Kalau kamu selesai membaca Kim Jiyoung, Born 1982, pasti rasanya aneh. Bukan sedih yang biasa, melainkan lebih ke perasaan ditatap balik oleh sesuatu yang sudah lama ada, tapi tidak pernah kamu akui. Cho Nam Joo menulis tentang hidup perempuan yang kelihatannya normal dari luar, tapi di dalamnya penuh dengan hal yang tidak pernah benar-benar ia pilih.
5 Rekomendasi Buku untuk Pencinta Kim Jiyoung, Born 1982

- Artikel ini merekomendasikan lima buku bertema kehidupan perempuan yang serupa dengan Kim Jiyoung, Born 1982, menyoroti perjuangan identitas dan tekanan sosial dalam keseharian mereka.
- Setiap buku—dari The Vegetarian hingga Convenience Store Woman—menampilkan tokoh perempuan yang berusaha mempertahankan pilihan hidupnya di tengah ekspektasi masyarakat yang mengekang.
- Rekomendasi ini mengajak pembaca merenungkan pengalaman perempuan modern melalui kisah-kisah jujur, reflektif, dan kadang menyakitkan tanpa menawarkan jawaban pasti atas dilema yang dihadapi.
Ternyata banyak buku lain yang membahas hal yang serupa. Bukan soal feminisme yang digaungkan keras-keras, tapi soal hal-hal kecil dalam hidup seorang perempuan yang menumpuk. Kalau kamu masih belum siap keluar dari perasaan itu, coba masukkan lima rekomendasi buku untuk pencinta Kim Jiyoung, Born 1982 berikut ini.
1. The Vegetarian — Han Kang

Buku The Vegetarian punya sebuah premis simpel mengenai seorang perempuan bernama Yeong-hye yang tiba-tiba berhenti makan daging. Itu saja. Tidak ada trauma besar yang diceritakan di awal, tidak ada kejadian dramatis. Tapi reaksi orang-orang di sekitarnya langsung luar biasa. Suaminya marah. Keluarganya panik. Seolah keputusan soal apa yang masuk ke mulutnya sendiri adalah ancaman serius.
Han Kang tidak banyak menjelaskan dalam bukunya. Dia membiarkan situasinya berbicara, dan itu justru yang bikin buku ini terus menghantui pikiran pembaca. Tokoh Yeong-hye tidak berteriak, tidak berpidato. Dia cuma ingin satu hal yang benar-benar miliknya dan ternyata itu pun dianggap terlalu muluk-muluk.
2. Pachinko — Min Jin Lee

Buku yang satu ini terbilang tebal, tapi jangan langsung malas menyentuhnya. Berkisah tentang Pachinko yang mengikuti empat generasi keluarga Korea yang merantau ke Jepang. Mulai dari Sunja, perempuan muda yang hamil di luar nikah di tahun 1930-an. Satu keputusan di awal hidupnya menjadi fondasi yang harus ditanggung semua orang setelahnya, termasuk orang-orang yang bahkan belum lahir waktu itu terjadi.
Min Jin Lee terbilang begitu sabar menulis buku ini. Tidak ada generasi yang dilewatkan, tidak ada perempuan yang jadi sekadar latar. Semuanya punya beban masing-masing. Di balik semua pergolakan sejarahnya, inti ceritanya tetap sama soal perempuan yang terus berjalan meski jalannya tidak pernah benar-benar disiapkan untuk mereka.
3. How to Be a Woman — Caitlin Moran

Kalau buku ini cukup berbeda dari empat buku lain di daftar rekomendasi ini. Caitlin Moran menulis memoarnya sendiri. Sejak pubertas sampai dewasa, dia menulis dengan cara yang sangat santai, bahkan tidak berusaha kelihatan serius. Banyak bagian buku yang lucu. Tapi justru di sela-sela bagian yang lucu itu, dia menyelipkan pertanyaan yang cukup menohok.
Misalnya saja, pertanyaan tentang kenapa perempuan masih harus minta izin untuk hal-hal yang laki-laki ambil begitu saja? Buku ini tidak berisi teori. Tidak ada jargon, tidak ada terminologi akademis. Isi buku ini hanya tentang Moran yang bicara jujur serta gamblang tentang betapa banyak waktu dan tenaga yang habis hanya untuk memenuhi standar yang tidak pernah kamu minta dari awal.
4. Little Fires Everywhere — Celeste Ng

Buku ini menceritakan kisah dua keluarga berlatar di satu kota kecil di Ohio. Tokoh itu bernama Elena Richardson, yang hidupnya serba teratur, semua direncanakan, dan Mia Warren, yang hidupnya selalu berpindah, tidak punya sesuatu yang tetap. Keduanya sama-sama ibu. Keduanya sama-sama tidak sempurna. Keduanya pun akan saling menghancurkan dengan cara yang tidak langsung.
Celeste Ng tidak menghakimi satu pun dari mereka. Dia membiarkan pembaca berpikir, sebetulnya mereka di sisi mana? Apakah tim Elena atau tim Mia. Untuk perempuan yang telah menjadi ibu, buku ini terasa seperti cermin yang dipasang di sudut yang tidak terduga yang membuat mereka seolah melihat diri mereka di dalamnya.
5. Convenience Store Woman — Sayaka Murata

Buku ini menceritakan Keiko. Ia sudah bekerja di minimarket selama 18 tahun. Dia sangat suka pekerjaannya. Dia tidak mau nikah, tidak mau menjajal karier lain, dan dia merasa baik-baik saja. Masalahnya, semua orang di sekitarnya yang merasa tidak baik-baik saja dengan kenyataan itu. Teman-temannya khawatir. Keluarganya frustrasi. Kenapa pilihan hidup yang tidak merugikan siapa pun tetap dianggap salah?
Sayaka Murata menulis buku ini dengan nada yang hampir datar, nyaris seperti kamu membaca sebuah laporan bukan puitis ala ala novel. Meski begitu, justru itulah yang menciptakan efek aneh serta perasaan ikut gelisah saat membaca setiap kalimatnya. Kamu akan diajak ketawa, tapi setelah itu diajak berpikir. Tapi, dalam buku tersebut, tokoh Keiko tahu persis siapa dirinya tapi malah justru itu yang tidak bisa diterima orang lain.
Rekomendasi buku untuk pencinta Kim Jiyoung, Born 1982, ini tidak akan memberi kamu jawaban. Beberapa buku malah akan meninggalkan lebih banyak pertanyaan. Dari kelima buku tadi, adakah yang pernah kamu baca atau justru malah kepingin banget kamu baca?


















