi, memberikan materi dalam kuliah umum "Pragmatik Bahasa Korea: Memahami Ungkapan Negasi” di Korean Cultural Center Indonesia, Jakarta. (Dok. Pribadi)

Dalam bahasa Korea, memahami negasi tidak bisa dilepaskan dari semantik dan pragmatik. Secara sederhana, semantik berkaitan dengan makna sebuah kalimat sebagaimana adanya. Sementara itu, pragmatik melihat bagaimana makna tersebut dipengaruhi oleh konteks, situasi, serta maksud orang yang berbicara.

“Dalam percakapan sehari-hari, negasi dapat digunakan untuk menyatakan penolakan, ketidaksetujuan, ketidakmampuan, larangan, hingga ketiadaan sesuatu,” ungkap Dosen Bahasa dan Kebudayaan Korea Universitas Indonesia, Usmi, dalam kuliah umum di Korean Cultural Center Indonesia, Jakarta (14/8/2026).

2. Kenali bentuk negasi pendek dan panjang

Dosen Bahasa dan Kebudayaan Korea, Departemen Linguistik, Universitas Indonesia, Usmi, memberikan materi dalam kuliah umum "Pragmatik Bahasa Korea: Memahami Ungkapan Negasi” di Korean Cultural Center Indonesia. (Dok. KCCI)

Salah satu hal dasar yang perlu diketahui pembelajar bahasa Korea adalah adanya bentuk negasi pendek dan bentuk negasi panjang. Negasi pendek ditandai dengan penggunaan (an) atau  (mot) yang diletakkan sebelum predikat, seperti pada ungkapan 안 가요 (An gayo) yang artinya “Tidak pergi”.

Sementara itu, negasi panjang menggunakan konstruksi negatif seperti 지 않다 dan 지 못하다 yang ditempatkan setelah predikat. Kedua bentuk tersebut sama-sama dapat menghasilkan kalimat negatif, tetapi penggunaannya tidak selalu dapat dipertukarkan begitu saja. Contohnya, 이 교실은 춥지 않아요 (I gyosil-eun chup-ji anh-ayo) yang artinya “Kelas ini tidak dingin”.

“Patut dipahami bahwa negasi dalam bahasa Korea lebih dari sekadar dan 못. Setiap penanda negasi memiliki batasan penggunaan. Bentuk bahasa yang sama dapat menghasilkan makna yang berbeda. Selain itu, makna negasi tidak selalu berhenti pada arti harfiah. Oleh sebab itu, konteks dapat menentukan maksud dari kalimat yang sebenarnya,” ujar Usmi.

3. Pahami konteks kalimat

Dosen Bahasa dan Kebudayaan Korea, Departemen Linguistik, Universitas Indonesia, Usmi, memberikan materi dalam kuliah umum "Pragmatik Bahasa Korea: Memahami Ungkapan Negasi” di Korean Cultural Center Indonesia. (Dok. KCCI)

Konteks juga memiliki peran besar dalam memahami negasi bahasa Korea. Kalimat yang secara tata bahasa terlihat sederhana dapat memiliki maksud berbeda ketika digunakan dalam situasi yang berbeda. Misalnya, seseorang mengatakan bahwa ia "tidak bisa" melakukan sesuatu. Pernyataan tersebut dapat benar-benar menunjukkan ketidakmampuan, tetapi dalam konteks tertentu juga dapat berkaitan dengan keadaan yang menghalangi tindakan tersebut.

Usmi mengatakan, penguasaan negasi dalam bahasa Korea tidak cukup hanya dengan menghafalkan bentuk-bentuk penandanya saja. “Kita harus tahu seperti apa bentuk bahasanya, seperti apa maknanya, dan bagaimana penggunaannya dalam komunikasi,” ungkapnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article