Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Mengapa Orang Sekarang Makin Terang-terangan Berbuat Jahat?

Mengapa Orang Sekarang Makin Terang-terangan Berbuat Jahat?
ilustrasi perbuatan jahat (unsplash.com/Maxim Hopman)
Intinya Sih
  • Kejahatan makin sering muncul karena pelaku sering tidak merasakan dampak langsung dari perbuatan mereka.

  • Banyak contoh pelaku yang tetap diuntungkan sehingga standar benar-salah jadi bergeser.

  • Jarak, kebiasaan, dan keinginan hasil instan membuat tindakan jahat terasa makin wajar.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Belakangan ini, tindakan jahat seperti memfitnah, mengancam, sampai korupsi sering muncul tanpa ditutup-tutupi, bahkan dilakukan di depan publik seolah tidak ada rasa takut. Nah, yang bikin heran, hal seperti itu bukan lagi kejadian langka. Justru, ia semakin sering terlihat di berita maupun media sosial.

Banyak yang mulai bertanya, kenapa sekarang orang bisa seberani itu? Penjelasannya tidak sesederhana soal moral, tapi juga soal kebiasaan yang terbentuk pelan-pelan. Seperti apa?

1. Dampak kejahatan yang dilakukan tidak langsung terasa oleh pelaku

ilustrasi penipuan
ilustrasi penipuan (unsplash.com/Lindsey LaMont)

Banyak kasus, seperti menyebarkan fitnah atau menipu, tidak langsung berbalik ke pelaku saat itu juga. Sebagai contoh, seseorang menyebar kabar palsu yang merugikan orang lain, tapi tetap bisa hidup normal tanpa gangguan berarti. Karena tidak ada efek instan yang dirasakan, tindakan itu dianggap aman untuk diulang kelak kemudian hari.

Padahal, dampaknya nyata dan bisa panjang, hanya saja tidak mengenai pelaku secara langsung. Korban bisa kehilangan nama baik, pekerjaan, bahkan rasa aman. Namun, karena tidak melihat itu secara langsung, pelaku merasa perbuatan mereka tidak terlalu parah. Lama-lama, batas rasa bersalah setelah melakukan kejahatan ikut menurun.

2. Banyak contoh pelaku kejahatan yang tetap diuntungkan

ilustrasi koruptor
ilustrasi koruptor (unsplash.com/Elimende Inagella)

Kasus korupsi atau kerja sama dengan pihak yang merugikan negara sering menunjukkan hal yang sama. Karier pelaku tidak selalu langsung jatuh. Ada yang tetap punya jabatan, akses, bahkan masih dihormati di lingkungan mereka. Hal ini memberi pesan yang cukup jelas bahwa berbuat jahat tidak selalu membuat hidup hancur.

Ketika contoh seperti ini terus terlihat, orang lain mulai menganggap cara tersebut sebagai jalan yang masih bisa ditempuh. Bukan karena tidak tahu kalau mereka salah, tapi karena melihat hasil dari kejahatan mereka tetap menguntungkan. Dari sini, ukuran benar dan salah sebuah tindakan mulai tergeser.

3. Jarak yang jauh membuat tindakan kejahatan dianggap sepele

ilustrasi kejahatan dunia maya
ilustrasi kejahatan dunia maya (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya)

Mengancam atau menghina lewat layar terasa berbeda dibandingkan mengatakannya langsung di depan korban. Banyak yang berani berkata kasar atau menyebar kebencian karena tidak perlu melihat reaksi korban. Tidak ada tatapan secara langsung maupun ekspresi sedih atau marah yang harus dihadapi saat itu juga.

Situasi ini membuat tindakan jahat dianggap sepele. Padahal, dampaknya bisa sama besar, bahkan lebih parah karena tersebar cepat dan menjadi jejak digital. Jarak yang jauh membuat orang lupa bahwa yang diserang tetap manusia. Dari sini, banyak tindakan kejahatan yang seharusnya ditahan justru jadi lepas begitu saja.

4. Hal yang dulu keterlaluan sekarang jadi biasa

ilustrasi kekerasan
ilustrasi kekerasan (pexels.com/cottonbro studio)

Kekerasan, ancaman, sampai ujaran kebencian dulu cepat mendapat reaksi keras dari lingkungan sekitar. Sekarang, banyak yang hanya lewat sebagai berita tanpa tindak lanjut yang jelas. Karena terlalu sering muncul, orang jadi terbiasa melihatnya.

Saat sesuatu terus terjadi tanpa konsekuensi, standar moral pun ikut berubah. Hal yang dulu dianggap parah sekarang terlihat biasa saja. Dari sini, muncul situasi miris karena tindakan jahat tidak lagi mengejutkan, malah seperti bagian dari keseharian yang diterima begitu saja.

5. Cara cepat mendapat kuasa atau perhatian

ilustrasi korupsi
ilustrasi korupsi (unsplash.com/Nohe Pereira)

Beberapa tindakan jahat dilakukan bukan tanpa tujuan, tapi justru sebagai fast track. Korupsi, misalnya, dipilih karena dianggap bisa mempercepat kekayaan. Mengancam atau menyebar isu dipakai untuk menjatuhkan lawan. Cara ini dipilih karena hasilnya terlihat cepat dibandingkan naik tangga kesuksesan lewat cara yang lebih bersih.

Masalahnya, cara cepat ini sering mengabaikan dampak ke banyak orang. Kerugian bisa meluas, mulai dari individu sampai masyarakat. Namun, karena fokusnya pada hasil instan, bagian merugikan orang lain ini sering diabaikan. Lama-kelamaan, makin terlihat bahwa tindakan jahat bukan sekadar aksi spontan, melainkan sudah dianggap bagian dari strategi.

Fenomena ini tidak muncul tiba-tiba, tapi terbentuk dari banyak kejadian yang terus berulang tanpa perubahan berarti. Ketika pelaku tidak merasa rugi, contoh kejahatan terus terlihat dan lingkungan malah cenderung diam. Lalu, apakah kondisi seperti ini akan terus dibiarkan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Related Articles

See More