Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sering Screenshot tapi Gak Pernah Dibuka Lagi? Ini Alasan di Baliknya

Sering Screenshot tapi Gak Pernah Dibuka Lagi? Ini Alasan di Baliknya
ilustrasi screenshot di ponsel (unsplash.com/Pradamas Gifarry)
  • Screenshot menjadi cara cepat mengamankan informasi saat belum sempat diproses, karena manusia cenderung memilih tindakan yang membutuhkan usaha kognitif lebih kecil.
  • Setelah informasi tersimpan di ponsel, terjadi cognitive offloading: otak mengandalkan perangkat sebagai penyimpanan sehingga dorongan untuk mengingat atau membukanya kembali berkurang.
  • Tumpukan screenshot tanpa pemilahan membuat galeri kewalahan; informasi penting justru sulit ditemukan, memunculkan kecemasan saat tidak menyimpan sekaligus rasa kewalahan karena terlalu banyak menyimpan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah gak, kamu screenshot sesuatu karena merasa informasi itu bakal berguna suatu hari nanti, tetapi beberapa minggu kemudian malah lupa pernah menyimpannya? Mulai dari rekomendasi tempat makan, resep, outfit, sampai tips yang kelihatannya menarik, semuanya bisa berakhir menumpuk di galeri. Lucunya, saat menekan tombol screenshot, kita biasanya merasa informasi tersebut sudah “diamankan”, meski belum tentu benar-benar akan dibuka lagi.

Kebiasaan ini sebenarnya cukup masuk akal. Setiap hari, kita menerima begitu banyak informasi dari media sosial, chat, sampai berbagai situs di internet. Gak semuanya bisa langsung dibaca, diingat, atau diproses saat itu juga.

Screenshot akhirnya jadi cara yang praktis untuk menyimpan sesuatu yang terasa menarik tanpa harus memutuskan sekarang apakah informasi tersebut benar-benar akan digunakan. Namun, ada hal menarik di balik kebiasaan sederhana ini. Kenapa kita merasa perlu menyimpan screenshot yang belum tentu akan kita lihat lagi?

  1. 1. Screenshot jadi cara paling gampang untuk mengamankan informasi

    ilustrasi screenshot tampilan di komputer
    ilustrasi screenshot tampilan di komputer (freepik.com/freepik)

    Saat menemukan sesuatu yang menarik di internet, ada kalanya kita belum punya waktu untuk membacanya sampai selesai. Daripada kehilangan informasi tersebut, screenshot terasa seperti pilihan paling gampang. Tinggal tekan satu tombol, informasi sudah tersimpan dan bisa dicari lagi kapan saja. Menurut Evan Risko, PhD, profesor psikologi di University of Waterloo, manusia cenderung menjadi “cognitive misers” atau memilih cara yang membutuhkan lebih sedikit usaha kognitif.

    “Jika sebuah tugas bisa dilakukan dengan lebih sedikit usaha kognitif, kita cenderung memilih cara tersebut,” jelasnya dalam Monitor on Psychology, publikasi dari American Psychological Association (APA). 

    Dalam konteks screenshot, menekan satu tombol tentu terasa jauh lebih mudah daripada harus mengingat sendiri informasi yang baru saja kita lihat. Apalagi, informasi tersebut masih bisa dicari kembali kapan saja dari galeri ponsel.

    Itulah mengapa kita bisa merasa cukup tenang setelah mengambil screenshot. Informasinya memang belum dibaca, tetapi setidaknya sudah punya “tempat” untuk kembali. Kita gak perlu mengandalkan ingatan sepenuhnya untuk mengingat di mana menemukan rekomendasi, resep, atau tips tersebut.

  2. 2. Setelah disimpan, kita merasa gak perlu mengingatnya lagi

    ilustrasi screenshot Story IG
    ilustrasi screenshot Story IG (unsplash.com/Erik Lucatero)

    Ada alasan kenapa setelah screenshot kita bisa langsung merasa lebih tenang. Informasi yang tadinya harus kita ingat sendiri, sekarang sudah kita “titipkan” ke ponsel. Alhasil, kita merasa gak perlu mengingatnya lagi di kepala.

    Hal ini berkaitan dengan cognitive offloading. Dalam penelitian yang dibahas oleh ScienceDaily, Evan Risko, PhD, seorang profesor psikologi di University of Waterloo, menjelaskan bahwa ketika seseorang tahu informasi sudah tersimpan di perangkat, mereka cenderung mengandalkan perangkat tersebut sebagai tempat penyimpanan alih-alih mengingatnya sendiri.

    “Jika kamu diperbolehkan menyimpan informasi yang perlu diingat di komputer, kemungkinan besar kamu gak akan menggunakan kapasitas kognitif untuk mengingat informasi tersebut,” jelas Risko, dikutip dari Science Daily.

    Pada akhirnya, kalimat “nanti aku baca lagi” sering berakhir hanya sebagai niat belaka. Setelah screenshot tersimpan, otak gak lagi harus mengingat untuk mempertahankan informasi tersebut. Karena kalau lupa, kita merasa masih bisa mencarinya kembali ke galeri.

  3. 3. Terlalu banyak menyimpan screenshot, malah bikin sulit ditemukan

    ilustrasi galeri foto
    ilustrasi galeri foto (pexels.com/Darlene Alderson)

    Menyimpan satu atau dua screenshot mungkin gak akan jadi masalah. Tapi coba bayangkan kalau setiap hari kamu menyimpan beberapa gambar, lalu gak pernah menghapus atau memilahnya. Lama-lama, galeri berubah menjadi tempat penyimpanan berbagai hal yang pernah terasa penting.

    Di sinilah kebiasaan screenshot bisa menjadi kontraproduktif. Informasi yang awalnya disimpan supaya mudah ditemukan kembali justru harus bersaing dengan puluhan atau bahkan ratusan screenshot lain. Ketika semuanya dianggap penting, menentukan mana yang benar-benar perlu dicari kembali menjadi semakin sulit.

    Menurut Dosen IPB University, Agung Minto Wahyu, S.Psi., M.Si., “Seseorang merasa cemas kalau tidak menyimpan, tetapi juga merasa kewalahan karena terlalu banyak menyimpan. Di sinilah muncul lingkaran psikologis yang sulit diputus,” dikutip dari laman IPB University.

    Jadi kalau galeri ponselmu penuh screenshot yang gak pernah dibuka lagi, sebenarnya kamu gak sendirian. Bisa jadi, saat mengambilnya kamu hanya ingin memastikan informasi tersebut gak hilang begitu saja. Namun ketika semuanya disimpan tanpa pernah dipilah, informasi yang benar-benar penting justru bisa ikut tenggelam di antaranya. Mungkin sesekali gak ada salahnya membuka folder screenshot dan bertanya, Ini masih aku butuhkan, atau cuma aku simpan karena dulu merasa sayang kalau hilang?”.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More