Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Belajar Memimpin dari Nol: Kisah 3 Tanoto Scholar di TSG 2026
Tiga Scholar Cohort 2025 (kiri-kanan): Cahaya Ramadhana, Muhamad Lidra Abriliansyah, dan Syarifah Nabila Jusman - APRIL Learning Institute, Riau Kompleks PT RAPP, Pangkalan Kerinci, Riau (IDN Times/Anastasia Desire)
  • TSG 2026 di Riau mempertemukan 240 penerima Beasiswa Kepemimpinan TELADAN untuk beralih dari pengembangan diri melalui Lead Self menuju kemampuan memimpin orang lain melalui Lead Others.
  • Cahaya, Nabila, dan Lidra menghadapi seleksi, jadwal akademik, serta rasa minder atau keraguan; program TELADAN membantu mereka menguatkan komunikasi, prioritas, kolaborasi, dan keberanian berpendapat.
  • Ketiganya mengarahkan pengalaman kepemimpinan pada dampak sosial: Cahaya melalui edukasi, Nabila pada pendidikan dan gizi, serta Lidra pada penanganan hipertensi dan TBC; pendaftaran Cohort 2027 telah dibuka.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Apakah kamu setuju kalau jadi seorang pemimpin itu sebenarnya gak butuh privilege, alias cuma butuh keberanian untuk melangkah dan tahu apa yang jadi purpose-mu? Nah, hal ini yang sebenarnya sudah dibuktikan Lidra, Cahaya, dan Nabila, tiga Tanoto Scholar Cohort 2025 yang jadi bagian dari 240 penerima Beasiswa Kepemimpinan TELADAN dalam Tanoto Scholars Gathering (TSG) 2026 di Riau Kompleks, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Pangkalan Kerinci, Riau.

Mengusung tema "Learn & Lead: Rooted in Purpose, Growing for Impact", TSG 2026 jadi ruang bagi para Tanoto Scholar buat naik level pembelajaran dalam beasiswa kepemimpinan TELADAN, dari dibimbing mengenali dan memimpin diri sendiri (Lead Self), sekarang mulai belajar memimpin dan menciptakan dampak buat orang lain (Lead Others). Dan perjalanan Lidra, Cahaya, dan Nabila menuju titik ini gak instan. Kenapa? Karena semuanya itu berawal dari keberanian buat daftar Beasiswa Kepemimpinan TELADAN dari Tanoto Foundation.

Nah, secara khusus IDN Times wawancara ketiganya soal perjalanan itu. Tiga cerita, tiga jalan hidup yang beda, tapi satu mimpi yang sama: jadi pemimpin yang bawa perubahan. Yuk, intip perjalanan mereka!

1. Cahaya Ramadhana, FIB Jurusan Bahasa Mandarin - USU

Cahaya Ramadhana, Tanoto Scholar Cohort 2025 (IDN Times/Anastasia Desire)

Quick facts: Cahaya

  • Cohort: TELADAN 2025, awal kenal lewat Tanoto Youth Scholarship (TYS)

  • Kampus & Jurusan: USU, Bahasa Mandarin

  • Kesibukan lain: Part-time mengajar + aktif di divisi Media Publikasi TSA USU

  • Filosofi diri: "Lampu belajar" — nyala buat diri sendiri, sekaligus buat orang di sekitarnya

Cahaya Ramadhana adalah anak bungsu dari lima bersaudara, dengan ayah seorang pengemudi ojek konvensional. Ia mengenal TELADAN lewat Tanoto Youth Scholarship (TYS), sebuah beasiswa untuk pelajar berprestasi di tingkat SMP dan SMA dari Tanoto Foundation, dan kalau diminta menggambarkan dirinya sendiri, jawabannya puitis: "Aku pengen jadi lampu belajar — buat diri sendiri, tapi juga buat orang lain."

Momen paling deg-degan sepanjang seleksi TELADAN, menurut Cahaya, adalah sesi FGD di mana ada  lima orang dari kampus berbeda, sama sekali belum saling kenal, diminta kompak menganalisis satu studi kasus dalam waktu terbatas. "Challenging banget," katanya.

Menariknya, jalan Cahaya ke TELADAN gak dimulai dari niat besar masuk PTN. Rencana kuliahnya sempat berantakan sebelum akhirnya lolos SNBP di Bahasa Mandarin USU. Ketertarikannya pada TELADAN justru tumbuh belakangan, setelah ia stalking Instagram TSA USU dan melihat kegiatan yang seru dan banyak turun ke masyarakat.

Momen ‘aha’-nya datang di fase Lead Self, saat ia sadar bahwa sebelum mikirin cara memimpin orang lain, ia harus kenal dulu karakter dan cara dirinya sendiri menghadapi tekanan. Hasilnya terasa nyata: sekarang ia lebih berani berpendapat, lebih inisiatif di diskusi kelompok, bahkan mulai terbiasa memimpin kelas saat mengajar part-time. Ini bukti bahwa transisi Lead Self ke Lead Others yang benar-benar terjadi, bukan cuma teori.

Di balik itu, tantangan terbesarnya adalah manajemen waktu, harus kuliah, mengajar, dan kegiatan TSA USU sering bentrok, ditambah jarak rumah-kampus sekitar satu jam. Ada juga rasa minder berada di lingkungan TSA USU yang diisi para Scholar hebat. Tapi justru dari situlah Cahaya belajar hal paling berharga: bahwa jadi lampu belajar buat orang lain, dimulai dari keberanian menyalakan cahayanya sendiri lebih dulu.

2. Syarifah Nabila Jusman dari Fakultas Sekolah Sains Data, Matematika, dan Informatika Jurusan Statistika dan Sains Data - IPB University

Syarifah Nabila Jusman, Tanoto Scholar Cohort 2025 (IDN Times/Anastasia Desire)

Quick facts: Nabila

  • Kampus: IPB University

  • Latar keluarga: Anak dari keluarga petani

  • Alasan daftar TELADAN: Tertarik pada ragam programnya, bukan cuma beasiswanya

  • Filosofi diri: "Lensa" — menajamkan fokus untuk melihat masalah lebih jernih

  • Isu yang jadi concern: Pendidikan dan gizi, khususnya stunting di Indonesia

Momen paling menegangkan datang di tahap akhir seleksi, saat lima agenda berbeda (dari wawancara sampai psikotes) kebetulan bertabrakan dengan minggu UAS semester 1. Untungnya semua lancar, dan yang paling ia ingat justru ada beberapa sesi yang penuh misi dan seru untuk dilewati, "sampe encok," katanya sambil tertawa.

Keraguan sempat singgah, apalagi ia pernah gagal di seleksi beasiswa lain sebelum mencoba TELADAN. Untungnya dukungan orangtua bikin ia tetap maju. Tapi titik balik terbesarnya justru datang di fase Lead Self. Dulu, Nabila selalu merasa harus mencapai target apa pun caranya, bahkan kalau teman kelompok gak mengerjakan bagiannya, ia yang turun tangan sendiri, sampai lupa mengapresiasi diri sendiri. Lewat refleksi panjang selama program, ia sadar itu justru menutup ruang belajar buat dirinya dan orang lain. Sejak itu ia mulai percaya bahwa ide terbaik bisa datang dari siapa saja.

TSG 2026 jadi puncak dari transisi itu, momen yang paling ia nikmati karena banyaknya narasumber inspiratif yang hadir. Perlahan, ia belajar bahwa kehadiran seorang pemimpin gak harus selalu paling menonjol, kadang yang paling berarti adalah menjadi teman yang mau mendengar dan memberi semangat saat orang lain mulai lelah.

Tantangan terbesarnya adalah belajar berkata "tidak" dan menyusun prioritas. Saat kuliah, organisasi, dan lomba datang bersamaan, ia sempat merasa harus sempurna di semuanya sampai sadar itu cuma bikin cepat lelah. Dari situ Nabila pelan-pelan berhenti jadi people pleaser, dan paham bahwa produktif bukan soal mengerjakan semuanya sekaligus, tapi tahu mana yang paling penting diselesaikan lebih dulu.

Semua proses itu membentuk arah baru bagi Nabila: menjadikan pendidikan dan gizi sebagai isu yang ingin ia perjuangkan, terutama soal stunting yang masih tinggi di Indonesia. Sejalan dengan metafora "lensa" yang ia pilih untuk dirinya sendiri, perjalanan sebagai Tanoto Scholar seolah jadi proses menajamkan fokus itu. Dari yang tadinya buram karena sibuk memenuhi ekspektasi orang lain, kini lebih tahu ke mana energinya benar-benar ingin diarahkan.

3. Muhamad Lidra Abriliansyah, Fakultas Kedokteran - UNDIP

Muhamad Lidra Abriliansyah, Tanoto Scholar Cohort 2025 (IDN Times/Anastasia Desire)

Quick facts: Lidra 

  • Kampus & Jurusan: UNDIP

  • Latar keluarga: Anak buruh harian lepas dan ibu rumah tangga

  • Alasan awal daftar: Bantuan finansial keluarga

  • Filosofi diri: "Jantung" — sejalan dengan cita-citanya jadi dokter spesialis jantung

  • Cita-cita: Menekan angka hipertensi dan TBC akibat gaya hidup di Indonesia

Yang bikin momen wawancara penerimaan beasiswa TELADAN jadi cerita tersendiri buat Lidra adalah kejutan yang datang di detik-detik terakhir: sesi tersebut ternyata memakai bahasa Inggris, langsung bersama pihak Tanoto, padahal semua persiapannya selama ini disiapkan dalam bahasa Indonesia. Rasa deg-degan itu bahkan belum selesai sampai di situ. Setelah notifikasi lolos masuk pun, ia masih membaca ulang pesannya berkali-kali, seolah nggak percaya meski sebenarnya sudah tahu jawabannya.

Sempat ada keraguan juga, tapi bukan soal kemampuan, melainkan soal waktu. Fase Lead Self dan Lead Others yang berjalan panjang bikin Lidra khawatir bakal bentrok dengan kuliah kedokterannya yang terkenal padat. Ia sampai bertanya ke kakak tingkat sebelum akhirnya menemukan jawabannya sendiri lewat prinsip yang dipegang Tanoto Foundation: akademik tetap jadi prioritas utama, baru program TELADAN, baru organisasi. Dan di fase Lead Self itulah, ia justru menemukan jawaban atas prinsip kepemimpinan yang sejak awal ia pegang teguh "I want to be a leader"  lewat rangkaian diskusi dan modul yang perlahan membentuk caranya berpikir.

Perubahan paling kentara ada di cara Lidra berkomunikasi. Dulu introvert, sekarang ia lebih paham cara menempatkan diri saat diskusi yang penuh perbedaan pendapat, mengatur intonasi, memilih kata, sampai gesturnya supaya nggak terkesan menyerang. Bahkan pernah ada yang menebak jurusannya Komunikasi, bukan Kedokteran. Tapi transformasi itu punya harga: sebagai calon dokter, jadwalnya sering berbenturan dengan agenda mingguan pelatihan kepemimpinan dari Program Beasiswa TELADAN, yang memaksanya beberapa kali memilih fokus ke ujian dan izin dari pertemuan. Bukan berarti menyesal, katanya, cuma memang capeknya nyata karena harus menyeimbangkan dua dunia yang sama-sama menuntut presisi.

Semua pengalaman itu makin memantapkan arah Lidra: menjadi dokter spesialis jantung yang ingin menekan tingginya angka hipertensi dan TBC akibat gaya hidup di Indonesia. Dan filosofi "jantung" yang ia pilih untuk menggambarkan dirinya sendiri jadi terasa pas, organ yang bekerja diam-diam, menjaga ritme tetap stabil, persis seperti caranya menjaga keseimbangan antara dunia kedokteran dan perjalanannya sebagai Tanoto Scholar.

Pesan untuk calon Scholar 2027

Cahaya: “Jangan pernah ragu karena ketika kamu sudah menjadi bagian dari TELADAN dan masuk TSA Univ masing-masing, kamu gak akan sendirian kamu bakalan ketemu temen-temen baru yang bakalan jadi keluarga baru, kamu bakalan punya pengalaman dan privilege yang gak semua beasiswa bisa kasih, pengalaman akan pendidikan, sosial terjun ke masyarakat, dan pastinya pengalaman tentang kepemimpinan apalagi diawali dengan kamu mengenal baik diri kamu mengulik lagi tentang diri sendiri sampai akhirnya kamu bisa tumbuh dan berkembang jauh lebih hebat. Bisa kuliah dengan tenang dan sejuta pengalaman yang gak bakalan kamu lupakan.”

Nabila: "Jangan ragu untuk memulai, lebih baik gagal tapi mencoba daripada gagal tapi gak pernah mencoba. Masuk ke TELADAN bukan hanya membuka banyak kesempatan belajar, tetapi juga mempertemukan kita dengan orang-orang yang akan menantang cara berpikir, memperluas perspektif, dan menemani perjalanan kita menjadi versi diri yang lebih baik. Kalau kamu punya keinginan untuk terus belajar, berkolaborasi, dan suatu hari memberi dampak bagi orang lain, maka kamu sudah punya alasan yang cukup untuk mencoba. Karena jadi Tanoto Scholar bukan sekadar tentang menerima beasiswa, tapi bagian pengembangan diri yang sangat kamu butuhkan sampai nanti.”

Lidra: "Jangan takut dan jangan terlalu banyak khawatir, karena nyatanya udah banyak kok orang yang sukses. Wajar banget kalau merasa takut, takut gak bisa bagi waktu, takut kurang maksimal, pokoknya feel free to ask ke kakak tingkat yang juga Tanoto Scholar cohort sebelum-sebelumnya. Karena sama mereka, yakin deh banyak banget yang bisa kalian tanya dan jadi insight sekaligus semangat baru."

Mau seperti mereka? Daftar TELADAN dan jadi Tanoto Scholar Cohort 2027!

Cerita perjalanan mereka bukan cuma soal cerita inspiratif buat dibaca, tapi bukti bahwa jadi pemimpin itu dimulai dari keberanian buat mulai melangkah. Nah, buat kamu yang lagi duduk di semester 1 dan punya semangat belajar, ingin bertumbuh, dan bermimpi suatu hari bisa memberi dampak buat sesama, sekarang saatnya kamu ambil langkah yang sama.

Tanoto Foundation resmi membuka pendaftaran Beasiswa TELADAN Cohort 2027!

  • Beasiswa penuh selama masa kuliah.

  • Program pengembangan kepemimpinan terstruktur, dari Lead Self, Lead Others, sampai Professional Preparation

  • Komunitas TSA (Tanoto Scholars Association) di kampusmu,yang  bisa jadi keluarga baru untuk tumbuh bersama.

  • Pengalaman belajar, sosial, dan terjun langsung ke masyarakat yang gak bakal kamu dapat di tempat lain.

Cek informasi selengkapnya di: bit.ly/JadiTELADAN2027 ya!Jangan tunggu sampai yakin 100 persen. Seperti kata Nabila: "Lebih baik gagal tapi mencoba, daripada gagal tapi gak pernah mencoba." Sepakat? (WEB/AD)

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.

Curated For You

Editorial Team

Related Article