Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IDN Times Explore (JOURTEX_SMK Texmaco Purwasari)

​Bullying atau perundungan bukan sekadar "candaan anak muda", melainkan bentuk kekerasan yang bisa menghancurkan masa depan seseorang. Jika dulu perundungan hanya terjadi di sekolah, kini hadir cyberbullying yang mengintai korban 24 jam nonstop lewat media sosial. Kita harus menyadari bahwa bullying adalah masalah serius yang membutuhkan perhatian dan tindakan nyata dari kita semua.

Esai

IDN Times Explore (JOURTEX_SMK Texmaco Purwasari)

PENTINGNYA PERAN ORANG TUA UNTUK MENCEGAH TERBENTUKNYA PELAKU PERUNDUNGAN

Oleh : JOURTEX SMK Texmaco Purwsari

Perundungan, kata yang tidak asing di telinga kita. Pelakunya mayoritas anak anak dibawah umur yang masih memakai seragam. Perundungan sendiri adalah kekerasan yang biasa dilakukan secara individu atau kelompok, dalam bentuk verbal maupun non-verbal. Tidak hanya itu perundungan juga bisa terjadi pada dunia maya atau bisa disebut Cyber bullying perundungan ini dilakukan di media sosial dengan mengirim ujaran kebencian, penyebaran foto/video memalukan, dan penyebaran apapufitnah.

Di tengah era digitalisasi ini perundungan semakin marak terjadi di lingkungan sekolah, dari jenjang Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Dari 2025 tercatat 600 hingga 2.500 kasus perundungan, 46% korban mengalami gangguan emosional berat, seperti kecemasan berlebihan, rasa takut, stress, kehilangan rasa percaya diri, dan 9% di antaranya melakukan tindakan/percobaan bunuh diri. Sebagian kecil dari korban mencoba melawan tetapi nahas tindakan itu memperparah keadaan, pelaku semakin gencar melakukan perundungan kepada korban.

Banyak dari pelaku tumbuh dan hidup di lingkungan yang rentan, penuh kekerasan, atau minim pengawasan moral sehingga pelaku mencari tempat untuk melampiaskan traumanya kepada pihak pihak yang tidak bersalah. Contohnya baru baru ini terjadi kasus pengeroyokan oleh 21 siswa di SMAN 1 Gorontalo, saat itu korban sedang meminta sumbangan untuk tim Voli, keadaan berubah ketika pelaku merasa tersinggung oleh tatapan korban, setelah itu korban keluar lalu disusul oleh teman teman terduga Pelaku yang merasa tersinggung lalu adu mulut dan cekcok, setelah itu korban di keroyok dan dipukuli oleh 21 siswa.

Peran Orang Tua sangatlah penting bagi pertumbuhan anak, bagaimana cara Orang Tua tersebut mendidik anak agar dapat membedakan yang baik dan buruk, dan tidak melewati batasan yang ada, Orang Tua harus memantau apa yang anaknya lakukan, apa yang mereka akses dan lihat di media sosial. Orang Tua harus memberikan perhatian yang cukup kepada anaknya mengajarkan hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Sebenarnya pelaku perundungan hanya membutuhkan bimbingan dan perhatian yang tidak mereka dapatkan di lingkungan tempat mereka tumbuh, jadi sebagian besar pelaku perundungan adalah bentuk kegagalan dari didikan yang kurang tepat. Terkadang didikan yang tepat pun masih tetap bisa membuat anak menyimpang dan melakukan tindakan perundungan, disebabkan terbawa pergaulan yang buruk.

Pada hal ini perundungan adalah hal yang serius dan tidak boleh dianggap remeh, karena sudah banyak data yang menunjukan dampak buruk dari perundungan. Perundungan juga sudah memakan banyak korban dari anak-anak sampai dewasa, banyak motivasi dibalik tindakan perundungan ini seperti, iri, menolak adanya perbedaan, serta menjunjung tinggi senioritas.

Perundungan dalam bentuk apa pun tidak dapat dibenarkan, Bapak Ibu sebagai orang tua diharapkan lebih memperhatikan hal ini. Jangan sampai korban perundungan bertambah karena kurangnya pengawasan.

Ruang Kreasi-Cerpen

LUKISAN SI ANAK BARU

Sebuah lukisan yang dibuat oleh murid baru bernama Putri diejek oleh sekelompok siswi yang ternyata siswi tersebut punya alasan tertentu kenapa mereka menghina lukisan milik Putri.

Pada hari itu Putri, seorang murid baru di SMA Tunasbangsa, setiap bel istirahat berbunyi anak anak lain pergi ke kantin, sedangkan Putri selalu memilih untuk tetap di kelas dan duduk di bangku pojok miliknya. Remaja berambut pendek itu selalu melukis di sela-sela jam istirahat sekolah. Di bangku pojok seberang terdapat Sekar, Airin, Rima, Arinda yang sedang duduk. Empat orang yang memang selalu menjadi pusat perhatian karena senang menghina dan merendahkan orang lain.

Ketika Putri sedang melukis di kanvas, tiba-tiba ada 4 siswa bernama Sekar, Airin, Rima, dan Arinda yang menghampiri putri.

”Eh ada murid baru tuh” kata Sekar, lansung duduk di meja depan putri dipojok tanpa izin. “Lagi ngapain? melukis?” katanya lagi

mengangguk pelan, “iya” balas Putri

Langsung nyelonong ngambil lukisan, “Wih lukisan apa nih sepi banget kaya orangnya. pantesan gak punya temen.” ejek Arinda

Sekar tertawa, “Eh serius, kamu tuh sombong ya? udah tiga hari di sini diem terus. kita mau kenalan aja susah. makannya kita samperin.”

“Gaya banget sih jadi murid baru sok misterius” timpal Airin

“Aku di pojok bukan karena sombong, aku di pojok karena aku takut, aku murid baru, aku gak tau harus ngomong apa ke kalian aku cuma bisa melukis. Jadi kalau lukisanku jelek, jangan merusak lukisanku” sanggah putri dengan suara tegas.

Melihat Putri yang semakin tersudut membuat Sekar menjadi panas karena ia merasa tersaingi oleh bakat yang dimiliki Putri, Hingga pada akhirnya

Sekar melihat alat lukis Putri yang tersusun rapih di meja Putri "Wah bagus juga nih alat lukis nya, mahal mahal lagi. Dapet darimana? mencuri ya?"

Sontak mereka berempat tertawa setelah mendengar percakapan Sekar. Putri yang mendengar nya tidak terima alat lukis yang di belikan oleh orangtua nya di sangka hasil mencuri "Ini semua di belikan oleh orangtua ku, aku tidak mencuri nya" jawab putri

Setelah menghina lukisan Putri dan menuduh Putri, mereka berempat bergegas pergi sambil tertawa nyaring. Selama seminggu berturut-turut hasil karya Putri selalu dihina, dan direndahkan oleh mereka, Putri tidak tau apa alasan pasti mereka menghina dan merendahkan lukisan yang telah ia buat, “Aku pikir kamu ngatain lukisanku karena kamu benci aku. ternyata kamu iri karena kamu pengen kayak aku.” ujar Putri.

Tanpa ada rasa bersalah dari hinaan yang terus dilontarkan oleh Sekar dan teman-temannya membuat Putri menangis dan hanya bisa menyembunyikan luka yang ia terima dari kalimat yang terus menyakiti hatinya. Dan ternyata Sekar sekilas melihat bahwa Putri sedang menangis dan Sekar pun tiba-tiba merasa iba dan sebenarnya Sekar sudah muak dengan perkataan teman²nya yang selalu menyakiti hati Putri yang bahkan sekarang Putri sampai menangis.

Tetapi kali ini ada seorang Guru melihat ia sedang melukis lalu Guru tersebut menghampiri nya "Putri kenapa kamu tidak bermain dengan teman-teman lainnya" Putri mendongakkan kepalanya dan melihat wajah Guru tersebut "Eh Bu Sri, tidak apa apa Bu Putri lebih senang sendiri" jawab Putri. Lalu Bu Sri melihat lukisan yang Putri buat "Wah bagus sekali, kamu pandai sekali melukis Nak " ujar Bu Sri dengan wajah kagum. "Nak, Ibu perhatikan kamu tidak pernah berbaur bersama teman yang lainnya, kenapa Nak? ada masalah?" lanjut tanya Bu Sri, Putri yang mendengar pertanyaan tersebut hanya bisa terdiam bingung "Bu, sebenernya lukisan Putri selalu diejek oleh Sekar dan teman temannya, Putri merasa dipojokkan karna karya Putri selalu direndahkan. Makanya Putri takut untuk berbaur dengan yang lain karna takut mereka melihat karya Putri lalu direndahkan lagi" jawab Putri dengan suara yang sedikit bergetar. Mendengar jawaban Putri Bu Sri menghela nafas nya karna Sekar dan teman-temannya kembali berulah setelah berkali kali mendapatkan teguran dari pihak sekolah.

Ibu Sri perlahan mendekat dan duduk disamping Putri yang sedang bersedih karena apa yang telah dialaminya tentu sangat membuatnya merasa tersakiti dan merasa tidak adil atas apa yang telah Sekar dan teman-temannya lakukan kepada Putri.

"Tatap mata Ibu, Nak. Ibu sangat mengerti dan turut prihatin atas apa yang sudah kamu alami selama ini". Ucap Bu Sri dengan suara lembut dan penuh dengan kesedihan. Perlahan Putri menoleh dengan wajah yang bersedih dan mata yang berkaca-kaca.

Keesokan harinya Sekar melihat Putri sedang melukis kembali "Anak itu selalu saja melukis, apa ga bosen ya?" lalu Sekar menghampiri Putri seorang diri "Ngelukis lagi? emang ga bosen apa?" tanya Sekar dengan suara ketus nya "Enggak kok, aku senang melukis karna dengan melukis ini aku merasa menemukan jati diri aku yang sebenarnya dan lagi pula hobi ku ini selalu di dukung oleh keluargaku hingga aku menjadi semakin semangat untuk mengembangkan hobiku ini, siapa tau aku akan menjadi seorang pelukis yang terkenal" mendengar jawaban Putri tersebut Sekar langsung beranjak pergi meninggalkan Putri.

Lalu tak lama kemudian nama Sekar, Airin, Rima, Arinda disebut dispeaker sekolah untuk segara datang ke ruang BK, saat di ruang BK ternyata Bu Sri sudah menunggu mereka dengan tatapan yang marah. "Duduk kalian di hadapan Ibu" lalu Bu Sri memberitahu alasan mengapa meraka dipanggil, mereka terkejut karena ada yang berani memberitahu kelakuan mereka ke Bu Sri, tapi Sekar berbeda Sekar malah merasa lega karna ada yang memberitahu kelakuan teman-temannya itu dan Sekar tahu dia salah jadi dia siap menerima teguran tersebut dan mereka bergegas ke ruang BK, disana ada Bu Sri yang menunggu kedatangan mereka sambil duduk dan menyilangkan tangan ke depan dada, tanpa aba-aba Ibu Sri langsung bicara ke inti permasalahan tersebut "Jadi benar kalian yang menghina lukisan Putri?, apa alasan kalian melakukan tindakan tersebut?" hening, tidak ada yang berani jawab. Airin menunduk mainin ujung rok, Rima dan Arinda saling dorong untuk disuruh ngomong duluan, akhirnya Sekar yang maju selangkah, benar Bu, aku yang nyuruh mereka cuma aku ikut karena takut dibilang gak kompak. Bu Sri menatap Sekar lama, Ibu dengar kamu suka melukis juga ya? Ibu lihat buku gambar kamu penuh coretan di meja, kenapa kamu ejek lukisan temanmu sendiri sama-sama suka melukis? dan disitulah Sekar mengaku kalo dia tidak membenci Putri tetapi dia iri, karena dia tidak pernah dapat dukungan seperti Putri. "Tidak di dukung?" Tanya Bu Sri dengan penuh kebingungan.

Bu Sri sempat diam sejenak mendengar jawaban tersebut. Hingga pada akhirnya Bu Sri kembali bertanya, "Apa yang membuat kamu merasa tidak didukung, dengan alasan kamu tidak dapat dukungan, kamu sempatkan untuk membully temanmu yang tidak tahu menau alasan kamu seperti itu?" Sekar pun terdiam, dan penuh rasa cemas atas kelakuannya sudah keterlaluan, bahwa dirinya seharusnya jangan melakukan itu dan seharusnya jangan menyuruh temannya untuk melakukannya juga, lalu Sekar, Airin, Rima dan Arinda meminta maaf pada Putri mengakui bahwa meraka salah seharusnya tidak perlu menghinanya dan kita juga jangan menjadi pengikut buta hanya karena takut tidak dianggap kompak. Mereka berempat hanya bisa terdiam lalu tiba-tiba Sekar menjawab "Bu sebenarnya ini semua salah aku, aku yang mengajak mereka lalukan hal yang tidak baik seperti ini" mendengar jawaban Sekar, Bu Sri menjadi bingung "Mengapa kamu mengajak teman teman mu untuk melakukan hal tidak baik seperti ini Nak?" tanya Bu Sri.

Sekar terdiam sesaat "Mereka sama seperti saya Bu, kami berasal dari keluarga yang keras. Keluarga saya sangat tidak peduli satu sama lain, Ayah dan Ibu Airin bercerai hingga Airin kurang perhatian dari kedua orang tuanya, Rima ditinggal pergi oleh kedua orang tua nya hingga ia tinggal hanya berdua dengan nenek nya, sedangkan Arinda Ayah dan Ibunya selalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing hingga tidak pernah ada waktu untuk memberi perhatiannya kepada Arinda.

Saya merasa dengan melakukan hal seperti saya dianggap ada dan di perhatikan, begitu pula dengan mereka Bu" mendengar jawaban Sekar. Airin, Rima, Arinda sontak terkejut, dengan mata yang berlinang air mata Sekar meminta maaf kepada Putri karna telah berbuat buruk kepada Putri, dan di ikuti oleh Airin, Rima dan Arinda yang ikut meminta maaf kepada Putri. "Iya aku maafin, jangan di ulangi lagi ya tindakan kalian itu bisa aja membuat orang kehilangan hobinya sendiri" lalu Putri menatap Sekar "Sekar, kamu suka melukiskan? lain kali kita melukis bareng yuk, pakai saja alat lukis punyaku" ajak Putri dengan senyuman manis nya. Lalu perlahan-lahan mereka menjadi semakin akrab, Sekar dan teman-temannya mulai memperbaiki diri menjadi lebih baik.

Sejak saat itu Sekar dan teman-temannya sadar bahwa mereka tidak boleh berburuk sangka apalagi menghina hasil kerja keras orang lain, dan seperti yang kita tahu bahwa rasa iri itu bisa merugikan orang lain contohnya seperti Sekar dan teman-temannya yang suka menghina hasil kerja keras orang lain.

Rubrik Diskusi 1

IDN Times Explore (JOURTEX_SMK Texmaco Purwasari)

Rubrik Diskusi 2

IDN Times Explore (JOURTEX_SMK Texmaco Purwasari)

Dengan ini semoga pembaca bisa memahami yang kami sampaikan. Mari kita membangun masa depan yang cerah tanpa adanya perundungan mulai dari kita.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article