IDN Times Xplore (Tim VISKARA_SMA NEGERI 2 MEDAN)
Teman-teman, aksi perundungan sering kita saksikan di sekitar kita.
Teman-teman, apa kalian tahu dampak dari perundungan itu? Bentuk perundungan, dan bagaimana cara mengatasinya?
Dari karya Mading ini, kami dari Tim Viskara akan membuka mata dan hati teman-teman agar menjadi lebih paham nih terhadap perundungan, dampaknya dan bagaimana cara mencegahnya. Yuk, bersama-sama ciptakan lingkungan yang aman, nyaman dan bebas dari perundungan.
Kasus perundungan masih menjadi masalah yang sering dinormalisasi sebagai bentuk candaan, sehingga kasus yang terjadi kurang mendapat perhatian dan penanganan serius terutama di lingkungan sekolah. Perundungan sangat sering dijumpai dimana saja baik di desa maupun di perkotaan dan di Indonesia perundangan banyak terjadi di kalangan anak-anak sekolah . Perundungan tentu hadir karena adanya alasan ataupun faktor yang menyebabkannya. Faktor terbesar dari perundungan adalah lingkungan tempat tinggalnya sendiri yang menjadi alasan besar terhadap terjadinya perundungan. Selain itu, juga dapat terjadi karena seseorang memiliki kekurangan di bidang moral dan material.
Perundungan adalah suatu tindakan negatif yang dilakukan secara sengaja dan terus berulang oleh pelaku baik seseorang atau sekolompok orang terhadap individu lain. Perundungan dapat dilakukan dalam bentuk apa saja mulai dari tindakan fisik, perkataan yang menyakiti, pengucilan, hingga melalui media digital. Perundungan bukan sekadar candaan ataupun konflik biasa karena didalamnya ada korban yang merasa takut, tertekan hingga tidak berdaya. Perundungan sebagai perilaku agresif apa pun yang mencakup tiga elemen kunci, yaitu niat untuk menyakiti, bersifat berulang, dan ketidakseimbangan kekuatan yang jelas antara pelaku dan korban.
Perundungan dapat terjadi karena seseorang merasa lebih kuat, lebih berpengaruh, atau ingin terlihat hebat dengan cara merendahkan orang lain.
Adapun penyebab melakukannya juga karena ikut-ikutan teman atau menganggap perilaku tersebut sebagai bahan bercanda. Sayangnya, ketika fenomena ini terus dibiarkan, banyak orang mulai menganggap perundungan sebagai hal yang wajar. Sebenarnya, tidak ada alasan yang dapat membenarkan tindakan menyakiti orang lain, apalagi hanya demi mendapatkan perhatian atau tawa dari orang-orang di sekitarnya.
Perilaku perundungan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah faktor keluarga, teman sebaya, media massa, lingkungan sosial, lingkungan sekolah, dan harga diri. Keluarga yang tidak memberikan perhatian ataupun menunjukkan perilaku kasar kepada anak dapat memengaruhi cara anak itu memperlakukan orang lain. Selanjutnya, pengaruh teman sebaya dapat membuat seseorang ikut melakukan tindakan perundungan agar merasa diterima dalam kelompoknya.
Media massa yang memperlihatkan penghinaan sebagai bahan candaan juga dapat membuat perilaku perundungan dianggap biasa. Lingkungan sosial dan sekolah yang membiarkan perundungan terjadi tanpa penanganan yang tepat dapat membuat tindakan ini terus berulang. Sementara itu, sebagian orang menganggap merendahkan orang lain adalah tindakan untuk mendapatkan pengakuan atau merasa lebih unggul.
Perundungan bukanlah masalah sepele yang bisa hilang dengan begitu saja setelah tawa berhenti. Di belakang candaan yang dianggap lucu, ada perasaan seseorang yang mungkin saja terluka tanpa diketahui orang lain. Korban perundungan dapat mengalami rasa takut, cemas, kehilangan kepercayaan diri, hingga merasa tidak nyaman berada di lingkungan sekolah atau sekitarnya. Dampaknya juga bisa memengaruhi kegiatan belajar, seperti sulit berkonsentrasi, takut pergi ke sekolah, dan menurunnya prestasi akademik. Kalau terus
dibiarkan, pengalaman tersebut dapat membekas hingga korban perundangan tumbuh dewasa dan kesulitan membangun hubungan dengan orang lain.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan agar perundungan tidak terus terjadi?
Sebenarnya, kita bisa memulainya dari hal-hal sederhana, seperti menjaga perkataan, menghargai perbedaan, dan tidak menjadikan orang lain sebagai bahan ejekan hanya demi mengundang tawa. Kita juga perlu belajar memahami perasaan orang lain, karena belum tentu sesuatu yang menurut kita lucu bisa diterima dengan baik oleh orang lain. Jika melihat teman mengalami perundungan, jangan malah ikut menertawakan atau berpura-pura tidak tahu. Cobalah untuk menemani dan memberikan dukungan kepadanya, serta melaporkan kejadian tersebut kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya.
Perundungan mungkin tidak bisa dihentikan hanya dengan satu tindakan, tetapi perubahan bisa dimulai ketika kita berhenti menganggapnya sebagai hal yang biasa. Jangan sampai keinginan untuk terlihat lucu justru membuat orang lain pulang dengan perasaan terluka.
Bisa kita lihat bahwasanya perundungan ini sangat memberikan pengaruh yang besar bagi siswa siswi sekolah, yang dimana sekolah merupakan tempat siswa siswi belajar dan mengais ilmu, tetapi dikarenakan adanya perundungan membuat sekolah menjadi tempat yang dihindari, tempat yang menjadi kenangan trauma, tempat yang ditakuti, tidak semesti awal apa itu sekolah bagi korban. Faktanya di Indonesia perundungan merupakan masalah serius yang sering terjadi di lingkungan pendidikan dan digital.
Berdasarkan penelitian Karneli dkk. (2023) yang diterbitkan dalam Jurnal Cakrawala Pendidikan, penelitian terhadap 689 siswa di Sumatera Barat menunjukkan bahwa 32,08% siswa memiliki kecenderungan melakukan perundungan dalam kategori sedang, 4,06% kategori tinggi, dan 0,87% kategori sangat tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa kecenderungan melakukan perundungan masih ditemukan di kalangan siswa sehingga perlu adanya upaya pencegahan melalui pendidikan dan bimbingan di sekolah. Pada komisi perlindugan anak Indonesia (KPAI) dan federasi guru Indonesia (FGSI) masalah perundungan di lingkungan sekolah menjadi perhatian yang cukup serius. Tercatat ada 1.478 kasus perundungan yang dilaporkan. Kasus perundungan fisik merupakan bentuk perundungan yang paling umum, 55,2% verbal, dan 29,3 % bulliying psikologis.
Perundungan mungkin dianggap hal sepele bagi banyak orang, dan merasa itu dapat dilakukan ataupun dilontarkan kepada seseorang dengan sengaja. Nyatanya perundungan dapat menjadi trauma besar bagi banyak orang yang menjadi korban. Perilaku sepele yang dilakukan akan terus diingat bagi korban, bagaimana perilaku dan kata-kata yang telah diberikan oleh dirinya. Oleh karena itu, mari tanamkan pada diri kita bahwasanya perundungan merupakan hal yang salah dan memberikan dampak besar bagi korban. Daripada saling menejelekkan saling menghina, dan saling menindas. Maka marilah kita saling merangkul satu sama lain, saling menghargai, dan menyuarakan dengan lantang untung menghentikan tindakan perundungan.