5 Novel yang Selami Rasanya Jadi Perempuan Miskin

- Artikel ini menyoroti ketimpangan sosial yang dialami perempuan miskin, menggambarkan bagaimana mereka sering dipandang rendah dan terpinggirkan dalam masyarakat yang mengagungkan kekayaan.
- Lima novel dari berbagai negara—termasuk karya Edith Wharton, Ines Cagnati, Bhanu Mushtaq, Tsitsi Dangarembga, dan Pramoedya Ananta Toer—menjadi cermin kerasnya hidup perempuan di bawah tekanan kemiskinan dan patriarki.
- Melalui kisah-kisah tersebut, pembaca diajak memahami lapisan penderitaan ganda yang dialami perempuan miskin serta pentingnya empati terhadap kelompok yang kerap diabaikan sistem sosial.
Sadarkah kamu kalau masyarakat amat jahat pada orang miskin? Semudah melihat betapa seringnya orang miskin dihina, dianggap remeh, dan tidak diacuhkan saja, deh. Sebaliknya, sosok-sosok kaya yang sering disebut “sultan” dipuja-puja bak dewa.
Ini sudah jadi perilaku umum yang mirisnya makin parah bila si miskin bergender perempuan. Rasanya seperti tersisih dua kali lipat. Gak percaya? Lima novel berikut bisa membawamu menyelami rasanya jadi perempuan miskin di tengah masyarakat.
1. The House of Mirth (Edith Wharton)

The House of Mirth adalah cerita tentang Lily Bart, perempuan yang sebenarnya lahir dari keluarga kelas menengah atas di New York pada abad ke-19. Masa kecilnya lumayan nyaman sampai orangtuanya meninggal dunia dan ternyata tak meninggalkan warisan apa pun untuknya.
Lily, yang kini berusia 29 tahun, hidup dari belas kasih bibinya yang tak punya anak. Namun, saat sang bibi sudah mulai menua dan usia Lily pun terus bertambah, ia mendapat tekanan untuk segera menikah demi mempertahankan gaya hidupnya. Masalahnya, Lily tak punya banyak pilihan.
Jodoh potensialnya terlalu miskin dan plin-plan, sementara opsi lainnya sudah menikah dan berniat menjadikannya simpanan. Sosok lainnya ternyata memilih orang lain ketimbang Lily. Di sisi lain, tabungan Lily menipis dan ia pun mencoba menjalani pekerjaan manual untuk bertahan hidup.
2. Crazy Genie (Ines Cagnati)

Dalam Crazy Genie, kamu akan berkenalan dengan anak perempuan bernama Marie yang lahir di luar ikatan pernikahan. Kehadirannya adalah pengingat aib bagi ibunya, Genie, yang juga membuatnya ditolak oleh keluarga dan masyarakat sekaligus.
Untuk bertahan hidup dan membesarkan Marie, Genie bekerja serabutan di desa sebelah. Ia bekerja di sebuah peternakan dan jagal tiap harinya tak kenal lelah. Kesibukan ini membuatnya berjarak dengan sang putri dan perlahan membuat Marie merasa tertolak dan terabaikan. Ini tipe buku yang depresif, tetapi begitu realistis.
3. Heart Lamp (Bhanu Mushtaq)

Heart Lamp adalah kumpulan cerpen berlatarkan India Barat Daya dan semuanya berlakonkan perempuan. Ada 11 plot berbeda yang mayoritas memotret kaitan erat antara kemiskinan struktural, patriarki, dan nasib perempuan di dalamnya.
Beberapa ceritanya mengikuti perjuangan perempuan yang ditelantarkan suaminya atau menjadi korban kekerasan, tetapi hidup terus berjalan dan mereka punya tanggungan finansial yang harus diselesaikan, seperti menafkahi anak-anaknya. Miris, upaya mereka untuk melanjutkan hidup justru dihambat oleh kultur patriarki yang menyesakkan dan tak menawarkan solusi.
4. Nervous Conditions (Tsitsi Dangarembga)

Nervous Condition berpusat pada Tambu, remaja yang lahir di tengah kemiskinan di Rhodesia (kini bernama Zimbabwe). Sebagai perempuan, ia secara natural dinomorduakan di keluarga. Sampai kakak laki-lakinya yang dikirim ke sekolah misionaris meninggal dunia. Miris, tragedi ini justru yang membuka peluang bagi Tambu untuk mengakses pendidikan.
Namun, tak cukup di situ, aspirasinya tak bisa terwujud tanpa bantuan salah satu kerabat laki-lakinya, yakni Paman Babamukuru yang beruntung bersedia menampung dan membiayai sekolahnya. Meski hidupnya mulai membaik, Tambu sebenarnya tak bisa sepenuhnya bebas. Ia harus berkompromi dengan aturan ketat yang dibuat sang paman dan pemerintah kolonial yang punya kuasa atas pendidikan di negara tempat Tambu tinggal.
5. Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer)

Isu soal perempuan dan kemiskinan juga amat mudah ditemukan di Indonesia. Salah satu novel ideal untuk menyelami topik ini adalah Gadis Pantai. Lakonnya seorang perempuan Jawa dari keluarga nelayan miskin yang dinikahkan dengan pria bangsawan. Pernikahan ini sebenarnya hanya menguntungkan keluarga si Gadis Pantai, tetapi sebagai seorang bocah, ia belum menyadarinya. Ia sempat menikmati hidup dan peran barunya di rumah sang suami. Sampai satu hari, ia diceraikan secara sepihak dan diusir begitu saja. Sejak itu, ia sadar kalau hidupnya tak sungguh-sungguh terjamin seperti dugaannya.
Menjadi miskin dan perempuan adalah contoh nyata kelompok marginal ganda. Rasanya tertolak berkali-kali lipat karena sistem yang tak pernah berpihak pada dua identitas itu. Semoga buku-buku tadi bisa mempertajam empati kita.