4 Novel Fabel yang Bikin Kamu Sadar Sebejat Apa Manusia

- Artikel ini menyoroti sisi gelap manusia yang sering dianggap makhluk paling mulia, namun justru menjadi penyebab utama kerusakan alam dan penderitaan hewan.
- Empat novel fabel—The Call of the Wild, Koloni, Kenang-kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub, dan Galapagos—menampilkan kisah hewan yang mencerminkan kerakusan serta keegoisan manusia.
- Melalui kisah-kisah tersebut, pembaca diajak merenungkan bahwa alam dapat bertahan tanpa manusia, sementara manusia terus merusak sumber kehidupannya sendiri.
Kamu mungkin sering mendengar ungkapan kalau manusia adalah makhluk paling mulia dan sempurna, baik secara fisik maupun secara pemikiran. Namun, kalau kamu perhatikan, sebenarnya kita pula (manusia) yang jadi sumber berbagai kerusakan di Bumi. Ekstraksi sumber daya berlebih sampai aktivitas ekonomi yang menciptakan polusi/sampah hanya beberapa contoh konkretnya.
Manusia pula yang merusak keseimbangan ekosistem dengan menangkapi hewan-hewan liar “eksotik” untuk jadi peliharaan, trofi, dan ladang bisnis sampai mereka langka, bahkan punah. Supaya sadar, coba baca keempat novel fabel berikut, niscaya kamu bakal tertampar saat itu juga.
1. The Call of the Wild (Jack London)

The Call of the Wild ditulis lewat perspektif Buck, seekor anjing peliharaan yang sejak lahir hidup nyaman sebagai bagian dari keluarga kelas atas di California, Amerika Serikat. Hidup tenteramnya tiba-tiba sirna saat ia dicuri dan dijual kepada seorang pekerja yang butuh anjing untuk menarik kereta barang.
Buck mau tak mau harus beradaptasi dengan hidup barunya. Ia harus bekerja siang malam di tengah terpaan cuaca tak bersahabat. Tak cukup di situ, demi bertahan hidup, ia juga harus menghadapi dinamika relasi kuasa dengan rekan sesama anjing lain yang diperkerjakan majikan barunya itu.
Lewat Buck, kita didorong untuk melihat betapa kejam dan teganya manusia, terutama saat mereka memperlakukan hewan yang menurut mereka tak sesempurna dan secerdas mereka.
2. Koloni (Ratih Kumala)

Koloni adalah kisah Darojak, semut ratu muda yang terpisah dari koloninya gara-gara ulah manusia. Ia terdampar di koloni lain yang menariknya ternyata sedang dalam krisis. Koloni baru Darojak ini kekurangan semut pekerja dan tak punya semut ratu penerus, sementara sang ratu saat ini mulai menua dan terus memproduksi telur semut jantan yang dianggap tak punya peran sevital semut jenis lain.
Lewat cerita Darojak, kita diajak mengikuti dinamika politik dan hierarki kompleks dalam koloni semut yang penuh intrik dan ketidakadilan. Namun, pada akhirnya mereka seperti spesies hewan lainnya, bakal tunduk pula pada kerakusan manusia.
3. Kenang-kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub (Claudio Orrego Vicuna)

Ingin merasakan bagaimana rasanya disindir seekor hewan yang kamu anggap tak sesempurna dirimu? Dalam novelnya, Claudio Orrego Vicuna akan membawamu menyelami batin seekor beruang kutub yang diculik dari habitat aslinya dan ditempatkan di sebuah kebun binatang.
Baltazar, si beruang kutub, punya kebencian dan ketidaksukaan tertentu terhadap manusia. Lewat hari-harinya yang membosankan di kebun binatang, kita seolah diingatkan betapa bejat dan egoisnya makhluk bernama manusia itu.
4. Galapagos (Kurt Vonnegut)

Galapagos adalah fabel yang provokatif dan nyentrik dari Kurt Vonnegut. Naratornya adalah hantu Leon Trotsky Trout, pria yang setelah tewas menolak untuk menyeberang ke alam barzah dan akhirnya menyaksikan evolusi manusia dari waktu ke waktu. Salah satunya ketika manusia hampir punah setelah krisis ekonomi fatal dan wabah penyakit yang membuat mereka tak lagi bisa bereproduksi. Hanya tersisa segelintir populasi manusia di Bumi, tepatnya di Pulau Santa Rosalia. Namun, manusia di sana tak lagi sama seperti yang kita tahu. Gara-gara berbagai kesulitan dan perubahan di Bumi, morfologi dan fisiologi mereka justru menyerupai ikan purba.
Manusia memang diberi segalanya, kecakapan berpikir dan fisik yang menurut banyak pihak paling ideal untuk bertahan hidup hampir di mana saja. Namun, mereka pula yang akhirnya dibutakan oleh keserakahan dan merusak sumber penghidupan mereka sendiri, yakni alam. Padahal, alam justru baik-baik saja tanpa manusia, bukan sebaliknya.



















