- Indonesia Rp644 ribuan
- Malaysia 129.90MYR atau Rp580.000 ribuan
- Singapore 39.95SGD atau Rp567.000 ribuan
- India ₹699.00 atau Rp136.305 ribuan
- Inggris EUR13.87 atau Rp281.715 ribuan
Buku Itu Bukan Barang Mewah, tapi Kok Mahal?

- Harga buku impor di Indonesia tinggi karena pungutan pajak, termasuk PPN 11 persen dan PPh impor; pajak buku cetak Indonesia lebih tinggi dibanding Malaysia, India, dan Inggris yang 0 persen.
- Daya beli membuat buku kurang terjangkau: pekerja Indonesia perlu bekerja sekitar 2–4 jam untuk membeli satu buku, sedangkan di Singapura 59 menit dan Inggris 29 menit.
- Harga buku Rp80–150 ribu setara 3–10 kali makan di Jakarta, sehingga akses bacaan menjadi terbatas; Indonesia rata-rata membaca 5–6 buku per tahun dan skor PISA 365.
Celetukan yang kerap melabeli masyarakat Indonesia sebagai orang ber-'literasi rendah' mungkin terdengar menjengkelkan. Padahal, animo untuk menikmati bacaan mulai tumbuh di berbagai sudut kota, komunitas membaca mulai bergerak menyemarakkan hobi tersebut, di media sosial orang berbondong-bondong memamerkan bacaan mereka. Bahkan ada joki membaca buku, artinya minat terhadap hobi tersebut mulai tumbuh.
Tapi jika cap sosial itu masih populer, tampaknya kita perlu menelaah mengapa label masyarakat Indonesia sebagai orang ber-'literasi rendah' belum juga sirna. Membaca buku seharusnya bukan menjadi sebuah kemewahan. Sebagai sumber pengetahuan, buku semestinya menjadi kebutuhan yang dapat diakses oleh siapa saja untuk memperluas wawasan.
Tidak sepatutnya ilmu pengetahuan terbatas, sulit diakses, dan menjadi hak istimewa hanya untuk segelintir orang. Lantas, mengapa Indonesia masih kerap dianggap sebagai negara dengan budaya rendah baca?
1. Buku dengan judul sama di Indonesia harganya Rp600 ribu, kalau di India cuma Rp130 ribuan, kok bisa?

Tsutaya Books Bukit Jalil, Malaysia. (IDN Times/Dina Salma) Sebuah buku di Indonesia rata-rata harganya Rp70-150 ribuan, kalau buku tersebut diimpor dari negara lain, harganya lebih tinggi lagi, minimal Rp100 ribuan. Kita ambil contoh buku berjudul "Let them Theory" karya Mel Robins yang tengah populer di kalangan muda. Buku The Let Them Theory yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia harganya Rp95 ribuan, sementara untuk versi bahasa Inggris dibanderol dengan harga Rp644 ribuan.
Buku yang sama di negara asalnya, Amerika Serikat, harganya $13.56 atau sekitar Rp246 ribuan. Sementara di Malaysia, buku dengan judul serupa harganya 129.90MYR, dan di Singapore 39.95 SGD.
Jadi, buku berjudul Let Them Theory di berbagai negara dapat berbeda meskipun harga aslinya sekitar $13.56. Harga online dari toko buku yang sama di berbagai negara adalah sebagai berikut:
Mengapa harga sebuah buku impor di Indonesia cukup tinggi jika dibandingkan dengan negara lain? Tentu terdapat beberapa faktor yang memengaruhi, misalnya kebijakan negara asal, kurs, dan lain-lain. Selain hal itu, buku dengan penulis internasional yang di impor ke Indonesia akan dikenakan pajak.
Dikutip dari artikel Direktorat Jenderal Pajak (DJP), buku impor karya penulis mancanegara dapat dikenai sejumlah pungutan pajak. Berdasarkan ketentuan PPh Pasal 22, impor buku dapat dikenai tarif sebesar 2,5 persen dari nilai impor bagi importir yang menggunakan Angka Pengenal Impor (API) dan 7,5 persen bagi importir non-API. Selain itu, artikel DJP tersebut menjelaskan pengenaan PPN sebesar 11 persen atas impor buku. Namun, terdapat pengecualian untuk kategori buku tertentu yang memenuhi persyaratan pembebasan pajak.
Nasib buku dengan judul yang sama namun diterjemahkan dalam bahasa Indonesia maka mengalami perubahan harga. Masih dengan buku berjudul Let Them Theory, harga buku tersebut jika telah ditranslasi dalam bahasa Indonesia, harganya Rp95 ribuan. Hal serupa terjadi di negara lain, dengan rincian sebagai berikut:
- Indonesia Rp95 ribuan
- India ₹299 atau sekitar Rp58 ribuan
- Malaysia RM45.00 atau sekitar Rp201 ribuan
Data di atas memaparkan, sebuah buku dengan judul yang sama dapat memiliki harga yang sangat berbeda dari masing-masing negara. Salah satu penyebabnya adalah pungutan pajak yang dikenakan pada setiap buku.
Nah, mengapa harga buku di Indonesia bisa lebih tinggi daripada negara lain? Ternyata, pajak buku cetak di Indonesia termasuk tinggi jika dibandingkan dengan negara lain. Bahkan, pemerintah Malaysia, India, hingga UK membebaskan pajak buku, artinya ketika seseorang membeli buku, tak ada pungutan pajak yang harus dibayarkan.
Menurut International Publishers Association, berikut adalah pungutan pajak buku cetak untuk beberapa negara:
- Indonesia: 11 persen
- Singapore: 9 persen
- Malaysia: 0 persen
- India: 0 persen
- UK: 0 persen
2. Orang Indonesia harus kerja 4 jam untuk beli 1 buku, sementara orang Inggris hanya butuh 30 menit

Museum Kata Andrea Hirata di Kabupaten Belitung Timur. (IDN Times/Dina Salma) Rata-rata harga buku karya penulis Indonesia berkisar Rp80 ribu hingga Rp150 ribu. Sebagai gambaran, jika mengambil contoh pekerja di Jakarta dengan upah minimum sekitar Rp5,7 juta per bulan, harga satu buku tersebut setara dengan 1,4–2,63 persen dari total pendapatan bulanan.
Maka untuk membeli 1 buku, dengan asumsi pekerja membutuhkan waktu 40 jam per minggu untuk memperoleh upah tersebut, mereka perlu bekerja sekitar 2 jam 15 menit hingga 4 jam 13 menit untuk mendapatkan uang yang cukup demi membeli 1 buku. Jadi, seorang pekerja harus bekerja selama 2-4 jam untuk bisa memiliki 1 buku di Indonesia.
Jika dibandingkan dengan kondisi di Inggris, harga buku di Indonesia relatif sulit dijangkau berdasarkan daya beli pekerja. Menurut Office for National Statistics (ONS), rata-rata gaji di Inggris adalah £3.253 per bulan. Sementara, rata-rata harga buku penulis Inggris menurut NielsenIQ BookData adalah £9.52. Artinya, seseorang di Inggris hanya perlu mengalokasikan sekitar 0,29 persen dari pendapatan bulanannya untuk membeli 1 buku. Ia hanya perlu bekerja selama 29 menit untuk membeli 1 buku.
Jika Inggris terlalu jauh, maka mari menilik kondisi ini dari negara tetangga, Singapore. Di Singapore, upah rata-rata warganya berdasarkan Progressive Wage Model (PWM), menurut Boundless adalah SGD 5.775. Kalau rata-rata harga buku di Singapore SGD 15.00 sampai dengan SGD 45.00 menurut Independent Market, maka harga satu buku di Singapore setara dengan 0,26–0,78 persen dari pendapatan bulanan.
Oleh karenanya, seorang pekerja di Singapore hanya membutuhkan waktu kerja sekitar 59 menit untuk membeli buku seharga SGD30. Dengan catatan, negara tersebut memiliki pungutan pajak sebesar 9 persen untuk buku cetak.
Berapa lama seseorang harus bekerja untuk membeli 1 buah buku?
- Indonesia: rata-rata 2-4 jam kerja
- Singapura: rata-rata 59 menit kerja
- Inggris: rata-rata 29 menit kerja
3. Di Indonesia, kalau mau beli buku harus rela tidak makan 3-10 kali

Museum Kata Andrea Hirata di Kabupaten Belitung Timur. (IDN Times/Dina Salma) Jika pengeluaran makan di Jakarta diasumsikan Rp15.000 hingga Rp30.000 per sekali makan, maka untuk membeli satu buku seharga Rp80 hingga 150 ribu, seseorang perlu mengorbankan anggaran setara sekitar 3–10 kali makan. Sementara orang Inggris dengan rata-rata biaya makan £8 hingga £14, menurut estimasti SUN Education, hanya perlu mengorbankan sepiring sarapannya untuk beli 1 buku seharga £9.52.
Ketika harga buku harus mengorbankan beberapa kali makan, maka buku akan dianggap sebagai kebutuhan rekreasi atau kebutuhan sekunder. Literasi tidak cukup didorong hanya dengan kampanye membaca, namun juga jangkauan akses terhadap buku. Membaca buku yang seharusnya menjadi kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan wawasan dan pengetahuan, menjadi previlege bagi sebagian golongan.
Terlebih, bagaimana dengan masyarakat di daerah dengan upah minimum yang lebih rendah dari rata-rata pekerja di Jakarta. Tentu kondisinya jauh lebih miris. Mungkin tak hanya mengorbankan 3-10 kali porsi makanan.
4. Orang Indonesia mungkin bukan malas baca, tapi harga buku yang mahal jadi sebuah kemewahan

Tsutaya Books Bukit Jalil, Malaysia. (IDN Times/Dina Salma) Bagaimana jika budaya membaca di Indonesia rendah bukan karena orang-orangnya malas membaca, melainkan karena untuk mengaksesnya perlu mengorbankan harga yang besar? Akibatnya, capaian literasi dan kebiasaan membaca bukan prioritas utama.
Sebelum menelaah lebih jauh terkait kebiasaan membaca masyarakat Indonesia, sebagai gambaran, berikut adalah capaian skor PISA 2025 untuk beberapa negara di ASEAN tahun 2025:
1. Singapura: 535
2. Malaysia: 393
3. Indonesia: 365
Indonesia berhasil menempati posisi ke-74 dari total 90 negara. Skor ini menunjukkan kemampuan membaca siswa Indonesia masih di bawah level minimum.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, Indonesia menempati peringkat ke-62 dari 70 negara atau merupakan 10 negara terbawah dengan tingkat literasi yang rendah.
Tren budaya membaca menurut World Population Review menunjukkan capaian yang beragam untuk masing-masing negara. Posisi pertama adalah Amerika Serikat. Penduduk AS rata-rata membaca 17 buku buku dalam setahun. India menunjukkan angka yang positif di posisi kedua dengan rata-rata 16 buku, sementara Inggris di posisi ketiga dengan rata-rata 15 buku.
Sementara Indonesia berada diposisi ke-30 dengan rata-rata membaca 5-6 buku setahun, Inggris dan India menjadi negara yang memberlakukan pajak 0 persen untuk buku cetak. Sehingga harga 1 buku jauh lebih terjangkau. Harga buku yang terjangkau dapat mendorong peningkatan jumlah buku yang dibaca masyarakat. Sebab, harga yang sesuai dengan daya beli memberikan kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk membeli dan mengakses bahan bacaan.
Jadi buku memang tidak dikategorikan barang mewah, namun hanya segelintir orang yang dapat mengakses jika dilihat dari harga buku dan jumlah buku yang dibaca oleh masyarakat dalam setahun. Jika demikian, maka tak heran bila membaca buku bukan menjadi sebuah kebutuhan bagi individu. Ilmu pengetahuan menjadi privilege yang hanya dapat diakses oleh sebagian orang karena dihadapkan pada pilihan, mau makan atau beli buku?
















![[MADING] Air Mata Di Balik Tawa: Perundungan Fisik di Sekolah](https://image.idntimes.com/post/20261103/img-20261101-wa0038_c8ed136a-789d-4717-87fe-39eeac197029.jpeg)



