“Ketika kamu berpikir tidak ada seorang pun yang benar-benar menonton, sebenarnya ada seseorang yang sedang menonton, dan orang itu adalah anakmu,” ujar Dr. Ari Brown, Ketua Kelompok Kerja Kepemimpinan AAP untuk Anak, Remaja, dan Media, dikutip dari HuffPost.
Sering Menyalakan TV Dekat Bayi? Ini Dampak pada Perkembangan Bahasa

Pernah menyalakan televisi sebagai teman beraktivitas di rumah, meski sebenarnya tidak ada yang menontonnya? Kebiasaan ini mungkin terasa sepele, terutama saat kamu sibuk mengurus pekerjaan rumah atau menjaga bayi. Namun, suara TV yang terus menyala di dekat bayi ternyata bisa mengganggu kesempatan mereka untuk belajar bahasa.
Pada awal kehidupannya, bayi mengenali suara dan belajar berkomunikasi melalui interaksi langsung. Karena itu, percakapan sederhana, nyanyian, dan respons orangtua terhadap suara bayi sangatlah penting. Lantas, bagaimana jika televisi terlalu sering menyala di dekat mereka? Berikut penjelasannya!
1. Suara TV di latar belakang bisa mengalihkan perhatian bayi

ilustrasi bayi tertidur (pexels.com/mike-patterson) Bayi belajar bahasa dengan mendengarkan suara dan mengamati interaksi di sekitarnya. Namun, ketika televisi menyala sebagai suara latar, perhatian mereka bisa teralihkan dari percakapan langsung. Hal ini dapat membuat bayi lebih sulit memusatkan perhatian pada suara yang sebenarnya sedang ditujukan kepada mereka.
Bayi masih belajar membedakan berbagai suara yang didengar. Suara dari televisi yang terus terdengar di ruangan yang sama dapat menjadi gangguan ketika mereka sedang mencoba mengenali bunyi dan pola bahasa. Oleh karena itu, kebiasaan menyalakan TV meski tidak sedang ditonton tetap perlu diperhatikan.
2. TV yang menyala dapat mengurangi interaksi percakapan dengan orangtua

ilustrasi ibu menggendong bayi sambil nonton TV (pexels.com/helenalopes) Dampak TV di sekitar bayi tidak hanya berkaitan dengan perhatian mereka terhadap suara. Kehadiran televisi sebagai suara latar juga dapat membuat orangtua berbicara lebih sedikit kepada anak. Padahal, percakapan langsung memberi bayi kesempatan untuk mendengar kata-kata sekaligus merespons suara orang lain.
“Otak bayi berkembang dengan baik melalui interaksi yang memperkaya pengalaman mereka dengan lingkungan sekitar,” ujar Dr. Carol Wilkinson, dokter spesialis anak di bidang perkembangan dan perilaku di Boston Children’s Hospital, dikutip dari Childrens Hospital.
Dr. Ari Brown menjelaskan bahwa semakin sedikit kesempatan anak untuk terlibat dalam percakapan, semakin buruk perkembangan bahasanya. Artinya, suara televisi yang terus menyala berpotensi mengurangi waktu interaksi verbal antara orangtua dan bayi.
3. Interaksi langsung membantu bayi memahami kata-kata

ilustrasi ibu dan bayi (pexels.com/sarah-chai) Mendengar kata-kata dari televisi tidak sama dengan mendengarkan seseorang berbicara langsung kepada bayi. Dalam interaksi tatap muka, bayi dapat memperhatikan ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan intonasi suara orang yang sedang berbicara. Berbagai isyarat tersebut membantu mereka menghubungkan bunyi dengan makna.
Misalnya, ketika orangtua mengatakan, "I love you," sambil menunjuk dirinya sendiri dan bayi. Melalui situasi tersebut, bayi tidak hanya mendengar rangkaian kata, tetapi juga melihat ekspresi dan gerakan yang menyertainya. Pengalaman seperti ini membuat percakapan langsung menjadi bagian penting dalam proses belajar bahasa.
4. Paparan layar yang tinggi juga berkaitan dengan perkembangan bahasa

ilustrasi balita dan bayi (unsplash.com/nate_dumlao) Dampak penggunaan layar pada anak turut dibahas dalam tinjauan penelitian yang diterbitkan di jurnal JAMA Pediatrics. Tinjauan tersebut mencakup data lebih dari 2,8 juta anak dari 64 negara. Hasilnya menunjukkan bahwa paparan layar yang lebih tinggi berkaitan dengan pencapaian akademik yang lebih rendah dan perkembangan bahasa yang lebih buruk.
Meski begitu, temuan tersebut menunjukkan hubungan atau asosiasi, bukan bukti bahwa penggunaan layar secara langsung menyebabkan gangguan perkembangan bahasa. Selain itu, penelitian ini membahas paparan layar pada anak secara umum, bukan secara khusus suara TV di latar belakang pada bayi. Karena itu, hasilnya perlu dipahami sebagai gambaran yang lebih luas tentang hubungan penggunaan layar dan perkembangan anak.
5. Ajak bayi berbicara dan bernyanyi untuk menstimulasi bahasanya

ilustrasi ibu dan bayi (pexels.com/ivansamkov) Orangtua tidak harus selalu menyiapkan aktivitas khusus untuk membantu bayi mengenal bahasa. Kamu bisa membacakan buku, menyanyikan lagu, atau mengajak bayi berbicara sambil melakukan kegiatan sehari-hari, seperti mengganti pakaian dan menyiapkan makanan.
Ajak juga bayi berkeliling rumah atau lingkungan sekitar sambil memperkenalkan benda-benda yang ditemui. Cara ini membantu bayi mengenal kosakata baru melalui pengalaman langsung. Jika tidak sedang digunakan, matikan televisi agar interaksi dengan bayi tidak terganggu.
Bayi membutuhkan lebih banyak kesempatan untuk mendengar dan terlibat dalam percakapan langsung selama proses belajar bahasa. Jadi, sesekali matikan televisi dan manfaatkan momen sehari-hari untuk mengajaknya berbicara, bernyanyi, atau membaca bersama.





![[MADING] Aksi Kreatif Siswa Suarakan Anti Perundungan Nusantara](https://image.idntimes.com/post/20261104/edukasi_20261031_084915_0000_ef2ee5f9-b926-4825-95b0-3c41d026fcf9.png)
















