Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Mitos tentang Stoikisme yang Sering Disalahpahami Orang-Orang
ilustrasi seorang cewek duduk tenang di rumah (freepik.com/bonzoix)

Stoikisme kembali populer dalam beberapa tahun terakhir, terutama di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan dan ketidakpastian. Filosofi ini sering dikaitkan dengan kemampuan untuk tetap tenang ketika menghadapi masalah serta fokus pada hal-hal yang berada dalam kendali diri. Tak heran kalau Stoikisme banyak dijadikan pegangan untuk menghadapi kehidupan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Namun, semakin populer sebuah filosofi, semakin banyak pula anggapan yang muncul di sekitarnya. Stoikisme bahkan terkadang dianggap sebagai ajaran untuk menekan emosi dan tidak peduli terhadap keadaan. Padahal, pemahaman tersebut terlalu menyederhanakan filosofi yang memiliki sejarah panjang ini. Nah, berikut beberapa mitos tentang Stoikisme yang perlu kamu ketahui. Keep scrolling!

1. Stoikisme mengajarkan untuk tidak punya emosi

ilustrasi manusia yang tidak punya emosi (magnific.com/rawpixel)

Salah satu kesalahpahaman paling umum tentang Stoikisme adalah anggapan bahwa seorang Stoik harus menjadi pribadi yang dingin dan tidak memiliki emosi. Padahal, Stoikisme bukan tentang menghilangkan seluruh emosi dari kehidupan. Filosofi ini lebih banyak mengajarkan bagaimana seseorang dapat merespons emosi dan keadaan secara bijaksana.

Merasa sedih, kecewa, takut, atau marah tetap merupakan bagian dari pengalaman manusia. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana seseorang tidak membiarkan emosi tersebut sepenuhnya mengendalikan tindakan. Dengan kata lain, menjadi Stoik bukan berarti mati rasa, melainkan berusaha memiliki kendali atas respons diri sendiri.

2. Stoikisme berarti harus menerima apa pun yang terjadi

ilustrasi perempuan yang menerima apapun yang terjadi (magnific.com/stockking)

Stoikisme sering disalahartikan sebagai ajaran untuk pasrah terhadap semua keadaan. Padahal, menerima bahwa sesuatu telah terjadi tidak sama dengan berhenti berusaha memperbaiki keadaan. Seseorang tetap dapat mengambil tindakan terhadap hal-hal yang memang berada dalam kendalinya.

Misalnya, kamu gagal mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Sikap Stoik bukan berarti mengatakan bahwa kegagalan tersebut tidak penting lalu berhenti mencoba. Kamu bisa menerima bahwa hasil tersebut sudah terjadi, kemudian mengevaluasi kesalahan, memperbaiki kemampuan, dan mencoba kesempatan berikutnya.

3. Orang Stoik tidak boleh mengeluh

ilustrasi seorang perempuan yang punya banyak masalah (freepik.com/8photo)

Menjadi Stoik bukan berarti seseorang dilarang mengungkapkan kesulitan atau membicarakan masalah yang sedang dihadapi. Mengakui bahwa hidup terasa berat justru bisa menjadi bagian dari memahami keadaan secara jujur. Yang perlu dihindari adalah terjebak dalam keluhan tanpa berusaha melihat apa yang masih bisa dilakukan.

Ketika menghadapi masalah, kamu tetap boleh bercerita kepada orang yang dipercaya atau mencari dukungan. Setelah itu, prinsip Stoikisme dapat membantu mengarahkan perhatian pada pertanyaan yang lebih berguna: apa yang sebenarnya bisa aku kendalikan dari situasi ini? Cara berpikir tersebut membuat seseorang tidak hanya berputar dalam masalah, tetapi mulai mencari respons yang memungkinkan.

4. Stoikisme mengajarkan untuk tidak peduli pada pendapat orang lain

ilustrasi tidak peduli pendapat orang lain (freepik.com/benzoix)

Stoikisme memang mengajarkan pentingnya tidak menggantungkan ketenangan diri sepenuhnya pada penilaian orang lain. Namun, bukan berarti seseorang harus mengabaikan semua pendapat dari lingkungan sekitar. Masukan dari orang lain tetap dapat digunakan untuk mengevaluasi diri selama tidak membuat kita kehilangan kendali atas keputusan sendiri.

Misalnya, kamu mendapat kritik dari rekan kerja. Daripada langsung merasa hancur atau marah, kamu bisa mempertimbangkan apakah kritik tersebut memang memiliki dasar. Jika ada bagian yang benar, kamu dapat memperbaikinya. Jika tidak, kamu tidak perlu membiarkan pendapat tersebut menentukan nilai dirimu secara keseluruhan.

5. Stoikisme berarti tidak boleh mengejar kebahagiaan

ilustrasi perempuan sedang bahagia (pexels.com/andreapiacquadio)

Ada pula anggapan bahwa Stoikisme mengharuskan seseorang menjauhi kesenangan dan menjalani hidup yang penuh penderitaan. Padahal, inti Stoikisme bukan membuat seseorang sengaja hidup susah. Filosofi ini lebih menekankan pentingnya kebajikan, kebijaksanaan, pengendalian diri, dan kemampuan menghadapi keadaan dengan baik.

Kamu tetap boleh menikmati makanan enak, berlibur, memiliki karier yang baik, jatuh cinta, atau mengejar berbagai impian. Hanya saja, Stoikisme mengingatkan bahwa hal-hal ini berada di luar kendali penuh kita dan tidak seharusnya menjadi satu-satunya sumber ketenangan. Dengan begitu, kebahagiaan tidak sepenuhnya bergantung pada apakah kehidupan berjalan sesuai keinginan.

Stoikisme sendiri bukanlah ajaran untuk berubah menjadi manusia yang dingin, pasrah, atau tidak memiliki keinginan. Filosofi ini justru mengajak seseorang membedakan mana yang bisa dikendalikan dan mana yang tidak, kemudian menggunakan energi kita secara lebih bijaksana. Sudah siap jadi stoik?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorAtqo Sy

Related Article