Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pentingnya Belajar Menikmati Hidup saat Media Sosial Terasa Melelahkan

5 min read
Pentingnya Belajar Menikmati Hidup saat Media Sosial Terasa Melelahkan
Ilustrasi merasa tenang (unsplash.com/Photo by Alexey Demidov)

Pernah merasa hidup sendiri kurang menarik setelah melihat unggahan orang lain di media sosial? Saat membuka Instagram atau TikTok, kamu mungkin menemukan teman yang sedang liburan, membeli barang baru, mendapatkan pekerjaan impian, atau menikmati kehidupan yang terlihat menyenangkan. Tanpa sadar, aktivitas scrolling yang awalnya hanya untuk mencari hiburan bisa berubah menjadi kebiasaan membandingkan diri.

Kamu mulai bertanya-tanya mengapa kehidupan orang lain terlihat begitu menyenangkan, sementara hari-harimu terasa biasa saja. Padahal, hidup sederhana bukan berarti kamu tidak memiliki ambisi. Menikmati kehidupan sederhana justru bisa menjadi cara untuk kembali menghargai hal-hal yang selama ini terlewat karena terlalu sibuk mengejar standar orang lain.

  1. 1. Berhenti menjadikan kehidupan orang lain sebagai standar

    Ilustrasi merasa tenang (pexels.com/cottonbro studio)
    Ilustrasi merasa tenang (pexels.com/cottonbro studio)

    Media sosial membuat kita bisa melihat banyak bagian kehidupan orang lain dalam waktu singkat. Mulai dari pencapaian karier, hubungan romantis, liburan, hingga barang-barang yang baru dibeli, semuanya bisa muncul dalam satu kali scrolling.

    Ketika terlalu sering melihat kehidupan yang terlihat menyenangkan, seseorang bisa mulai menganggap bahwa dirinya juga harus memiliki pengalaman serupa agar tidak tertinggal. Padahal, unggahan media sosial tidak selalu menggambarkan kehidupan seseorang secara keseluruhan.

    Orang biasanya membagikan momen yang dianggap menarik, menyenangkan, atau layak dikenang. Sementara itu, bagian kehidupan yang biasa saja, melelahkan, atau penuh masalah mungkin tidak ditampilkan. Karena itu, membandingkan kehidupan sehari-hari dengan potongan terbaik kehidupan orang lain bisa membuat penilaian terhadap diri sendiri menjadi tidak adil.

  2. 2. Kurangi scrolling yang membuat kamu merasa selalu kurang

    Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Anton Tkachenko)
    Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Anton Tkachenko)

    Tidak semua aktivitas menggunakan media sosial memberikan dampak yang sama terhadap suasana hati. Ada konten yang membantu kamu mendapatkan informasi, belajar keterampilan baru, atau terhubung dengan teman. Namun, ada juga konten yang membuat kamu terus merasa kurang, mulai dari kurang sukses, kurang menarik, hingga kurang memiliki pengalaman menyenangkan.

    Cobalah memperhatikan perasaan setelah menggunakan media sosial. Jika kamu sering merasa gelisah, iri, atau tidak puas dengan kehidupan sendiri setelah melihat unggahan tertentu, mungkin sudah waktunya mengurangi paparan terhadap konten tersebut. Kamu bisa berhenti mengikuti akun yang membuatmu merasa tertekan, membatasi waktu scrolling, atau memilih waktu tertentu untuk membuka aplikasi.

    "Membatasi penggunaan media sosial hingga sekitar 30 menit per hari dapat menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam kesejahteraan," kata psikolog sosial Melissa G. Hunt dan rekan-rekannya melakukan penelitiannya No More FOMO: Limiting Social Media Decreases Loneliness and Depression dalam Guilford Press.

    Artinya, membatasi penggunaan media sosial sekitar 30 menit sehari dapat memberikan peningkatan kesejahteraan yang berarti dalam konteks penelitian tersebut. Temuan ini bukan berarti semua orang harus menggunakan media sosial tepat 30 menit, tetapi menunjukkan bahwa mengurangi penggunaan berlebihan bisa menjadi langkah yang bermanfaat.

  3. 3. Belajar menemukan kebahagiaan dari hal-hal kecil

    Ilustrasi merasa tenang (unsplash.com/Photo by Yichen Wang)
    Ilustrasi merasa tenang (unsplash.com/Photo by Yichen Wang)

    Kehidupan sederhana sering kali terasa kurang menarik karena kita terbiasa menganggap kebahagiaan harus datang dari pengalaman besar. Misalnya, pergi berlibur ke tempat baru, membeli barang yang sedang tren, atau mendapatkan pencapaian tertentu.

    Padahal, ada banyak hal kecil yang bisa membuat hari terasa menyenangkan tanpa harus mengeluarkan banyak uang atau mendapatkan perhatian orang lain. Kamu bisa mulai dengan menikmati kegiatan yang selama ini dianggap biasa.

    Misalnya menyeduh kopi atau teh di pagi hari, berjalan santai di sekitar rumah, memasak makanan favorit, membaca buku, atau menghabiskan waktu bersama keluarga bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan. Tidak semua kegiatan harus menghasilkan sesuatu yang bisa dipamerkan. Terkadang, menikmati momen tanpa memikirkan bagaimana orang lain akan melihatnya justru membuat kamu lebih nyaman.

  4. 4. Tidak perlu mengikuti semua tren agar merasa bahagia

    Ilustrasi curhat di media sosial (pexels.com/Ejov Igor)
    Ilustrasi curhat di media sosial (pexels.com/Ejov Igor)

    Media sosial sering membuat tren terasa seperti sesuatu yang wajib diikuti. Mulai dari membeli barang tertentu, mencoba tempat makan yang sedang viral, mengikuti gaya berpakaian, hingga mengunjungi destinasi yang ramai dibicarakan.

    Ketika banyak orang melakukan hal yang sama, kamu mungkin merasa perlu ikut agar tidak ketinggalan pengalaman. Namun, tidak semua tren sesuai dengan kebutuhan atau kondisi keuanganmu. Membeli barang hanya karena sedang populer bisa membuat pengeluaran bertambah tanpa memberikan manfaat yang benar-benar kamu butuhkan.

    Begitu pula dengan mengikuti aktivitas yang sebenarnya tidak kamu sukai hanya demi mendapatkan pengalaman yang terlihat menarik di media sosial. Karena itu, kamu tidak perlu mengikuti setiap tren atau memenuhi semua ekspektasi yang muncul di media sosial.

     

  5. 5. Bangun kehidupan yang menyenangkan meski tidak selalu dipamerkan

    Ilustrasi merasa tenang (unsplash.com/Photo by Alexey Demidov)
    Ilustrasi merasa tenang (unsplash.com/Photo by Alexey Demidov)

    Salah satu cara menikmati hidup sederhana adalah membangun rutinitas yang membuat kamu merasa nyaman, bukan hanya terlihat menarik bagi orang lain. Kamu bisa mulai dengan menentukan kegiatan yang ingin dilakukan setiap minggu, seperti berolahraga ringan, memasak, merawat tanaman, atau bertemu teman dekat.

    Aktivitas tersebut tidak harus mahal atau membutuhkan persiapan yang rumit. Selain itu, cobalah memberikan ruang untuk menikmati kehidupan tanpa selalu mendokumentasikannya. Ketika sedang makan bersama keluarga, berjalan-jalan, atau menikmati waktu santai, kamu tidak harus terus memikirkan foto atau video yang akan diunggah.

    Sesekali, membiarkan pengalaman berlangsung tanpa perlu dibagikan bisa membantu kamu lebih hadir dalam momen tersebut. Hal ini juga berkaitan tentang teori self-determination yang menjelaskan pentingnya otonomi, kompetensi, dan keterhubungan dalam kesejahteraan manusia.

    "Teori determinasi diri (self-determination theory) menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar akan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan dapat mendorong motivasi serta kesejahteraan," kata Kendra Cherry, MS, spesialis rehabilitasi psikososial dan pendidik psikologi dikutip dari Verywell Mind.

    "Teori determinasi diri adalah kerangka kerja psikologis yang menyatakan bahwa seseorang akan merasa lebih termotivasi ketika mereka mampu membuat pilihan sendiri. Teori ini mengemukakan bahwa motivasi, kesejahteraan, dan kepribadian dibentuk oleh tiga kebutuhan psikologis dasar yang bersifat universal dan inheren: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan," tambahnya.

    Jadi, manusia membutuhkan kesempatan untuk menentukan pilihan, mengembangkan kemampuan, dan membangun hubungan yang bermakna. Dengan memahami kebutuhan tersebut, kamu bisa mulai membangun kehidupan berdasarkan hal-hal yang benar-benar memberikan kepuasan, bukan sekadar mengikuti standar yang terlihat di media sosial.

    Menikmati hidup sederhana saat media sosial terasa melelahkan bukan berarti kamu harus berhenti menggunakan teknologi atau menghindari semua hal yang sedang populer. Kamu hanya perlu memberikan ruang bagi diri sendiri untuk menjalani kehidupan tanpa terus-menerus membandingkannya dengan orang lain.

Related Articles

See More