Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Screenshot Belum Tentu Jadi Bukti Utuh di Kasus-kasus Viral?
Ilustrasi membuka media sosial (unsplash.com/Photo by Nicolas Lobos)
  • Screenshot dapat menjadi petunjuk awal, tetapi hanya menampilkan informasi dalam frame sehingga percakapan, waktu, identitas, dan respons lain yang penting bisa tidak terlihat.
  • Keaslian screenshot tidak otomatis membuktikan narasi utuh; gambar dapat dipotong, diedit, diberi anotasi, atau dipindahkan ke konteks berbeda, terutama di era AI.
  • Sebelum menyimpulkan kasus viral, periksa sumber, tanggal, kronologi, konteks, dan lakukan konfirmasi silang; screenshot perlu didukung autentikasi digital serta bukti relevan lainnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di era media sosial, screenshot sering muncul ketika sebuah kasus viral. Potongan percakapan, unggahan Instagram, komentar, atau pesan pribadi bisa menyebar dalam hitungan menit dan kemudian dianggap sebagai bukti bahwa sebuah cerita memang terjadi. Masalahnya, screenshot hanya memperlihatkan bagian tertentu dari sebuah peristiwa, bukan selalu keseluruhan konteks di baliknya.

Bukan berarti screenshot tidak berguna. Screenshot dapat menjadi petunjuk awal yang penting, terutama ketika sebuah unggahan kemudian dihapus atau sulit ditemukan kembali. Tapi, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan.

1. Screenshot hanya menunjukkan apa yang masuk ke dalam 'frame'

ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Panagiotis Falcos)

Screenshot pada dasarnya adalah gambar dari apa yang terlihat di layar pada suatu waktu. Karena sifatnya berupa gambar, informasi yang tidak masuk ke dalam 'frame' otomatis tidak terlihat. Misalnya, sebuah screenshot chat hanya menampilkan beberapa pesan, sementara percakapan sebelum atau sesudahnya mungkin memberikan arti yang berbeda.

Karena itu, ketika melihat screenshot kasus viral, pertanyaan pertama seharusnya bukan hanya “ini asli atau palsu?”, tetapi “apa yang tidak terlihat di sini?”. Apakah ada pesan sebelumnya? Apakah ada respons setelahnya? Apakah tanggal dan waktunya terlihat? Apakah nama akun dan identitas pengirim dapat diverifikasi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu kita memahami bahwa sebuah screenshot bisa saja asli, tetapi tetap tidak memberikan gambaran lengkap.

2. Screenshot asli belum tentu berarti ceritanya utuh

ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Amirhosain Gazor)

Ada perbedaan antara keaslian gambar dan kelengkapan informasi. Sebuah screenshot dapat benar-benar berasal dari sebuah percakapan, tetapi hanya memperlihatkan sebagian kecil percakapan tersebut. Dengan kata lain, “screenshot ini asli” tidak otomatis sama dengan “narasi yang menyertai screenshot ini pasti benar”.

Penelitian Olivia Inwood dan Michele Zappavigna tentang penggunaan screenshot sebagai bukti visual di media sosial, menunjukkan bahwa screenshot kerap diperlakukan seolah-olah merupakan salinan langsung dari kenyataan. Padahal, penelitian tersebut juga menyoroti bahwa screenshot dapat diedit, dipotong, diberi anotasi, atau ditempatkan dalam konteks baru sehingga maknanya berubah.

"Tangkapan layar dapat dengan mudah dimanipulasi menggunakan perangkat lunak penyunting gambar, tangkapan layar sering kali dianggap sebagai salinan konten yang akurat. Hal ini berpotensi memicu praktik misinformasi dan disinformasi," demikian laporan studi The legitimation of screenshots as visual evidence in social media: YouTube videos spreading misinformation and disinformation dalam SAGE Journals.

3. Konteks bisa mengubah cara kita memahami isi screenshot

ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Alejandro Sotillet)

Salah satu masalah terbesar dalam kasus viral adalah konteks sering hilang ketika sebuah konten dipindahkan dari ruang privat ke ruang publik. Satu kalimat yang terlihat kasar, misalnya, bisa memiliki arti berbeda jika ternyata merupakan bagian dari percakapan bercanda, respons terhadap pesan sebelumnya, atau kutipan dari orang lain.

Sebaliknya, percakapan yang tampak biasa juga bisa memiliki konteks bermasalah jika pesan sebelumnya sengaja tidak ditampilkan. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) juga mengingatkan masyarakat untuk tidak langsung memercayai konten tanpa memeriksa konteks.

"Masyarakat perlu makin kritis terhadap setiap informasi yang diterima. Jangan langsung mempercayai," kata Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, Fifi Aleyda Yahya, dikutip dari PORTAL SAMA Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi).

Prinsip tersebut sangat relevan ketika membaca screenshot kasus viral. Jangan hanya membaca teks yang terlihat, tetapi cari tahu siapa yang membuatnya, kapan percakapan berlangsung, kepada siapa pesan tersebut ditujukan, dan bagaimana rangkaian peristiwanya.

4. Era AI membuat kita tidak bisa hanya mengandalkan tampilan

Ilustrasi membuka media sosial (unsplash.com/Photo by Annie Spratt)

Dulu, orang mungkin menganggap screenshot sulit dipalsukan karena tampilannya menyerupai aplikasi asli. Sekarang, anggapan tersebut semakin berisiko. Perangkat lunak pengedit gambar, situs pembuat percakapan palsu, dan teknologi AI membuat pembuatan konten yang tampak meyakinkan semakin mudah.

Hany Farid, profesor di Department of Electrical Engineering & Computer Sciences dan School of Information di University of California, Berkeley, merupakan salah satu pakar digital forensik yang banyak meneliti manipulasi gambar dan misinformation. Ia menyarankan agar masyarakat bersikap skeptis terhadap konten yang muncul di media sosial.

"Mendeteksi gambar yang dibuat oleh AI atau telah dimanipulasi kini semakin sulit. Saran terbaik yang bisa saya berikan adalah bersikaplah waspada terhadap konten yang kamu lihat di Facebook, Instagram, maupun media sosial pada umumnya. Platform ini telah dipenuhi dengan begitu banyak konten sampah hasil AI hingga pada titik di mana platform tersebut sama sekali tidak bisa lagi dipercaya,” katanya dikutip dari UC Berkeley School of Information.

 

5. Sebelum ikut menyimpulkan, gunakan prinsip cek, konteks, konfirmasi

Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Nima Ghodsi)

Cara paling aman membaca kasus viral adalah menganggap screenshot sebagai satu keping puzzle. Pertama, cek sumbernya. Cari akun atau platform asal, tanggal unggahan, dan apakah konten tersebut pernah muncul sebelumnya. Kedua, cari konteksnya dengan melihat percakapan atau peristiwa sebelum dan sesudah bagian yang viral.

Ketiga, lakukan konfirmasi silang. Kemkomdigi dalam panduan mengenai informasi palsu, menyarankan masyarakat memperhatikan asal berita, siapa sumbernya, keberimbangan sumber, serta membedakan fakta dan opini. Untuk foto, Kemkomdigi juga menyarankan pengecekan menggunakan mesin pencari atau reverse image search.

Terakhir, bedakan antara “ada bukti” dan “bukti sudah cukup untuk membuat kesimpulan”. Screenshot memiliki nilai pembuktian, tetapi kekuatannya sangat bergantung pada autentikasi digital, integritas data, dan dukungan pemeriksaan forensik. Screenshot tidak seharusnya berdiri sendirian dan membutuhkan pemeriksaan lainnya.

 

Bersikap tenang dengan kepala dingin adalah cara penting ketika menghadapi kasus viral. Jangan langsung percaya hanya karena sebuah screenshot terlihat meyakinkan, tetapi jangan pula langsung menyebutnya palsu hanya karena ceritanya tidak sesuai dengan dugaan kita. Screenshot bisa menjadi petunjuk, tetapi untuk memahami sebuah kasus secara utuh, kita membutuhkan konteks, sumber asli, kronologi, konfirmasi silang, dan bukti lain yang relevan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article