13 Kosakata Lawas yang Kaya Makna, Pernah Dengar ‘Centang Perenang’?

Bahasa Indonesia terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Sebagian kosakata tetap bertahan dan lestari sampai saat ini, sementara lainnya perlahan memudar dari percakapan sehari-hari. Kata-kata yang dulu terasa akrab kini justru terdengar asing di telinga generasi yang tumbuh di era digital.
Padahal, banyak kosakata lawas menyimpan makna yang jauh lebih kaya dibandingkan padanannya saat ini. Ungkapan-ungkapan tersebut tidak hanya menjelaskan suatu kondisi, tetapi juga menghadirkan rasa, suasana, bahkan nilai budaya yang melekat. Berikut 13 kosakata lawas yang menarik untuk diingat kembali
1. Centang perenang

Centang perenang digunakan untuk menggambarkan keadaan yang berantakan atau tidak teratur. Istilah ini memberikan gambaran visual yang kuat tentang sesuatu yang tercerai-berai. Ungkapan ini sering dipakai dalam konteks situasi fisik ataupun kondisi yang kacau secara umum. Keunikan bunyinya juga membuatnya mudah diingat meski kini jarang digunakan.
Contoh kalimat:
Setelah renovasi mendadak itu, isi rumah menjadi centang perenang dan sulit ditata kembali
2. Lintang pukang

Kata lintang pukang menggambarkan kondisi seseorang yang berlari atau bergerak dalam keadaan panik. Istilah ini sering muncul dalam cerita lama untuk menunjukkan kekacauan yang mendadak. Kosakata lintang pukang terasa lebih ekspresif karena menyiratkan emosi sekaligus gerakan.
Contoh kalimat:
Warga berlarian lintang pukang saat mendengar suara ledakan dari arah pasar.
3. Tunggang langgang

Tunggang langgang memiliki makna yang mirip dengan lintang pukang, yaitu berlari terburu-buru karena ketakutan atau kepanikan. Namun, nuansanya lebih menekankan pada kecepatan dan ketergesaan yang tidak terkontrol. Kata ini sering digunakan dalam narasi untuk menggambarkan situasi genting.
Contoh kalimat:
Ia pulang tunggang langgang begitu menyadari dompetnya tertinggal di kantor.
4. Tepa selira

Tepa selira atau tepo seliro merupakan istilah yang berasal dari budaya Jawa dan mengandung makna empati atau tenggang rasa terhadap orang lain. Kata ini mengajarkan pentingnya mempertimbangkan perasaan dan sudut pandang orang lain dalam bertindak. Sayangnya, istilah ini kini lebih sering dipahami sebagai konsep daripada digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Contoh kalimat:
Dalam berdiskusi, kita perlu mengedepankan tepa selira agar tidak menyinggung perasaan orang lain
5. Guyub rukun

Guyub rukun menggambarkan kondisi kebersamaan dan penuh kekompakan. Istilah ini mencerminkan nilai kolektif yang menempatkan keharmonisan sebagai prioritas dalam kehidupan sosial. Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan kehidupan masyarakat yang damai dan saling mendukung. Dalam konteks modern, maknanya masih relevan meski penggunaannya semakin jarang terdengar.
Contoh kalimat:
Suasana kampung itu tetap guyub rukun meski warganya berasal dari latar belakang berbeda
6. Manunggal

Kata manunggal berarti menyatu atau menjadi satu kesatuan yang utuh. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan persatuan yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional dan spiritual. Penasaran sama contoh kalimatnya? Ini dia!
Contoh kalimat:
Tim yang solid akan lebih mudah manunggal dalam menyelesaikan proyek besar
7. Nguri-uri budaya

Nguri-uri budaya berarti menjaga, merawat, dan melestarikan budaya secara sadar. Istilah ini tidak hanya menekankan tindakan, tetapi juga sikap dan komitmen terhadap warisan budaya. Kata ini sering digunakan dalam konteks pelestarian tradisi lokal. Makna ini juga bisa menjadi sinonim dari kata melestarikan
Contoh kalimat:
Generasi muda diharapkan terus nguri-uri budaya lokal melalui berbagai kegiatan kreatif.
8. Mengejawantahkan

Mengejawantahkan berarti mewujudkan sesuatu yang sebelumnya masih berupa gagasan atau konsep. Kata ini sering digunakan dalam konteks ide, nilai, atau visi yang ingin direalisasikan. Dibandingkan kata mewujudkan, istilah ini memiliki nuansa yang lebih filosofis.
Contoh kalimat:
Ia berusaha mengejawantahkan ide besarnya ke dalam program nyata yang berdampak bagi masyarakat.
9. Tedeng aling-aling

Tedeng aling-aling artinya berbuat sesuatu dengan sembunyi-sembunyi. Istilah ini kerap digunakan untuk menggambarkan tindakan yang tidak dilakukan secara terang-terangan, biasanya karena ada maksud tertentu yang ingin disembunyikan. Dalam percakapan sehari-hari, ungkapan ini bisa merujuk pada sikap yang tidak jujur atau kurang terbuka terhadap orang lain.
Contoh kalimat:
Tanpa tedeng aling-aling, ia mengkritik kebijakan itu di depan publik.
10. Silang sengkarut

Silang sengkarut menggambarkan situasi yang rumit dan kusut. Kata ini sering digunakan untuk menjelaskan persoalan yang saling terkait dan membingungkan. Jika dibandingkan dengan istilah seperti kompleks, ungkapan ini terasa lebih deskriptif. Ia tidak hanya menjelaskan tingkat kesulitan, tetapi juga kekacauan yang menyertainya.
Contoh kalimat:
Masalah birokrasi yang silang sengkarut membuat proses perizinan menjadi semakin lama.
11. Berkelindan

Berkelindan berarti saling terkait atau terjalin satu sama lain. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan hubungan antara berbagai hal yang tidak berdiri sendiri. Kata ini memiliki nuansa puitis yang jarang ditemukan dalam bahasa modern. Penggunaannya mampu memberikan kedalaman dalam menjelaskan keterkaitan suatu fenomena.
Contoh:
Isu ekonomi dan politik sering kali berkelindan dalam menentukan arah kebijakan negara.
12. Bromocorah

Bromocorah atau Bramacorah merujuk pada pelaku kejahatan seperti maling, perampok, preman, atau berandalan. Selain itu, istilah “bromocorah” memiliki konteks sosial-politik yang kuat, terutama pada era Orde Baru di Indonesia. Pada masa itu, istilah ini kerap digunakan untuk menyebut kelompok kriminal yang kemudian menjadi target operasi penertiban oleh aparat negara. Bromocorah juga dikaitkan dengan residivis atau pelaku kejahatan yang berulang, bahkan mereka yang sehari-hari tampak berbaur dengan masyarakat tetapi sewaktu-waktu melakukan tindakan kriminal.
Contoh kalimat:
Aparat keamanan pada masa itu gencar melakukan operasi untuk menertibkan para bromocorah yang meresahkan masyarakat.
13. Pengarusutamaan

Pengarusutamaan artinya menjadikan suatu isu sebagai perhatian utama dalam kebijakan atau wacana publik. Istilah ini sering digunakan dalam konteks sosial dan politik, seperti pengarusutamaan gender. Kata ini mencerminkan upaya sistematis untuk mengangkat suatu isu agar lebih diperhatikan. Meski masih digunakan, maknanya sering kali tidak dipahami secara mendalam.
Contoh kalimat:
Pemerintah mendorong pengarusutamaan isu lingkungan dalam setiap kebijakan pembangunan.
Menghidupkan kembali kosakata tersebut tidak harus dilakukan secara besar-besaran. Cukup dengan mengenali, memahami, dan sesekali menggunakannya dalam percakapan, kita sudah ikut merawat warisan bahasa. Dari situlah, peradaban perlahan tercermin melalui diksi yang kita pilih. Dari 13 kosakata lawas di atas, adakah yang masih terasa akrab di telinga?