Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Red Herring Fallacy, Taktik Pengalihan Isu yang Perlu Kamu Kenali
ilustrasi orang berdiskusi (pexels.com/Mikhail Nilov)
  • Red Herring fallacy adalah taktik mengalihkan topik dari isu utama ke hal tidak relevan, sering dipakai untuk menghindari kritik atau memenangkan perdebatan.
  • Bentuknya mencakup membawa masalah personal saat kinerja dikritik, memakai niat baik untuk menutupi pelanggaran, serta mengecilkan kesalahan melalui frasa “yang penting kan...”.
  • Taktik ini juga muncul saat keluhan lokal dibandingkan dengan krisis lebih besar atau kritik kebijakan dialihkan ke tradisi; fokus pada pokok masalah diperlukan agar diskusi tetap rasional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah gak kamu lagi asyik berdiskusi atau berdebat tentang suatu topik, lalu mendadak lawan bicaramu membawa isu baru yang sama sekali tidak relevan? Alih-alih menjawab poin utamamu, percakapan justru berbelok jauh sampai kamu lupa apa yang sebenarnya sedang dibahas.

Dalam dunia logika dan argumentasi, taktik pengalihan isu ini dikenal sebagai Red Herring fallacy. Istilah ini berasal dari tradisi melatih anjing pelacak menggunakan bau ikan haring merah yang menyengat untuk mengecoh penciuman mereka.

Di kehidupan sehari-hari, Red Herring sering digunakan untuk menghindari kritik, mengendalikan opini publik, atau sekadar memenangkan perdebatan secara instan. Yuk, kenali beberapa contoh penerapannya agar kamu gak gampang terkecoh!

1. Menangkis kritik kinerja dengan mengangkat isu personal

ilustrasi orang berdiskusi (pexels.com/Proyek Saham RDNE)

Salah satu bentuk pengalihan isu yang paling sering ditemui dalam dunia kerja maupun politik adalah mengalihkan kritik profesional ke ranah pribadi. Saat seseorang dikritik karena hasil kerjanya yang kurang maksimal atau tidak mencapai target, ia malah membalas dengan membahas kebaikan atau kesusahan hidupnya.

Misalnya, ketika ditanya alasan project tidak selesai tepat waktu, ia menjawab, "Kamu gak tahu seberapa keras perjuangan aku dan masalah keluarga yang lagi aku hadapi." Meski empati itu penting, masalah pribadi tersebut sebenarnya tidak menjawab akar permasalahan teknis yang sedang dievaluasi.

2. Mengalihkan pembicaraan tentang aturan dengan membela diri lewat niat baik

Illustrasi Diskusi (pexels.com/Edmond Dantès)

Pernah melihat seseorang yang melanggar aturan lalu membela diri dengan alasan niatnya baik? Ini juga merupakan salah satu bentuk kecacatan logika Red Herring. Seseorang sengaja membawa topik "niat baik" untuk menutupi kesalahan fakta dari pelanggaran yang dilakukan.

Contoh sederhananya saat seseorang ditegur karena menyebarkan informasi tanpa verifikasi di media sosial. Ia bisa saja membalas, "Aku kan cuma mau bantu mengingatkan orang-orang, niatku baik kok!" Padahal, fokus masalahnya terletak pada kebenaran informasi tersebut, bukan pada niat mulia di baliknya.

3. Menggunakan taktik "yang penting kan..." saat tertangkap membuat kesalahan

Ilustrasi diskusi (magnific.com/magnific)

Dalam percakapan sehari-hari, frasa "yang penting kan..." kerap menjadi senjata ampuh untuk membelokkan fokus utama perdebatan. Taktik ini biasanya digunakan untuk menggeser kesalahan berat menjadi sesuatu yang terkesan sepele atau bisa dimaklumi.

Skenario ini sering terjadi saat seseorang terbukti bersalah dalam memberikan data yang salah saat presentasi. Alih-alih mengakui kekeliruannya, ia justru berargumen, "Ya memang datanya kurang tepat, tapi yang penting kan penyampaian aku tadi bikin audiens paham dan senang." Pengalihan ini membuat kesalahan data seolah-olah bukan lagi hal penting.

4. Membandingkan masalah lokal dengan krisis global yang lebih parah

Ilustrasi diskusi (magnific.com/pch.vector)

Bentuk pengalihan ini dikenal juga sebagai taktik meminimalisasi masalah. Saat seseorang menyuarakan keluhan atau ketidakadilan yang sedang dialaminya, pihak lain justru membawa isu bencana atau krisis yang jauh lebih besar untuk membungkam keluhan tersebut.

Sebagai contoh, saat karyawan mengeluhkan fasilitas kantor yang tidak memadai, ada yang merespons dengan, "Masih mending punya pekerjaan, lihat tuh di luar sana banyak yang menganggur dan kelaparan!" Meskipun kondisi pengangguran adalah isu nyata, hal itu sama sekali tidak meniadakan fakta bahwa fasilitas kantor tersebut memang perlu diperbaiki.

5. Mengalihkan isu kebijakan umum ke topik tradisi atau budaya

ilustrasi seseorang tampak pasif dalam suasana diskusi kerja kelompok (pexels.com/Yan Krukau)

Di ruang publik, Red Herring sering dimanfaatkan untuk mempertahankan kebijakan yang kurang efektif dengan cara membenturkannya pada nilai tradisi. Saat efisiensi suatu sistem dikritik secara rasional, argumen dialihkan menjadi pembahasan mengenai identitas atau kebiasaan lama yang harus dihormati.

Ketika ada keluhan mengenai sistem birokrasi yang lambat dan berbelit-belit, jawaban yang muncul bisa berupa, "Dari dulu cara kerja kita memang sudah seperti ini dan menjadi bagian dari tradisi kita, kenapa baru sekarang diributkan?" Pembelaan ini sengaja mengaburkan fakta bahwa sistem tersebut memang butuh pembaruan.

Memahami kecacatan berpikir seperti Red Herring fallacy sangat berguna agar kita tidak mudah terkecoh oleh argumen yang manipulatif. Dengan tetap fokus pada topik utama dan tidak terdistraksi oleh pengalihan isu, kamu bisa melakukan diskusi yang lebih sehat, rasional, dan bermakna!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article